Transmisi Kebijakan

Senin, 13 Oktober 2025 - 05:55 WIB
loading...
A A A
Lebih jauh, keberlanjutan pertumbuhan ekonomi tidak hanya bergantung pada stimulus jangka pendek, tetapi juga pada keberlanjutan koordinasi kebijakan yang konsisten, transparan, dan berbasis data. Pemerintah perlu memastikan bahwa setiap kebijakan yang digulirkan memiliki landasan empiris yang kuat serta dievaluasi secara periodik untuk mengukur efektivitasnya.

Transparansi dalam proses pengambilan keputusan akan memperkuat kepercayaan publik dan dunia usaha, sementara konsistensi kebijakan menjadi sinyal positif bagi investor dan pelaku ekonomi. Di sisi lain, keseimbangan antara stabilitas sistem keuangan dan pertumbuhan sektor riil harus dijaga agar tidak terjadi distorsi, seperti kelebihan likuiditas tanpa aktivitas produktif atau ketimpangan dalam distribusi manfaat ekonomi.

Melalui pendekatan yang terintegrasi, berbasis bukti (evidence based), dan melibatkan seluruh pemangku kepentingan, manfaat dari kebijakan ekonomi dapat dirasakan secara inklusif oleh seluruh lapisan masyarakat dan mendukung terwujudnya pertumbuhan ekonomi yang berkeadilan serta berkelanjutan.

Denyut Ekonomi dan Likuiditas


Dalam analogi perekonomian sebagai tubuh manusia, kualitas “darah” (dana) sama pentingnya dengan kekuatan “jantung” (perbankan). Jantung yang kuat mencerminkan sistem keuangan yang stabil dan likuid, sedangkan kualitas darah menggambarkan efisiensi serta keterjangkauan dana yang mengalir ke sektor-sektor ekonomi.

Data menunjukkan bahwa kebijakan moneter dan fiskal saat ini berupaya menjaga keduanya tetap seimbang. Bank Indonesia, melalui Rapat Dewan Gubernur pada 19-20 Agustus 2025, menurunkan suku bunga acuan (BI-Rate) di level 5,00% untuk mendukung pertumbuhan ekonomi, sementara pemerintah menggulirkan injeksi likuiditas sebesar Rp200 triliun ke dalam sistem keuangan nasional.

Hingga 9 Oktober 2025, sekitar lebih dari 50% dana tersebut telah terserap, didukung oleh tingkat inflasi yang tetap terkendali di angka 2,65% (yoy). Kondisi ini menunjukkan bahwa upaya menjaga jantung tetap sehat dan darah tetap “jernih” – dalam arti dana yang likuid, terjangkau, dan tepat sasaran – telah berjalan relatif baik untuk memastikan aliran modal ke seluruh “organ” ekonomi.

Ironisnya, permasalahan muncul ketika “darah” ekonomi menjadi terlalu “kental”, yakni ketika biaya dana terlalu tinggi sehingga menghambat sirkulasi modal ke sektor riil. Data intermediasi keuangan menunjukkan pertumbuhan kredit perbankan sebesar 7,56% (yoy) pada Agustus 2025 – masih di bawah target nasional 8–11% – dengan Loan to Deposit Ratio (LDR) mencapai 86,05%.

Hal ini mengindikasikan bahwa meskipun likuiditas di sistem keuangan relatif kuat akibat injeksi pemerintah, transmisi ke sektor produktif belum berjalan optimal. Sektor UMKM, yang paling sensitif terhadap suku bunga, menjadi pihak yang paling terdampak ketika biaya pembiayaan terlalu mahal. Pada konteks ini, kualitas dana menjadi faktor penentu.

Artinya, jika biaya modal tidak kompetitif atau distribusi dana terhambat oleh kebijakan dan prosedur, maka “darah” ekonomi tidak akan sampai ke “organ-organ” vital yang membutuhkan. Oleh sebab itu, diperlukan bauran kebijakan yang mendorong efisiensi biaya dana dan memperluas akses pembiayaan bagi sektor produktif agar efek pengganda ekonomi dapat tercapai.

Sebaliknya, ketika dana berbiaya rendah tersedia dan jantung sistem keuangan berfungsi optimal, denyut ekonomi akan berdenyut kuat dan stabil. Pada triwulan II-2025, pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia mencapai 5,12% (yoy), sementara pembiayaan UMKM dari lembaga keuangan – baik bank maupun non-bank – telah mencapai Rp1.876,3 triliun pada akhir 2024, atau sekitar 8,48% dari PDB nasional.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Pakar: Penempatan Dana...
Pakar: Penempatan Dana SAL Sesuai UU APBN 2026, Kebijakan Purbaya Dinilai Tepat
Mengelola Anggaran Daerah...
Mengelola Anggaran Daerah di Era Efisiensi
Membaca Arah Baru Fleksibilitas...
Membaca Arah Baru Fleksibilitas Fiskal Indonesia
Membangun dari Daerah,...
Membangun dari Daerah, Menguatkan Indonesia
Qodari: Stimulus Tarif...
Qodari: Stimulus Tarif Transportasi Dikucurkan saat Libur Sekolah dan Nataru
Jaksa Agung Serahkan...
Jaksa Agung Serahkan Hasil Pemulihan Aset Rp1,22 Triliun ke Purbaya
Dulu Dijajah Belanda,...
Dulu Dijajah Belanda, Kini Digerus Impor? Mantan Menkeu Ungkap Jurus Jitu Cetak Ekonomi Tumbuh 8%
Ekonomi China Kuartal...
Ekonomi China Kuartal II Tumbuh 4,3%, Terendah dalam 3 Tahun Terakhir
Purbaya Tarik Dana SAL,...
Purbaya Tarik Dana SAL, BTN Siap Kembalikan Rp38 Triliun
Rekomendasi
Doa agar Dijauhkan dari...
Doa agar Dijauhkan dari Perceraian dan Konflik Rumah Tangga
Final Piala Dunia 2026:...
Final Piala Dunia 2026: Ribuan Suporter Terjebak Antrean
Polda Metro Patroli...
Polda Metro Patroli ke Lokasi-lokasi Nobar Final Argentina vs Spanyol, Warga Diminta Tetap Sportif
Berita Terkini
Pemerintah Bangun Ekosistem...
Pemerintah Bangun Ekosistem Pendidikan Berkualitas lewat Revitalisasi Sekolah
Seskab Teddy dan Menteri...
Seskab Teddy dan Menteri Ara Sirait Bahas Target Bedah 400.000 Rumah
APH Didorong Usut Tuntas...
APH Didorong Usut Tuntas Kasus Dugaan Korupsi Eks Jampidsus
Sekjen PKS: Pemilih...
Sekjen PKS: Pemilih Muda Jadi Kunci, Kader Harus Siap Menangkan Pemilu 2029
Viral Dua WNI Diduga...
Viral Dua WNI Diduga Disekap di Myanmar, Polri Lakukan Koordinasi
DPR Minta KPK Transparan...
DPR Minta KPK Transparan Usut Kasus Dugaan Gratifikasi Menhut
Infografis
Cilia Flores, Istri...
Cilia Flores, Istri Maduro yang Disebut Otak di Balik Kebijakan Venezuela
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved