CHANDI 2025, Hashim Dorong Pemerintah Serius Berinvestasi Penguatan Budaya
Jum'at, 05 September 2025 - 11:28 WIB
loading...
A
A
A
Lebih lanjut, Wim mengatakan bahwa Indonesia menjadi superpower dalam hal keragaman budaya dengan banyaknya etnis hingga sejumlah tradisi. “Indonesia sebagai negara adidaya yang kaya akan budaya ini memiliki banyak etnis serta tradisinya masing-masing dalam perlintasan budaya sehingga Indonesia menjadi tempat khusus di mata dunia,” jelasnya.
Wim menilai warisan budaya bukan hanya sebagai peti harta karun yang disimpan dan dijauhkan dari siapapun. Warisan budaya layaknya taman yang dipelihara dan dijaga bersama untuk bisa terus tumbuh dan berkembang menyambut masa depan bersama agar makna dari hal tersebut tidak hilang begitu saja.
Sementara itu, He Lu, Associate Professor of School of Arts of Nanfang College Guangzhou, dalam materinya, menegaskan pentingnya angklung sebagai warisan yang mampu menjadi jembatan persahabatan antarbangsa. Angklung, menurutnya, bukan hanya sekadar instrumen tradisional Jawa Barat. Angklung juga sebuah tradisi musik yang kaya, berkembang di Asia Tenggara, serta mengandung sejarah, kebijaksanaan lokal, dan nilai-nilai universal.
Berkat upaya pemerintah dan akademisi Indonesia, angklung kini telah mendunia. “Sebagai warisan budaya dan instrumen yang mudah dipelajari, angklung memiliki potensi besar untuk membuat seluruh dunia menjadi saling terhubung,” jelas He Lu.
Filosofi angklung, di mana setiap orang memegang satu tabung nada, tetapi harus berkolaborasi agar menghasilkan harmoni, mencerminkan semangat kebersamaan, kerja sama, dan saling memiliki.
Dalam kesempatan yang sama, Direktur Ubud Writers & Readers Festival, Janet DeNeefe, menyampaikan kisah perjalanan panjang festival sastra terbesar di Asia Tenggara ini. Ia menuturkan bahwa Ubud Writers & Readers Festival lahir dari sebuah misi pemulihan pascatragedi bom Bali tahun 2002.
Pertama kali digelar pada 2004, festival ini hadir untuk menghidupkan kembali pariwisata dan perekonomian Bali melalui kekuatan budaya. Seiring perkembangan, festival ini tidak hanya menjadi ruang temu penulis dan pembaca di Ubud, tetapi juga meluas ke berbagai wilayah Indonesia.
Wim menilai warisan budaya bukan hanya sebagai peti harta karun yang disimpan dan dijauhkan dari siapapun. Warisan budaya layaknya taman yang dipelihara dan dijaga bersama untuk bisa terus tumbuh dan berkembang menyambut masa depan bersama agar makna dari hal tersebut tidak hilang begitu saja.
Sementara itu, He Lu, Associate Professor of School of Arts of Nanfang College Guangzhou, dalam materinya, menegaskan pentingnya angklung sebagai warisan yang mampu menjadi jembatan persahabatan antarbangsa. Angklung, menurutnya, bukan hanya sekadar instrumen tradisional Jawa Barat. Angklung juga sebuah tradisi musik yang kaya, berkembang di Asia Tenggara, serta mengandung sejarah, kebijaksanaan lokal, dan nilai-nilai universal.
Berkat upaya pemerintah dan akademisi Indonesia, angklung kini telah mendunia. “Sebagai warisan budaya dan instrumen yang mudah dipelajari, angklung memiliki potensi besar untuk membuat seluruh dunia menjadi saling terhubung,” jelas He Lu.
Filosofi angklung, di mana setiap orang memegang satu tabung nada, tetapi harus berkolaborasi agar menghasilkan harmoni, mencerminkan semangat kebersamaan, kerja sama, dan saling memiliki.
Dalam kesempatan yang sama, Direktur Ubud Writers & Readers Festival, Janet DeNeefe, menyampaikan kisah perjalanan panjang festival sastra terbesar di Asia Tenggara ini. Ia menuturkan bahwa Ubud Writers & Readers Festival lahir dari sebuah misi pemulihan pascatragedi bom Bali tahun 2002.
Pertama kali digelar pada 2004, festival ini hadir untuk menghidupkan kembali pariwisata dan perekonomian Bali melalui kekuatan budaya. Seiring perkembangan, festival ini tidak hanya menjadi ruang temu penulis dan pembaca di Ubud, tetapi juga meluas ke berbagai wilayah Indonesia.
Lihat Juga :