Mengimajinasikan Indonesia

Sabtu, 25 Oktober 2025 - 10:47 WIB
loading...
Mengimajinasikan Indonesia
Agus Taufiq, Politisi Muda dan Inisiator @KebijakanKita. Foto/Istimewa
A A A
Agus Taufiq
Politisi Muda dan Inisiator @KebijakanKita

SISTEM demokrasi yang telah kita sepakati menjadi kendaraan menuju kesejahteraan, sebagaimana cita-cita kemerdekaan, ternyata masih jauh dari harapan. Partai politik tumbuh subur, namun belum mampu menyerap kegelisahan masyarakat.

Partai politik hari ini kekurangan gagasan dan narasi, miskin imajinasi tentang Indonesia impian yang ingin diciptakan. Elite di politik fokus membahas pembagian kue anggaran dan proyek untuk jadi bancakan.

Tiap lima tahunan akan berebut nomor urut berapa, dapil mana, dan sibuk menghitung berapa biaya politiknya. Seringkali partai politik hanya dijadikan oleh elite sebagai kendaraan untuk mencapai tangga kekuasaan.

Edukasi politik kepada masyarakat tentang gagasan apa yang mau dibawa, nilai apa yang diperjuangkan, narasi tentang Indonesia seperti apa yang mau dicapai bersama rasanya jauh dari bahasan para elite bersama masyarakat.

Kebanyakan tak mengakar, atau mengakar tapi sifatnya transaksional. Untuk itulah, kita butuh banyak orang muda yang mau terjun untuk membenahi fungsi partai politik yang macet dan aus tersebut.

Mengapa harus orang muda? Karena Soekarno terbaik adalah Soekarno muda. Saat ia menggagas Algemeene Studie Club, sebuah organisasi belajar mahasiswa yang dikemudian hari berubah menjadi Partai Nasional Indonesia (PNI).

Mendapat simpati rakyat karena mewakili kegelisahan masyarakat, PNI justru dicap sebagai partai terlarang. Belanda menangkap Soekarno dan menjebloskannya ke Penjara Banceuy untuk diadili di Gedung Landraad dengan tuduhan makar.

Di gedung inilah Soekarno muda dengan gagah perkasa membacakan pledoi fenomenal berjudul "Indonesia Menggugat". Dari pledoi ini nama Soekarno justru mendunia, meski membuatnya harus mendekam di Penjara Sukamiskin.

Kelak karena pengaruhnya semakin besar, Soekarno dibuang ke Ende, Flores. Tapi justru disanalah Soekarno muda mendapatkan ide cemerlang tentang dasar negara: Pancasila. Mengapa harus orang muda? Karena Soeharto terbaik adalah Soeharto muda.

Saat ia menstabilkan kondisi sosial politik dan keamanan ditengah krisis, lalu membangkitkan Indonesia dari keterpurukan ekonomi di masa orde lama, mencapai swasembada pangan, sembako yang terjangkau, nilai tukar rupiah yang kuat, pembangunan infrastruktur yang masif, hingga program transmigrasi untuk pemerataan pembangunan yang me jadi legacy kepemimpinan Soeharto.

Tak seperti saat muda, di masa tuanya, banyak para pemimpin bangsa yang seringkali mulai kehilangan kendali atas dirinya dan keputusan politiknya. Ada yang ingin menjadikan diri sebagai presiden seumur hidup, melindungi bisnis keluarga, maupun menjaga kekuasaannya dengan segala cara.

Rekan seperjuangan yang berbeda pandangan disingkirkan, dijebloskan ke penjara, hingga diberi cap radikal dalam catatan sejarah. Demokrasi tercederai karena mulai masuknya kepentingan kelompok, politik dinasti, dan oligarki dari bisnis anak-anak pemimpin negeri yang tak lagi bisa dihindari.

Indonesia butuh banyak orang muda berkualitas untuk masuk ke politik. Kita rindu Indonesia diisi oleh pemuda berintegritas seperti Soekarno - Hatta - Tan Malaka - Sjahrir - Natsir muda, para pendiri bangsa yang masa mudanya dihabiskan untuk mendiskusikan bentuk Indonesia impian yang ingin diciptakan.

Muda bukan hanya tentang usia, tapi juga keberpihakan pada kebaruan dan kemajuan. Muda adalah tentang keberanian mendobrak cara-cara berdemokrasi berbiaya tinggi yang jadi hulunya praktik korupsi.

Jadi percuma usia muda, jika cara politiknya dengan gaya-gaya lama orang tua, transaksional, miskin inovasi, dan minim substansi. Kita rindu para pemimpin muda yang idealisme dan keputusan politiknya murni tanpa didasari kepentingan politik dinasti dan oligarki.

Kita bersiap menyambut bonus demografi 2030 dan Indonesia Emas 2045, tapi sudahkah orang muda diberikan kesempatan seluas-luasnya untuk mengimajinasikan narasi tentang Indonesia masa depan?

Hari ini, orang muda di partai politik hanya jadi asesoris, pemanis kampanye untuk menjadi vote getter. Sebatas perwajahan agar partai dianggap muda. Orang muda tak boleh lagi dibatasi hanya urusan mengelola media sosial, mendesain poster, atau menjadi event organizer (EO) di partai.

Sayang sekali jika substansi kebijakan politik partai hingga struktur ekonomi politik masih diatur oleh dewan pembina yang notabene masih "pemain lama". Orang muda harus kita dukung untuk menempati posisi-posisi strategis di partai politik maupun kebijakan publik, masuk pada pembahasan-pembahasan substansial yang butuh imajinasi, narasi, dan ide segar yang cemerlang.

Mari mulai adil dari dalam pikiran. Sistem meritokrasi harus kita ciptakan dalam politik, menilai setiap orang dari kompetensi dan kapabilitas, bukan lagi kemampuan finansial atau usia kesenioran dalam urut kacang politik maupun tangga kepemimpinan.

2029 nanti mayoritas pemilih adalah orang muda. Oleh karenanya, Indonesia butuh imajinasi orang-orang muda untuk melukis masa depan bangsa. Ini saatnya yang muda yang bersuara.

Ini waktunya orang-orang muda berkarya, tampil ke depan panggung utama, lalu berkata: ini saatnya kita mengimajinasikan Indonesia!
(rca)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Perang Iran Menjadi...
Perang Iran Menjadi Warisan Buruk Kebijakan Luar Negeri Amerika Serikat
Dirikan LBH, Jro Bima:...
Dirikan LBH, Jro Bima: Perindo Bali Harus Jadi Rumah Keadilan
Apakah Pengadilan Tengah...
Apakah Pengadilan Tengah Mengadili Metode Berpikir dr Tifa dan Roy Suryo?
Perubahan UU Pemilu:...
Perubahan UU Pemilu: Membangun Sistem Pemilu yang Demokratis, Berkeadilan, dan Berintegritas
Siapkan Relawan Tangguh...
Siapkan Relawan Tangguh Hadapi Bencana, Gus Muhaimin Resmikan Sigap Bangsa
Mantan Ketua KAMMI,...
Mantan Ketua KAMMI, BEM UI, hingga Korpus BEM SI Masuk Pengurus Gema Keadilan
Jelang Musda Partai...
Jelang Musda Partai Demokrat Aceh, Nurdiansyah Alasta Dapat Dukungan dari Mualem
Emak-emak Kian Banyak...
Emak-emak Kian Banyak Bergabung, DPD Partai Perindo Kota Palu Perkuat Struktur hingga Akar Rumput
Perkuat Struktur di...
Perkuat Struktur di NTT, Partai Perindo Tunjuk Eks Kepala BKPPD Ade Manafe Pimpin Kota Kupang
Rekomendasi
Piala Dunia 2026 Sukses...
Piala Dunia 2026 Sukses Digelar, Presiden FIFA Gianni Infantino Dapat Tawaran Jabatan dari Trump
Sinopsis Tobat Jatuh...
Sinopsis 'Tobat Jatuh Cinta' Eps 31: Bunda Latifah Terus Mendesak Mining Untuk Segera Mencari Jaka
My Chef In Crime, Serial...
My Chef In Crime, Serial Thriller Kriminal Kuliner Pertama di Indonesia yang Siap Hadir di VISION+
Berita Terkini
Yusril Tegaskan Abdul...
Yusril Tegaskan Abdul Karim Bukan Ulama dan Aktivis Kemanusiaan Gaza
Soal Peluang Periksa...
Soal Peluang Periksa Nanik S Deyang di Kasus MBG, Kejagung: Minggu Ini Belum Ada Jadwal
Yusril Berkunjung ke...
Yusril Berkunjung ke MUI Malam Ini, Jelaskan Penangkapan WNA Palestina Abdul Karim Raeq Miqdad
KPK Panggil 4 Tersangka...
KPK Panggil 4 Tersangka Kasus Suap Dana Hibah Jatim
Pakar Minta Polisi Objektif...
Pakar Minta Polisi Objektif Usut Dugaan Penghinaan Terhadap Jurnalis
Penanganan Dugaan Kasus...
Penanganan Dugaan Kasus Febrie Adriansyah Jadi Ujian Independensi Penegak Hukum
Infografis
Daftar Juara Liga Indonesia...
Daftar Juara Liga Indonesia dari Masa ke Masa: Persib Ukir Sejarah
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved