CHANDI 2025, Hashim Dorong Pemerintah Serius Berinvestasi Penguatan Budaya

Jum'at, 05 September 2025 - 11:28 WIB
loading...
CHANDI 2025, Hashim...
Ketua Dewan Penyantun Museum dan Cagar Budaya, Hashim S Djojohadikusumo membuka sesi pleno bertajuk Culture for the Future: Heritage, Identity, and Innovation dalam CHANDI 2025 di Denpasar. Foto/Dok. Sindonews
A A A
DENPASAR - Hari ketiga perhelatan Culture, Heritage, Art, Narrative, Diplomacy, and Innovation (CHANDI) 2025 di Bali, forum internasional kebudayaan ini menghadirkan sesi pleno bertajuk Culture for the Future: Heritage, Identity, and Innovation. Sesi pleno ini menjadi ruang penting untuk merumuskan bagaimana warisan budaya dapat dikelola, dikembangkan, dan dihidupkan kembali sebagai bagian dari identitas serta motor penggerak inovasi di masa mendatang.

Pleno dibuka dengan pidato kunci (keynote speech) dari Ketua Dewan Penyantun Museum dan Cagar Budaya, Hashim S Djojohadikusumo . Dalam pidatonya, Hashim menyampaikan keprihatinannya terhadap tantangan besar yang dihadapi budaya Indonesia di tengah derasnya arus globalisasi, teknologi, dan media digital.

Hashim menekankan bahwa selama lebih dari satu dekade, ia terus memikirkan keterkaitan erat antara budaya, identitas, dan masa depan bangsa. “Indonesia adalah persimpangan peradaban dunia sejak ribuan tahun lalu. Namun, yang kita perlukan adalah keseimbangan sehat agar budaya asli kita tetap hidup dan dicintai,” katanya, Kamis (4/9/2025). Baca juga: Buka Konferensi Internasional CHANDI 2025, Fadli Zon: Budaya Alat Pemersatu

Hashim mendorong pemerintah melalui Kementerian Kebudayaan untuk berinvestasi secara serius dalam penguatan budaya nasional. Ia mengusulkan agar lembaga terkait, termasuk Danantara, mengalokasikan anggaran khusus untuk mendukung seniman dan kreator lokal, mulai dari animator, kartunis, dan konten kreator.

“Dukungan ini penting agar karya-karya kreatif Indonesia mampu bersaing dengan industri budaya global, sekaligus menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap warisan bangsanya sendiri,” ujarnya.

Setelah Hashim, pleno ini menghadirkan empat panelis, di antaranya Professor Contemporary History and Dean of Leiden-Delft-Erasmus Universities, Prof. Dr. Wim van den Doel; Associate Professor of School of Arts of Nanfang College Guangzhou, He Lu; Director of Ubud Writers & Readers Festival, Janet DeNeefe; dan Conservator of the Southeast Asian collections at Musée Guimet, Prancis, Evelise Bruneau.

Prof. Dr. Wim van den Doel dalam paparannya yang berjudul Rewriting the Past to Imagine the Future mengatakan, Indonesia memiliki warisan budaya yang kaya di mata dunia. Ia mengambil contoh bagaimana proses kembalinya patung Singosari ke Indonesia setelah disimpan di Leiden selama masa kolonial sepanjang hampir 200 tahun sejak 1978 dan kembali ke Indonesia pada 2023 lalu. Kembalinya Patung Singosari itu menjadi gambaran bahwa warisan budaya bisa menjadi tempat lintas antar negara serta antar budaya.

Lebih lanjut, Wim mengatakan bahwa Indonesia menjadi superpower dalam hal keragaman budaya dengan banyaknya etnis hingga sejumlah tradisi. “Indonesia sebagai negara adidaya yang kaya akan budaya ini memiliki banyak etnis serta tradisinya masing-masing dalam perlintasan budaya sehingga Indonesia menjadi tempat khusus di mata dunia,” jelasnya.

Wim menilai warisan budaya bukan hanya sebagai peti harta karun yang disimpan dan dijauhkan dari siapapun. Warisan budaya layaknya taman yang dipelihara dan dijaga bersama untuk bisa terus tumbuh dan berkembang menyambut masa depan bersama agar makna dari hal tersebut tidak hilang begitu saja.

Sementara itu, He Lu, Associate Professor of School of Arts of Nanfang College Guangzhou, dalam materinya, menegaskan pentingnya angklung sebagai warisan yang mampu menjadi jembatan persahabatan antarbangsa. Angklung, menurutnya, bukan hanya sekadar instrumen tradisional Jawa Barat. Angklung juga sebuah tradisi musik yang kaya, berkembang di Asia Tenggara, serta mengandung sejarah, kebijaksanaan lokal, dan nilai-nilai universal.

Berkat upaya pemerintah dan akademisi Indonesia, angklung kini telah mendunia. “Sebagai warisan budaya dan instrumen yang mudah dipelajari, angklung memiliki potensi besar untuk membuat seluruh dunia menjadi saling terhubung,” jelas He Lu.

Filosofi angklung, di mana setiap orang memegang satu tabung nada, tetapi harus berkolaborasi agar menghasilkan harmoni, mencerminkan semangat kebersamaan, kerja sama, dan saling memiliki.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Ubud Writers & Readers Festival, Janet DeNeefe, menyampaikan kisah perjalanan panjang festival sastra terbesar di Asia Tenggara ini. Ia menuturkan bahwa Ubud Writers & Readers Festival lahir dari sebuah misi pemulihan pascatragedi bom Bali tahun 2002.

Pertama kali digelar pada 2004, festival ini hadir untuk menghidupkan kembali pariwisata dan perekonomian Bali melalui kekuatan budaya. Seiring perkembangan, festival ini tidak hanya menjadi ruang temu penulis dan pembaca di Ubud, tetapi juga meluas ke berbagai wilayah Indonesia.

Inisiatif ini bertujuan memperkenalkan kekayaan literasi Nusantara di luar Bali dengan melibatkan penulis muda dan komunitas lokal. Sejak 2008, Ubud Writers & Readers Festival juga menghadirkan Program Penulis Baru untuk memberi panggung bagi generasi muda yang sebelumnya kurang terdengar di antara penulis-penulis besar.

Panelis keempat adalah Conservator of the Southeast Asian collections at Musée Guimet, Prancis, Evelise Bruneau. Dalam paparannya, Evelise memandang museum yang saat ini berkembang sebagai tempat artistik untuk menarik generasi masa kini.

Dalam pandangan Evelise, museum yang dikenal sebagai tempat sejarah ini bisa diubah menjadi bentuk artistik tanpa mengesampingkan nilai historisnya. “Singkatnya saat ini saya ingin museum tak hanya menjadi tempat melestarikan benda berwujud, karena saya merasa semua itu bermakna dan ingin menyampaikan kepada semua generasi mendatang,” ujarnya.

Evelise lebih lanjut menjelaskan bahwa warisan budaya bisa menjadi agenda tersendiri dalam pembangunan berkelanjutan. Namun, Evelise memperingatkan akan adanya ancaman warisan budaya terhadap sejumlah isu seperti perdagangan gelap hingga radikalisme yang mungkin bisa mengganggu jalannya budaya lintas negara. Baca juga: Sejarah Angklung, Alat Musik Tradisional Indonesia yang Jadi Warisan Dunia

”Kita harus menjaga pikiran dan hati kita untuk tetap terbuka terhadap dialog, karena dialog akan memunculkan kreativitas di antara seniman, industri, dan sebagainya. Dialog memungkinkan munculnya pemahaman serta rasa hormat,” tutup Evelin.

Sesi pleno ini dihadiri Menteri Kebudayaan Fadli Zon; Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha; para Menteri dan Wakil Menteri negara sahabat; para Duta Besar negara sahabat, para perwakilan organisasi internasional, para ketua delegasi, dan tamu undangan lainnya.

Diskusi pleno ini menegaskan kembali bahwa warisan budaya bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan sumber inspirasi yang dapat memperkuat identitas sekaligus mendorong lahirnya inovasi. Melalui dialog lintas bangsa, lintas disiplin, dan lintas generasi, CHANDI 2025 menjadi ruang strategis untuk merajut pemahaman, kerja sama, dan solidaritas global dalam menjaga kebudayaan.
(poe)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Tampil di Wanderlust...
Tampil di Wanderlust Festival Mongolia, Talenta Seni Indonesia Perluas Jejaring Global
Cegah Kades Terjerat...
Cegah Kades Terjerat Kasus Hukum, Kejagung Diminta Latih Pengelolaan Dana Desa
Hashim Ungkap Asal-usul...
Hashim Ungkap Asal-usul MBG: Digagas Prabowo Sejak 2006, Jauh Sebelum Partai Gerindra Ada
Jadi Ketum DPN Gapempi,...
Jadi Ketum DPN Gapempi, Minarni Panggabean Komitmen Wujudkan Indonesia Emas 2045
Hashim Ungkap Pesan...
Hashim Ungkap Pesan Prabowo: Tanah BUMN Milik Rakyat, Tak Boleh Dijual dengan Harga Pasar
Budaya Tempe Ditargetkan...
Budaya Tempe Ditargetkan Masuk Daftar Warisan Budaya Takbenda Dunia pada 2026
Desa Les Bali Sukses...
Desa Les Bali Sukses Padukan Wisata dan Pelestarian Alam lewat Program DSA
Parapuar 2026 Hadirkan...
Parapuar 2026 Hadirkan Senja, Budaya dan Musik di Labuan Bajo
Pendidikan Dinilai Kunci...
Pendidikan Dinilai Kunci Pelestarian Budaya, Yulius Aho Salurkan Beasiswa
Rekomendasi
9 Kota di Mana Matahari...
9 Kota di Mana Matahari Hampir Tidak Pernah Terbenam atau Terbit saat Musim Panas
Kenapa Hari Asyura Dijuluki...
Kenapa Hari Asyura Dijuluki Lebaran Anak Yatim? Begini Sejarahnya di Indonesia
Cerita El Rumi & Syifa...
Cerita El Rumi & Syifa Hadju Bulan Madu di Italia, Romantis hingga Penuh Kejutan
Berita Terkini
Kasus Dugaan Pemerasan...
Kasus Dugaan Pemerasan Izin Tinggal WNA, Dirjen Imigrasi Minta Buka Akses Seluas-luasnya untuk KPK
AHY: Oposisi Harus Konstruktif,...
AHY: Oposisi Harus Konstruktif, Tidak Boleh Memecah Belah Bangsa
Gugat Penetapan Capres...
Gugat Penetapan Capres 2014 dan 2019, Bonatua Bawa Novum Baru ke PTUN
Polisi Sebut Pelimpahan...
Polisi Sebut Pelimpahan Roy Suryo dan Tifa Sesuai Prosedur KUHAP
BPIP Umumkan 76 Calon...
BPIP Umumkan 76 Calon Paskibraka 2026 Tingkat Pusat, Ini Nama-namanya
Bonatua Kecewa PTUN...
Bonatua Kecewa PTUN Jakarta Putuskan Sidang Gugatan Penetapan Capres Jokowi Jadi E-Court
Infografis
Gubernur DKI Dorong...
Gubernur DKI Dorong Pasar di Jakarta Lakukan Digitalisasi
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved