CHANDI 2025, Hashim Dorong Pemerintah Serius Berinvestasi Penguatan Budaya
Jum'at, 05 September 2025 - 11:28 WIB
loading...
A
A
A
Inisiatif ini bertujuan memperkenalkan kekayaan literasi Nusantara di luar Bali dengan melibatkan penulis muda dan komunitas lokal. Sejak 2008, Ubud Writers & Readers Festival juga menghadirkan Program Penulis Baru untuk memberi panggung bagi generasi muda yang sebelumnya kurang terdengar di antara penulis-penulis besar.
Panelis keempat adalah Conservator of the Southeast Asian collections at Musée Guimet, Prancis, Evelise Bruneau. Dalam paparannya, Evelise memandang museum yang saat ini berkembang sebagai tempat artistik untuk menarik generasi masa kini.
Dalam pandangan Evelise, museum yang dikenal sebagai tempat sejarah ini bisa diubah menjadi bentuk artistik tanpa mengesampingkan nilai historisnya. “Singkatnya saat ini saya ingin museum tak hanya menjadi tempat melestarikan benda berwujud, karena saya merasa semua itu bermakna dan ingin menyampaikan kepada semua generasi mendatang,” ujarnya.
Evelise lebih lanjut menjelaskan bahwa warisan budaya bisa menjadi agenda tersendiri dalam pembangunan berkelanjutan. Namun, Evelise memperingatkan akan adanya ancaman warisan budaya terhadap sejumlah isu seperti perdagangan gelap hingga radikalisme yang mungkin bisa mengganggu jalannya budaya lintas negara. Baca juga: Sejarah Angklung, Alat Musik Tradisional Indonesia yang Jadi Warisan Dunia
”Kita harus menjaga pikiran dan hati kita untuk tetap terbuka terhadap dialog, karena dialog akan memunculkan kreativitas di antara seniman, industri, dan sebagainya. Dialog memungkinkan munculnya pemahaman serta rasa hormat,” tutup Evelin.
Sesi pleno ini dihadiri Menteri Kebudayaan Fadli Zon; Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha; para Menteri dan Wakil Menteri negara sahabat; para Duta Besar negara sahabat, para perwakilan organisasi internasional, para ketua delegasi, dan tamu undangan lainnya.
Diskusi pleno ini menegaskan kembali bahwa warisan budaya bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan sumber inspirasi yang dapat memperkuat identitas sekaligus mendorong lahirnya inovasi. Melalui dialog lintas bangsa, lintas disiplin, dan lintas generasi, CHANDI 2025 menjadi ruang strategis untuk merajut pemahaman, kerja sama, dan solidaritas global dalam menjaga kebudayaan.
Panelis keempat adalah Conservator of the Southeast Asian collections at Musée Guimet, Prancis, Evelise Bruneau. Dalam paparannya, Evelise memandang museum yang saat ini berkembang sebagai tempat artistik untuk menarik generasi masa kini.
Dalam pandangan Evelise, museum yang dikenal sebagai tempat sejarah ini bisa diubah menjadi bentuk artistik tanpa mengesampingkan nilai historisnya. “Singkatnya saat ini saya ingin museum tak hanya menjadi tempat melestarikan benda berwujud, karena saya merasa semua itu bermakna dan ingin menyampaikan kepada semua generasi mendatang,” ujarnya.
Evelise lebih lanjut menjelaskan bahwa warisan budaya bisa menjadi agenda tersendiri dalam pembangunan berkelanjutan. Namun, Evelise memperingatkan akan adanya ancaman warisan budaya terhadap sejumlah isu seperti perdagangan gelap hingga radikalisme yang mungkin bisa mengganggu jalannya budaya lintas negara. Baca juga: Sejarah Angklung, Alat Musik Tradisional Indonesia yang Jadi Warisan Dunia
”Kita harus menjaga pikiran dan hati kita untuk tetap terbuka terhadap dialog, karena dialog akan memunculkan kreativitas di antara seniman, industri, dan sebagainya. Dialog memungkinkan munculnya pemahaman serta rasa hormat,” tutup Evelin.
Sesi pleno ini dihadiri Menteri Kebudayaan Fadli Zon; Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha; para Menteri dan Wakil Menteri negara sahabat; para Duta Besar negara sahabat, para perwakilan organisasi internasional, para ketua delegasi, dan tamu undangan lainnya.
Diskusi pleno ini menegaskan kembali bahwa warisan budaya bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan sumber inspirasi yang dapat memperkuat identitas sekaligus mendorong lahirnya inovasi. Melalui dialog lintas bangsa, lintas disiplin, dan lintas generasi, CHANDI 2025 menjadi ruang strategis untuk merajut pemahaman, kerja sama, dan solidaritas global dalam menjaga kebudayaan.
(poe)
Lihat Juga :