Geopolitik Kobalt: Tantangan Supply-Chain dan Peluang Indonesia

Rabu, 12 November 2025 - 15:23 WIB
loading...
A A A
Hal ini tak terlepas dari disahkannya undang-undang seperti COBALT Act of 2022 yang mengamanatkan pemerintah Amerika Serikat untuk membangun kemandirian pemurnian kobalt dan mengurangi ketergantungan atas China yang bisa menjadi kerentanan geopolitik jangka panjang.

Uni Eropa juga melakukan hal yang sama, melalui European Critical Raw Materials Act (CRMA) menetapkan target 2030 mengurangi ketergantungan impor bahan baku baru, sekaligus memperkuat rantai pasok internal Uni Eropa. Bahkan Uni Eropa bersama Amerika Serikat dan sekutunya seperti Kanada, Australia dan Jepang membentuk apa yang disebut “Minerals Security Partnership (MSP)”.

Regulasi ini memberi insentif bagi investor untuk membangun tambang dan pemurnian di negara sekutu mereka, termasuk kemudahan perizinan dan pembiayaan. Aliansi ini difokuskan untuk mendanai proyek ekstraksi dan pemrosesan kobalt di luar China, sebagai upaya mendiversifikasi sumber pasokan dan pengolahan (midstream) yang tengah dalam genggaman dominasi China.

Indonesia, merupakan produsen kobalt kedua terbesar di dunia setelah Kongo. Per 2024, produksi kobalt Indonesia ditaksir mencapai 28.000 metrik ton atau naik dari 19.000 metrik ton pada 2023, menurut data United States Geological Survey (USGS).

Namun jenis kobalt di Indonesia pada umumnya bukan bijih kobalt murni, melainkan kobalt by-product nikel laterit yang dihasilkan dari smelter High Pressure Acid Leach (HPAL) untuk nikel laterit menghasilkan Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) yang mengandung nikel dan kobalt. Masalahnya, hampir seluruh proyek HPAL (High Pressure Acid Leach) di Indonesia dibangun dan dibiayai perusahaan China, sehingga rantai pasoknya tetap terhubung dengan industri pemurnian kobalt di China.

Saat ini Indonesia baru mencapai tahap intermediate (MHP), bukan refining penuh menjadi kobalt sulfat atau logam kobalt. Hanya segelintir perusahaan Indonesia yang mulai memproduksi kobalt sulfat dalam jumlah kecil untuk bahan baterai EV.

Tantangan terbesar yang perlu diatasi Indonesia agar bisa menjadi pemasok kobalt dunia yakni kemampuan smelter Indonesia untuk memproses kobalt menjadi produk turunan seperti kobalt sulfat hingga kobalt oksida. Terutama untuk memenuhi permintaan kobalt dari negara-negara Barat dan sekutunya yang ingin melakukan diversifikasi rantai pasok.

Di sinilah kesempatan Indonesia untuk membangun negosiasi yang lebih maju, terutama bukan hanya sekadar mendapatkan foreign direct investment melainkan bagaimana terjadi transfer teknologi sehingga berdampak bagi ekonomi Indonesia dalam jangka panjang.

Namun apapun itu, pekerjaan rumah terbesar Indonesia adalah membasmi praktik pereburuan rente yang membuat ekonomi Indonesia berbiaya tinggi dan seringkali menjadikan investasi asing yang masuk hanya menguntungkan segelintir orang dengan menyalahgunakan kekuasaan yang dimilikinya. Artinya, investasi asing di Indonesia tidak menghasilkan trickle down effect akibat praktik perburuan rente (rent-seeking) yang menahan manfaat ekonomi agar berhenti di kalangan elite saja.
(poe)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
TNI di Kejaksaan: Antara...
TNI di Kejaksaan: Antara Persepsi Backing, Kepastian Hukum, dan Konsolidasi Negara
Meraih Hak Pemajakan...
Meraih Hak Pemajakan Indonesia melalui Implementasi PPh Digital Asing yang Sederhana
Membaca Arah Baru Fleksibilitas...
Membaca Arah Baru Fleksibilitas Fiskal Indonesia
Indonesia Menggugat:...
Indonesia Menggugat: Perlawanan Dokter Tifa dalam Sidang Kasus Dugaan Ijazah Palsu Joko Widodo
Membaca Penguatan Kelompok...
Membaca Penguatan Kelompok Rentan dalam Revisi UU HAM
NU, Antara Tradisi Pesantren,...
NU, Antara Tradisi Pesantren, Profesionalisme Organisasi, dan Kemandirian Ekonomi
Apa Sih Sebenarnya Logam...
Apa Sih Sebenarnya Logam Tanah Jarang? Sering Disebut Minyak Baru
Rahasia Industri Logam...
Rahasia Industri Logam Tanah Jarang China Dibongkar Ilmuwan, AS-Jepang Pegang Kunci Mineral Langka!
Transaksi Olein di JFX...
Transaksi Olein di JFX Naik Tembus Rp7,3 Triliun, Timah Ikut Menguat
Rekomendasi
Trump Ungkap 1.000 Rudal...
Trump Ungkap 1.000 Rudal Diarahkan ke Iran Jika Dia Dibunuh
Terowongan Arah Utara...
Terowongan Arah Utara MRT Jakarta Bundaran HI-Kota Rampung Digali, Tembus hingga Kedalaman 28 Meter
Iran Ungkap Kelompok...
Iran Ungkap Kelompok Garis Keras yang Sesat Tembaki Kapal untuk Rusak Negosiasi dengan AS
Berita Terkini
Breaking News! Febrie...
Breaking News! Febrie Adriansyah Jadi Tersangka Korupsi dan TPPU
Harta Kekayaan Rudi...
Harta Kekayaan Rudi Margono Plt Jampidsus Pengganti Febrie Adriansyah Capai Rp7,2 Miliar, Ini Rinciannya
Tambahan Upah Pungut...
'Tambahan Upah Pungut Kae Ono Tho' Jadi Bahasa Kode Bupati Etik Suryani Peras Pegawai BPKAD
Profil Rudi Margono...
Profil Rudi Margono yang Ditunjuk Jadi Plt Jampidsus Gantikan Febrie Adriansyah
Febrie Adriansyah Mundur,...
Febrie Adriansyah Mundur, Jaksa Agung Tunjuk Rudi Margono Jadi Plt Jampidsus
Polisi Berpeluang Periksa...
Polisi Berpeluang Periksa Febrie Adriansyah terkait Dugaan Korupsi Batu Bara hingga Asabri
Infografis
20 Universitas Terbaik...
20 Universitas Terbaik di Indonesia Versi QS WUR 2027
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved