Jejak Sejarah di Balik Pakta Saudi-Pakistan

Selasa, 30 September 2025 - 08:15 WIB
loading...
A A A
Sejarah lain yang tak kalah relevan ialah keterlibatan Turki dalam NATO pasca Perang Dunia II. Bergabungnya Ankara pada 1952 menjadi bukti bagaimana negara di perbatasan antara Timur dan Barat berusaha mengamankan diri lewat payung militer trans-Atlantik. Turki mendapatkan jaminan pertahanan kolektif, namun dengan harga mahal: keharusan menyesuaikan diri pada agenda keamanan Barat.

Sampai kini, hubungan Turki–NATO kerap dilanda ketegangan, misalnya ketika Ankara membeli sistem rudal S-400 dari Rusia atau menempuh kebijakan mandiri di Suriah. Kisah ini menunjukkan dilema abadi aliansi: perlindungan datang bersamaan dengan keterbatasan kedaulatan strategis.

Jika ditarik ke Saudi–Pakistan, persoalannya menjadi jelas. Riyadh memang memperoleh akses terhadap salah satu kekuatan militer konvensional terbesar di dunia Muslim, bahkan yang secara de facto memiliki kemampuan nuklir. Pakistan pun mendapat jaminan energi dan sokongan finansial yang selama ini hanya bisa ditawarkan Saudi.

Tetapi di balik itu ada konsekuensi: Pakistan bisa terjebak lebih jauh dalam rivalitas sektarian Saudi dengan Iran, sementara Saudi bisa ditarik masuk ke dalam konflik internal Asia Selatan, termasuk ketegangan India–Pakistan yang selalu rapuh. Dengan kata lain, keuntungan jangka pendek bisa menjadi liabilitas jangka panjang.

Di sinilah lensa teori hubungan internasional membantu kita membaca. Realisme mengajarkan bahwa negara bertindak demi kelangsungan hidupnya dalam sistem internasional yang anarkis. Pakta Saudi–Pakistan sepenuhnya dapat dipahami sebagai langkah realistis dua negara yang ingin memperbesar daya tawar mereka. Namun konstruktivisme mengingatkan kita bahwa identitas, sejarah, dan ideologi ikut membentuk arah aliansi.

Saudi sering mengklaim diri sebagai penjaga dua kota suci, sementara Pakistan kerap menempatkan dirinya sebagai benteng dunia Islam bersenjata nuklir. Aliansi mereka bukan hanya soal kepentingan material, melainkan juga narasi simbolik tentang solidaritas Islam, meskipun sejarah membuktikan solidaritas semacam itu sering rapuh ketika diuji oleh kepentingan nasional.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Asta Cita dan Reposisi...
Asta Cita dan Reposisi Peran Negara versus Pasar
Prabowo Dinilai Mampu...
Prabowo Dinilai Mampu Jaga Keamanan RI Hadapi Dinamika Geopolitik Global
Kasus dr Tifa dan Roy...
Kasus dr Tifa dan Roy Suryo P-21, Akankah Polemik Ijazah Berakhir di Pengadilan?
BI Rate Naik dan Rupiah...
BI Rate Naik dan Rupiah (tetap) Melemah
Bahaya Romantisasi Oligarki...
Bahaya Romantisasi Oligarki Putih
Ketika Bumi Berhenti...
Ketika Bumi Berhenti Bersabar
9 Tempat Paling Suci...
9 Tempat Paling Suci di Dunia, Nomor 5 Paling Populer bagi Orang Indonesia
Mendagri Pakistan Sampaikan...
Mendagri Pakistan Sampaikan Surat Khusus untuk Mojtaba Khamenei
Permukiman Prasejarah...
Permukiman Prasejarah Ditemukan di Gurun Yordania
Rekomendasi
196 Tahun Keris Kanjeng...
196 Tahun Keris Kanjeng Kiai Nogo Siluman, Pusaka Pangeran Diponegoro Simbol Kepemimpinan Tanah Jawa
Gunung Dukono Kembali...
Gunung Dukono Kembali Erupsi Pagi Ini, Luncurkan Abu Vulkanik 1.000 Meter
687 Orang Laporkan Dugaan...
687 Orang Laporkan Dugaan Penipuan Umrah Hanania Travel ke Polda Metro Jaya
Berita Terkini
Prabowo Bertolak ke...
Prabowo Bertolak ke Lampung, Resmikan RSUD dan Buka Munas HIPMI
Masa Penahanan Gus Yaqut...
Masa Penahanan Gus Yaqut Diperpanjang selama 30 Hari
Prabowo Minta Menkes...
Prabowo Minta Menkes Perluas CKG-Perkuat Penanggulangan TBC
Konflik PPP Banten Dinilai...
Konflik PPP Banten Dinilai Lebih dari Sekadar Pergantian Ketua
4 Oknum Prajurit TNI...
4 Oknum Prajurit TNI Terdakwa Penyiraman Air Keras ke Andrie Yunus Hari Ini Divonis
3 Guru Besar Kedokteran...
3 Guru Besar Kedokteran Bakal Jadi Saksi Ahli Dokter Tifa
Infografis
Ranking FIFA Terbaru:...
Ranking FIFA Terbaru: Argentina Gusur Spanyol di Puncak, Indonesia Meroket 4 Tingkat
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved