Prabowo Subianto dan Asa Nobel Perdamaian
Jum'at, 10 Oktober 2025 - 13:29 WIB
loading...
A
A
A
Fidelis Magalhaes mencatat, sejak kematian tokoh kunci Fretilin itu dimaklumatkan secara resmi pada akhir Desember 1978, hingga kini keberadaan jenazahnya masih dinyatakan hilang. Pemerintah Timor Leste telah melakukan berbagai upaya penyelidikan sejak 2002, guna menemukan jenazah pahlawan kemerdekaan mereka itu, tapi upaya tersebut tidak membuahkan hasil.
Pada 2014, lantaran mengalami kebuntuan dalam kerja sama formal antarpemerintah, Perdana Menteri Xanana Gusmao mendesak organisasi veteran Indonesia di bawah pimpinan Letjen TNI (Purn) Agum Gumelar untuk memulai pencarian jenazah Lobato. Gumelar menyetujui dan langsung memimpin tim pencari fakta. Namun, kunjungan tim pencari fakta ke Timor-Leste di akhir tahun yang sama, juga tidak membuahkan hasil.
Meskipun Gumelar telah meyakinkan Menteri Luar Negeri Aurelio Guterres, bahwa upaya lebih lanjut akan terus dilakukan dengan mengajukan permohonan resmi pada pemerintah Indonesia, tapi hingga tahun 2018, pemerintah Indonesia tidak menanggapi permohonan tersebut.
Masih dalam pengamatan Fidelis Magalhaes, menurut mantan Ketua Dewan Menteri (2020-2023) di era pemerintahan Taur Matan Ruak itu, meskipun sebagian besar masyarakat Timor Leste mendukung rekonsiliasi dengan Indonesia, isu-isu penting yang belum kunjung terselesaikan itu dapat menghambat proses penyembuhan trauma akibat prahara berdarah selama 23 tahun.
Ketidakpastian atas dua persoalan krusial di atas, diklaim dapat mendistorsi optimisme atas masa depan hubungan kedua negara. Isu-isu besar tersebut dipandang masih relevan, sebagaimana tercermin dalam tema-tema yang dieksplorasi oleh karya seniman Timor Leste, Maria Madeira, yang dipamerkan di Venice Biennale ke-60 pada 2024, di mana fokus utamanya adalah trauma, harapan, dan penyembuhan.
Dari sisi political will Prabowo Subianto, sebagai orang nomor satu di republik ini, tercatat baru satu kali pertemuan resmi antara pemerintah Indonesia dengan pemerintah Timor Leste, yakni forum 30 menit dengan delegasi yang dipimpin oleh Perdana Menteri Xanana Gusmao pada 21 Oktober 2024. Itupun tak lebih dari formalitas ucapan selamat atas pelantikan Prabowo Subianto sebagai kepala negara.
Sementara yang ditunggu-tunggu oleh rakyat kedua pihak adalah sikap Prabowo secara personal, sebagai negarawan dengan pengalaman militer yang dimilikinya selama era Integrasi Timor Timur. Dalam artikelnya, Fidelis Magalhaes mengutip rekaman wawancara Prabowo Subianto di salah satu kanal Podcast pada Februari 2024, sebagaimana juga pada Buku 2 - Kepemimpinan Militer Catatan Pengalaman Letjen Purn Prabowo Subianto, khususnya ketika ia menyingkap sisi humanisnya sebagai anggota korps Baret Merah kepada seorang gerilyawan Falintil, sayap militer Fretilin yang tertangkap dalam keadaan terluka.
Dalam bahasa Tetun, Prabowo Subianto menanyakan apakah gerilyawan itu ingin hidup atau mati Hakarak mate, ka hakarak moris ? (Kamu mau hidup atau kamu mau mati ?) Lalu, gerilyawan tersebut menjawab; Mate bele, moris bele (Terserah Anda! Hidup boleh, mati pun rela). Prabowo menghormati lawan tangguh itu dan memerintahkan helikopter membawanya ke rumah sakit Dili untuk diobati.
Kita tidak tahu apa yang terjadi setelah itu, tapi mengenang kembali peristiwa itu tentulah sebuah penghormatan pada musuhnya di masa silam, dan rakyat Timor Leste mengharapkan jiwa besar semacam itu kembali muncul dalam sikap politik Prabowo Subianto setelah ia menjadi presiden.
Pada 2014, lantaran mengalami kebuntuan dalam kerja sama formal antarpemerintah, Perdana Menteri Xanana Gusmao mendesak organisasi veteran Indonesia di bawah pimpinan Letjen TNI (Purn) Agum Gumelar untuk memulai pencarian jenazah Lobato. Gumelar menyetujui dan langsung memimpin tim pencari fakta. Namun, kunjungan tim pencari fakta ke Timor-Leste di akhir tahun yang sama, juga tidak membuahkan hasil.
Meskipun Gumelar telah meyakinkan Menteri Luar Negeri Aurelio Guterres, bahwa upaya lebih lanjut akan terus dilakukan dengan mengajukan permohonan resmi pada pemerintah Indonesia, tapi hingga tahun 2018, pemerintah Indonesia tidak menanggapi permohonan tersebut.
Masih dalam pengamatan Fidelis Magalhaes, menurut mantan Ketua Dewan Menteri (2020-2023) di era pemerintahan Taur Matan Ruak itu, meskipun sebagian besar masyarakat Timor Leste mendukung rekonsiliasi dengan Indonesia, isu-isu penting yang belum kunjung terselesaikan itu dapat menghambat proses penyembuhan trauma akibat prahara berdarah selama 23 tahun.
Ketidakpastian atas dua persoalan krusial di atas, diklaim dapat mendistorsi optimisme atas masa depan hubungan kedua negara. Isu-isu besar tersebut dipandang masih relevan, sebagaimana tercermin dalam tema-tema yang dieksplorasi oleh karya seniman Timor Leste, Maria Madeira, yang dipamerkan di Venice Biennale ke-60 pada 2024, di mana fokus utamanya adalah trauma, harapan, dan penyembuhan.
Dari sisi political will Prabowo Subianto, sebagai orang nomor satu di republik ini, tercatat baru satu kali pertemuan resmi antara pemerintah Indonesia dengan pemerintah Timor Leste, yakni forum 30 menit dengan delegasi yang dipimpin oleh Perdana Menteri Xanana Gusmao pada 21 Oktober 2024. Itupun tak lebih dari formalitas ucapan selamat atas pelantikan Prabowo Subianto sebagai kepala negara.
Sementara yang ditunggu-tunggu oleh rakyat kedua pihak adalah sikap Prabowo secara personal, sebagai negarawan dengan pengalaman militer yang dimilikinya selama era Integrasi Timor Timur. Dalam artikelnya, Fidelis Magalhaes mengutip rekaman wawancara Prabowo Subianto di salah satu kanal Podcast pada Februari 2024, sebagaimana juga pada Buku 2 - Kepemimpinan Militer Catatan Pengalaman Letjen Purn Prabowo Subianto, khususnya ketika ia menyingkap sisi humanisnya sebagai anggota korps Baret Merah kepada seorang gerilyawan Falintil, sayap militer Fretilin yang tertangkap dalam keadaan terluka.
Dalam bahasa Tetun, Prabowo Subianto menanyakan apakah gerilyawan itu ingin hidup atau mati Hakarak mate, ka hakarak moris ? (Kamu mau hidup atau kamu mau mati ?) Lalu, gerilyawan tersebut menjawab; Mate bele, moris bele (Terserah Anda! Hidup boleh, mati pun rela). Prabowo menghormati lawan tangguh itu dan memerintahkan helikopter membawanya ke rumah sakit Dili untuk diobati.
Kita tidak tahu apa yang terjadi setelah itu, tapi mengenang kembali peristiwa itu tentulah sebuah penghormatan pada musuhnya di masa silam, dan rakyat Timor Leste mengharapkan jiwa besar semacam itu kembali muncul dalam sikap politik Prabowo Subianto setelah ia menjadi presiden.
Lihat Juga :