Terlalu Cepat, Chief...(Mengenang Arif Budimanta)
Minggu, 07 September 2025 - 18:53 WIB
loading...
A
A
A
Frase “ekonom pro-rakyat” sering dilemparkan begitu saja kepadanya. Sebagian melafalkannya dengan agak geli atau sinis. Tapi itu memang seperti kompas yang telah disucikan oleh keyakinannya. Dari Kantor Staf Khusus Presiden RI bidang Ekonomi, Wakil Ketua Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN), hingga menjadi Komisaris di Bank Mandiri dan Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia, kompas itu yang selalu menuntunnya.
Bagi seorang yang berlatar belakang pendidikan gemilang dari IPB dan UI, punya sertifikasi dari Harvard, kecerdasannya bukanlah alat untuk memamerkan kompleksitas. Chief AB menjadikan itu seperti pisau bedah untuk mengiris ketidakadilan, mencari celah-celah kesejahteraan sosial yang bisa diperlebar—dan menjadi sebuah bentuk jihad intelektual.
Ketika memilih terjun ke gelanggang politik, sebagai Anggota DPR, AB bukanlah wujuduhu ka'adamihi. Dia memberi arti besar di sana. Baginya, politik adalah dakwah bil-hal—dakwah melalui tindakan nyata. Ia adalah politisi yang dedikasinya dibangun di atas pijakan data yang solid dan empati yang pekat, yang bersumber dari khazanah keislamannya yang mendalam.
AB merengkuh patriotisme melalui lensa kekaguman pada Bung Karno—sebuah kombinasi yang membuatnya tak hanya memegang teguh nilai keislaman, tetapi juga menginternalisasi api perjuangan Soekarno tentang kemandirian bangsa. Setiap kebijakan ekonomi yang diperjuangkannya selalu diwarnai ghirah yang mengakar pada kepentingan wong cilik dan kedaulatan nasional. Dia Direktur Eksekutif Megawati Institute yang kerap bersuara tentang kemandirian bangsa dan kesejahteraan rakyat .
Di balik itu semua, ada seorang Arif Budimanta yang manusiawi. Seorang bos yang tidak menjadikan ruang kerjanya sebagai singgasana, melainkan sebagai ruang diskusi yang setara, seorang ayah yang baik, dan suami yang setia. Dia acap mengomel, sesekali marah atau pundung, tapi tetap menjadi senior yang tidak segan menurunkan ilmunya, bukan untuk menegaskan superioritas, melainkan untuk mengangkat orang lain—sebuah sikap tawadhu.
Tapi dia juga pengikut yang baik dari kepemimpinan yang solid, biasa membantu sepenuh hati, teman yang bisa diajak berdebat keras tentang teori dan kebijakan ekonomi, tentang situasi politik, tepat tidaknya sebuah kebijakan, dan tertawa lepas saat membicarakan hal-hal lain di saat lain.
Bagi seorang yang berlatar belakang pendidikan gemilang dari IPB dan UI, punya sertifikasi dari Harvard, kecerdasannya bukanlah alat untuk memamerkan kompleksitas. Chief AB menjadikan itu seperti pisau bedah untuk mengiris ketidakadilan, mencari celah-celah kesejahteraan sosial yang bisa diperlebar—dan menjadi sebuah bentuk jihad intelektual.
Ketika memilih terjun ke gelanggang politik, sebagai Anggota DPR, AB bukanlah wujuduhu ka'adamihi. Dia memberi arti besar di sana. Baginya, politik adalah dakwah bil-hal—dakwah melalui tindakan nyata. Ia adalah politisi yang dedikasinya dibangun di atas pijakan data yang solid dan empati yang pekat, yang bersumber dari khazanah keislamannya yang mendalam.
AB merengkuh patriotisme melalui lensa kekaguman pada Bung Karno—sebuah kombinasi yang membuatnya tak hanya memegang teguh nilai keislaman, tetapi juga menginternalisasi api perjuangan Soekarno tentang kemandirian bangsa. Setiap kebijakan ekonomi yang diperjuangkannya selalu diwarnai ghirah yang mengakar pada kepentingan wong cilik dan kedaulatan nasional. Dia Direktur Eksekutif Megawati Institute yang kerap bersuara tentang kemandirian bangsa dan kesejahteraan rakyat .
Di balik itu semua, ada seorang Arif Budimanta yang manusiawi. Seorang bos yang tidak menjadikan ruang kerjanya sebagai singgasana, melainkan sebagai ruang diskusi yang setara, seorang ayah yang baik, dan suami yang setia. Dia acap mengomel, sesekali marah atau pundung, tapi tetap menjadi senior yang tidak segan menurunkan ilmunya, bukan untuk menegaskan superioritas, melainkan untuk mengangkat orang lain—sebuah sikap tawadhu.
Tapi dia juga pengikut yang baik dari kepemimpinan yang solid, biasa membantu sepenuh hati, teman yang bisa diajak berdebat keras tentang teori dan kebijakan ekonomi, tentang situasi politik, tepat tidaknya sebuah kebijakan, dan tertawa lepas saat membicarakan hal-hal lain di saat lain.