Film, Agama, dan Negara: Pertarungan Makna di Ruang Gelap Bioskop

Senin, 15 September 2025 - 15:24 WIB
loading...
Film, Agama, dan Negara:...
Gilang Ramadan, Alumni Center for Religious and Cross-Cultural Studies (CRCS) Universitas Gadjah Mada (UGM). Foto/Dok. SindoNews
A A A
Gilang Ramadan
Alumni Center for Religious and Cross-Cultural Studies (CRCS) Universitas Gadjah Mada (UGM)

FILM bertema agama tidak dapat direduksi hanya sebagai medium hiburan semata. Ia, dalam konteks tertentu, berfungsi sebagai arena sosial di mana nilai keagamaan, norma moral, dan persepsi publik bertemu, saling berinteraksi, bahkan saling menguji.

Dalam kerangka ini, film agama dapat dipandang sebagai teks budaya yang membuka ruang bagi negosiasi makna sekaligus menjadi refleksi atas dinamika sosial-keagamaan di masyarakat. Ketika sebuah film mengangkat judul atau latar yang menyinggung keyakinan mapan, respons masyarakat muncul dalam bentuk yang beragam.

Sebagian audiens menekankan dimensi moral-religius, sebagian lain menilainya melalui parameter estetika, dan tidak sedikit yang memaknainya sebagai provokasi ataupun pemicu refleksi kritis. Pola respons yang berlapis ini adalah bagian dari sederet bukti bahwa film agama bekerja bukan hanya pada ranah representasi.

Lebih jauh, meminjam istilah Birgit Meyer, film juga bekerja pada ranah performatif (Meyer, 2015). Ia memengaruhi cara publik menafsirkan agama, moral, dan nilai sosial. Film bertema agama, dengan demikian menempati posisi strategis terutama dalam studi tentang agama dan masyarakat.

Ia menghadirkan ruang negosiasi di mana norma-norma keagamaan tidak hanya direproduksi, tetapi juga dipertanyakan dan ditransformasikan. Pertemuan antara narasi sinematik dan pengalaman kolektif penonton memperlihatkan bahwa film berperan sebagai ritual sekular, yakni medium yang memungkinkan publik menegosiasikan keyakinan, menafsirkan ulang moralitas, serta merespons dinamika sosial-keagamaan kontemporer secara terpisah.

Performativitas, Kolektivitas, dan Respons Agama
Berkaitan dengan ritual sekular tersebut, Catherine Bell, dalam karya seminalnya Ritual Theory, Ritual Practice (1992), mengemukakan bahwa ritualisasi adalah strategi sosial yang terstruktur dan bermakna. Bell menyebut “ritualization as a culturally strategic way of acting,” yang berarti bahwa praktik ritual tidak hanya merupakan tindakan simbolis, tetapi juga merupakan cara strategis dalam bertindak dalam konteks sosial tertentu (Bell, 1992, p. 8).

Ritual, bagi Bell, bukanlah aktivitas yang terisolasi, melainkan bagian dari aktivitas sosial yang lebih luas. Ia berfungsi untuk membentuk dan menegosiasikan makna tentang sesuatu dalam masyarakat.

Dalam konteks film bertema agama, ritualisasi dapat diamati melalui cara film membentuk pengalaman kolektif penonton. Melalui struktur naratif, simbolisme, dan karakterisasi, Bell menyebut bahwa film bertema agama seringkali berfungsi lebih dari sekadar penyampai cerita. Di Indonesia, film seperti Munkar, yang mengambil latar pesantren dengan nuansa horor, dan Kiblat, yang mengangkat konflik spiritual dan otoritas moral, adalah beberapa contoh tentang bagaimana narasi sinematik dapat menghadirkan ketegangan moral dan religius.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Smartwatch AI, Kala...
Smartwatch AI, Kala Algoritma Mulai Membentuk Cara Kita Menilai Diri
Masalah Perampasan Aset...
Masalah Perampasan Aset Tindak Pidana
Mahalnya Harga Stabilitas
Mahalnya Harga Stabilitas
Perang Iran Menjadi...
Perang Iran Menjadi Warisan Buruk Kebijakan Luar Negeri Amerika Serikat
Apakah Pengadilan Tengah...
Apakah Pengadilan Tengah Mengadili Metode Berpikir dr Tifa dan Roy Suryo?
Perubahan UU Pemilu:...
Perubahan UU Pemilu: Membangun Sistem Pemilu yang Demokratis, Berkeadilan, dan Berintegritas
The Odyssey Guncang...
The Odyssey Guncang Box Office Global, Raup Rp4,3 Triliun di Pekan Perdana
Film Jalan Pulang Angkat...
Film Jalan Pulang Angkat Makna Kebaya sebagai Warisan Budaya
Athpal Paturusi Garap...
Athpal Paturusi Garap Film Penendang Bebas Berlatar Kisah Nyata Dunia Sepakbola Indonesia
Rekomendasi
Kisah Londo Ireng, Antek...
Kisah Londo Ireng, Antek Kompeni Musuh Pejuang Kemerdekaan yang Kini Viral usai Disebut Prabowo
Guru Besar Ilmu Hukum...
Guru Besar Ilmu Hukum Tolak Ide Dedi Mulyadi soal Sayembara Tangkap Begal
Olah TKP Kematian Sutrimo,...
Olah TKP Kematian Sutrimo, Polisi Cari Saksi dan CCTV
Berita Terkini
Kaesang Tantang Puan...
Kaesang Tantang Puan di Pileg 2029, Ganjar Yakin Jateng Tetap Kandang Banteng
Kader Muda PAN Apresiasi...
Kader Muda PAN Apresiasi Komitmen Prabowo Terhadap Pembangunan Berkelanjutan
Kaesang Tantang Puan...
Kaesang Tantang Puan di Pileg 2029, Pertarungan Terbuka Megawati vs Jokowi
Kongres Umat Islam Indonesia...
Kongres Umat Islam Indonesia VIII Apresiasi Kinerja Mentan Amran Atasi Persoalan Pangan
Kasus Dugaan TPPU Eks...
Kasus Dugaan TPPU Eks Jampidsus Harus Diusut hingga ke Akar-akarnya
Ada Dua Alat Bukti,...
Ada Dua Alat Bukti, Pelaku Korupsi Bisa Ditetapkan Tersangka Meski Belum Diperiksa
Infografis
10 Negara dengan Harga...
10 Negara dengan Harga Bensin Termurah di Dunia, Libya Cuma Rp427 per Liter
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved