Jejak Sejarah di Balik Pakta Saudi-Pakistan
Selasa, 30 September 2025 - 08:15 WIB
loading...
A
A
A
Refleksi historis juga mengajarkan bahwa pakta pertahanan jarang berdiri netral. Ketika dua negara merapat, ada pihak lain yang merasa terancam. India tentu membaca perjanjian ini dengan penuh kewaspadaan, mengingat rivalitas panjang dengan Pakistan. Iran pun bisa menafsirnya sebagai langkah tambahan Saudi untuk mengepungnya, setelah Riyadh sebelumnya sempat membuka dialog pasca-kesepakatan yang dimediasi Beijing pada 2023.
Bahkan Amerika Serikat dan Tiongkok akan berhitung ulang. Washington mungkin melihat perjanjian ini sebagai sinyal berkurangnya eksklusivitas pengaruhnya, sementara Beijing akan menimbang apakah aliansi baru ini bisa mengganggu proyek Belt and Road yang melibatkan Pakistan.
Sementara itu, publik global perlu bertanya: apakah aliansi ini akan benar-benar membawa stabilitas, atau justru mempercepat lahirnya blok-blok baru yang saling mencurigai? Pengalaman Mesir–Soviet menunjukkan bahwa perubahan orientasi cepat bisa menimbulkan instabilitas, sementara Turki–NATO mengingatkan bahwa aliansi jangka panjang bisa mengekang otonomi strategis. Saudi–Pakistan kini berada di persimpangan jalan antara keduanya.
Pada akhirnya, kesepakatan pertahanan ini bukanlah jawaban final atas dilema keamanan kedua negara. Ia lebih menyerupai cermin dari kegelisahan global yang lebih besar: dunia sedang bergerak dari unipolaritas pasca-1990 menuju multipolaritas yang tak menentu. Dalam dunia yang terfragmentasi ini, aliansi baru mudah terbentuk, tetapi juga mudah retak. Jika sejarah menjadi panduan, maka pakta Saudi–Pakistan harus dibaca dengan kewaspadaan: ia mungkin menawarkan jaminan sesaat, namun belum tentu menjanjikan stabilitas jangka panjang.
Aliansi selalu lahir dari rasa takut, tetapi hanya akan bertahan jika bisa mengubah ketakutan itu menjadi kepercayaan bersama. Sejauh ini, Saudi dan Pakistan masih lebih banyak berbagi kekhawatiran ketimbang visi bersama. Waktu yang akan menguji, apakah perjanjian ini akan tercatat sebagai tonggak strategis seperti Turki–NATO, atau hanya epilog sementara seperti Mesir–Soviet.
Bahkan Amerika Serikat dan Tiongkok akan berhitung ulang. Washington mungkin melihat perjanjian ini sebagai sinyal berkurangnya eksklusivitas pengaruhnya, sementara Beijing akan menimbang apakah aliansi baru ini bisa mengganggu proyek Belt and Road yang melibatkan Pakistan.
Sementara itu, publik global perlu bertanya: apakah aliansi ini akan benar-benar membawa stabilitas, atau justru mempercepat lahirnya blok-blok baru yang saling mencurigai? Pengalaman Mesir–Soviet menunjukkan bahwa perubahan orientasi cepat bisa menimbulkan instabilitas, sementara Turki–NATO mengingatkan bahwa aliansi jangka panjang bisa mengekang otonomi strategis. Saudi–Pakistan kini berada di persimpangan jalan antara keduanya.
Pada akhirnya, kesepakatan pertahanan ini bukanlah jawaban final atas dilema keamanan kedua negara. Ia lebih menyerupai cermin dari kegelisahan global yang lebih besar: dunia sedang bergerak dari unipolaritas pasca-1990 menuju multipolaritas yang tak menentu. Dalam dunia yang terfragmentasi ini, aliansi baru mudah terbentuk, tetapi juga mudah retak. Jika sejarah menjadi panduan, maka pakta Saudi–Pakistan harus dibaca dengan kewaspadaan: ia mungkin menawarkan jaminan sesaat, namun belum tentu menjanjikan stabilitas jangka panjang.
Aliansi selalu lahir dari rasa takut, tetapi hanya akan bertahan jika bisa mengubah ketakutan itu menjadi kepercayaan bersama. Sejauh ini, Saudi dan Pakistan masih lebih banyak berbagi kekhawatiran ketimbang visi bersama. Waktu yang akan menguji, apakah perjanjian ini akan tercatat sebagai tonggak strategis seperti Turki–NATO, atau hanya epilog sementara seperti Mesir–Soviet.
(rca)
Lihat Juga :