Renungan Demokrasi, Mengurai Distingsi Negeri
Jum'at, 12 September 2025 - 15:54 WIB
loading...
A
A
A
Kerusuhan di Jakarta menjadi bukti nyata bagaimana disinformasi dan narasi provokatif menyebar secara eksponensial melalui media digital, menciptakan "kebenaran alternatif" yang sama sekali tidak berlandaskan realitas.
Komunikasi pemerintah yang parsial dan reaktif, yang gagal menjelaskan kebijakan secara komprehensif, semakin memperparah kekosongan informasi, sehingga opini publik lebih banyak dibentuk oleh sentimen daripada fakta.
Di tengah situasi ini, fenomena spiral of silence ikut menjelaskan mengapa sebagian besar masyarakat memilih untuk diam. Teori dari Elisabeth Noelle-Neumann (1970-an) ini berpendapat bahwa individu memiliki ketakutan yang mendalam akan isolasi sosial dan cenderung membungkam diri jika merasa pandangannya minoritas.
Dalam kasus kerusuhan, intimidasi dan polarisasi membuat banyak individu yang sebenarnya mendukung aspirasi damai memilih untuk tidak bersuara, karena takut dicap sebagai bagian dari kelompok yang anarkis atau provokator.
Keheningan ini membuat perdebatan yang sehat sulit terjadi, karena hanya suara-suara yang paling vokal yang mendominasi ruang publik.
Pada titik inilah, narasi silent majority ikut berperan. Istilah yang dipopulerkan oleh Presiden Amerika Serikat, Richard Nixon (1969), sering digunakan untuk mengklaim dukungan dari sekelompok besar masyarakat yang diam.
Dalam konteks Indonesia, istilah ini kerap digunakan untuk melegitimasi kebijakan dan meredam kritik. Namun, keheningan ini bisa jadi merupakan konsekuensi langsung dari spiral of silence, dimana rasa takut membuat masyarakat tidak bersuara.
Politisi, pada akhirnya, mengambil keuntungan dari diamnya massa, menafsirkannya sebagai dukungan, alih-alih sebagai cerminan dari masalah komunikasi yang mendalam.
Membangun dan Menyegarkan Jembatan Dialog
Untuk membangun kembali jembatan dialog, diperlukan sebuah peta jalan yang konkret, menuntut kolaborasi dari semua pihak.
Komunikasi pemerintah yang parsial dan reaktif, yang gagal menjelaskan kebijakan secara komprehensif, semakin memperparah kekosongan informasi, sehingga opini publik lebih banyak dibentuk oleh sentimen daripada fakta.
Di tengah situasi ini, fenomena spiral of silence ikut menjelaskan mengapa sebagian besar masyarakat memilih untuk diam. Teori dari Elisabeth Noelle-Neumann (1970-an) ini berpendapat bahwa individu memiliki ketakutan yang mendalam akan isolasi sosial dan cenderung membungkam diri jika merasa pandangannya minoritas.
Dalam kasus kerusuhan, intimidasi dan polarisasi membuat banyak individu yang sebenarnya mendukung aspirasi damai memilih untuk tidak bersuara, karena takut dicap sebagai bagian dari kelompok yang anarkis atau provokator.
Keheningan ini membuat perdebatan yang sehat sulit terjadi, karena hanya suara-suara yang paling vokal yang mendominasi ruang publik.
Pada titik inilah, narasi silent majority ikut berperan. Istilah yang dipopulerkan oleh Presiden Amerika Serikat, Richard Nixon (1969), sering digunakan untuk mengklaim dukungan dari sekelompok besar masyarakat yang diam.
Dalam konteks Indonesia, istilah ini kerap digunakan untuk melegitimasi kebijakan dan meredam kritik. Namun, keheningan ini bisa jadi merupakan konsekuensi langsung dari spiral of silence, dimana rasa takut membuat masyarakat tidak bersuara.
Politisi, pada akhirnya, mengambil keuntungan dari diamnya massa, menafsirkannya sebagai dukungan, alih-alih sebagai cerminan dari masalah komunikasi yang mendalam.
Membangun dan Menyegarkan Jembatan Dialog
Untuk membangun kembali jembatan dialog, diperlukan sebuah peta jalan yang konkret, menuntut kolaborasi dari semua pihak.
Lihat Juga :