Ahli Kriminologi di MKD: Video Joget-joget Anggota DPR Sengaja Dibuat untuk Ciptakan Perasaan Ketidakadilan
Senin, 03 November 2025 - 20:59 WIB
loading...
Ahli Kriminologi Adrianus Meliala. Foto/Tangkapan layar
A
A
A
JAKARTA - Sidang etik Mahkamah Kehormatan Dewan ( MKD ) terkait lima anggota DPR yang dinonaktifkan sejak Agustus 2025 turut menghadirkan Ahli Kriminologi Adrianus Meliala. Dalam kesempatan itu, dia melihat penggalan video joget-joget anggota DPR saat Sidang Tahunan MPR pada 15 Agustus 2025 sengaja diedarkan di media sosial untuk menciptakan emosi masyarakat.
Terlebih, narasi yang dibuat dalam video viral tersebut mengenai ketidakadilan. “Video-video yang beredar memang sengaja dibuat untuk menciptakan dan memperkuat perasaan ketidakadilan ini," kata Adrianus, Kompleks Parlemen, Jakarta, Senin (3/11/2025).
Dia menilai ada beragam respons dari masyarakat usai melihat penggalan-penggalan dengan narasi negatif itu beredar di media sosial. Antara lain, ada yang hanya berhenti pada perasaan dan ada yang melampiaskannya dengan cara lain.
Baca juga: Koordinator Orkestra Beberkan Kronologi Eko Patrio hingga Uya Kuya Joget di Sidang Tahunan MPR
"Tetapi ada juga yang melanjutkannya ke dalam tindakan kerusuhan atau penjarahan," tuturnya.
Dirinya tidak menampik jika penggalan-pengalan video yang terkesan provokatif itu berhasil menciptakan rasa ketidakadilan yang kuat terhadap masyarakat. Hal itu juga yang pada akhirnya menjadi dasar masyarakat melakukan demonstrasi besar-besaran di sejumlah titik di Tanah Air, khususnya Jakarta.
“Namun kondisi ini membutuhkan pemicu atau triggering. Ajakan-ajakan seperti 'kumpul di sini', 'bakar Monas', atau 'serang Mabes Polri' itulah yang saya sebut sebagai trigger atau faktor pencetus,” ujar Adrianus.
Lebih lanjut dia mengatakan kediaman sejumlah anggota DPR sudah ditargetkan menjadi titik penjarahan pada Agustus 2025. Dirinya tak melihat adanya aksi spontan dalam penjarahan tersebut.
“Untuk perbuatan seperti penjarahan dan kerusuhan yang terjadi pada bulan Agustus itu, ia masuk dalam kategori targeted dan selected looting. Dalam hal ini, perbuatan tersebut tidak pernah menjadi suatu hal yang bersifat spontan," pungkasnya.
Terlebih, narasi yang dibuat dalam video viral tersebut mengenai ketidakadilan. “Video-video yang beredar memang sengaja dibuat untuk menciptakan dan memperkuat perasaan ketidakadilan ini," kata Adrianus, Kompleks Parlemen, Jakarta, Senin (3/11/2025).
Dia menilai ada beragam respons dari masyarakat usai melihat penggalan-penggalan dengan narasi negatif itu beredar di media sosial. Antara lain, ada yang hanya berhenti pada perasaan dan ada yang melampiaskannya dengan cara lain.
Baca juga: Koordinator Orkestra Beberkan Kronologi Eko Patrio hingga Uya Kuya Joget di Sidang Tahunan MPR
"Tetapi ada juga yang melanjutkannya ke dalam tindakan kerusuhan atau penjarahan," tuturnya.
Dirinya tidak menampik jika penggalan-pengalan video yang terkesan provokatif itu berhasil menciptakan rasa ketidakadilan yang kuat terhadap masyarakat. Hal itu juga yang pada akhirnya menjadi dasar masyarakat melakukan demonstrasi besar-besaran di sejumlah titik di Tanah Air, khususnya Jakarta.
“Namun kondisi ini membutuhkan pemicu atau triggering. Ajakan-ajakan seperti 'kumpul di sini', 'bakar Monas', atau 'serang Mabes Polri' itulah yang saya sebut sebagai trigger atau faktor pencetus,” ujar Adrianus.
Lebih lanjut dia mengatakan kediaman sejumlah anggota DPR sudah ditargetkan menjadi titik penjarahan pada Agustus 2025. Dirinya tak melihat adanya aksi spontan dalam penjarahan tersebut.
“Untuk perbuatan seperti penjarahan dan kerusuhan yang terjadi pada bulan Agustus itu, ia masuk dalam kategori targeted dan selected looting. Dalam hal ini, perbuatan tersebut tidak pernah menjadi suatu hal yang bersifat spontan," pungkasnya.
(rca)
Lihat Juga :