Ferry Irwandi: Jangan Lupa Banyak Korban Sebelum Bicara Dalang Kerusuhan

Kamis, 04 September 2025 - 08:47 WIB
loading...
Ferry Irwandi: Jangan...
CEO Malaka Project Ferry Irwandi mengingatkan publik untuk tidak terjebak hanya pada perdebatan mengenai siapa dalang di balik kerusuhan melainkan terlebih dulu fokus pada korban jiwa maupun luka. Foto: IG Ferry Irwandi
A A A
JAKARTA - CEO Malaka Project Ferry Irwandi mengingatkan publik untuk tidak terjebak hanya pada perdebatan mengenai siapa dalang di balik kerusuhan melainkan terlebih dulu fokus pada korban jiwa maupun luka. Diketahui, aksi demo pada akhir Agustus 2025 berujung ricuh di berbagai daerah.

“Orang bisa membicarakan banyak nama soal dalang. Tapi, hari berganti hari orang sudah tidak ingat lagi siapa yang meninggal, orang tidak ingat lagi luka apa yang ditimbulkan, dan bahkan mungkin tidak peduli lagi dengan keluarga-keluarga yang bersedih,” ujar aktivis media sosial ini dalam dialog Rakyat Bersuara di iNews, Selasa (2/9/2025)..

Baca juga: Ferry Irwandi Ungkap Pemicu Aksi Demo Ricuh: Tindakan Aparat dan Perilaku Massa

Menurut dia, tragedi yang merenggut 9 korban jiwa tidak boleh dianggap sepele. “Sembilan itu sangat banyak, sangat-sangat banyak. Dan semakin bertambah jumlahnya, maka semakin mudah untuk dilupakan karena sudah jadi statistik. Padahal, ini nyawa lukanya seumur hidup,” katanya.

Ferry menuturkan sebelum teori mengenai dalang dibicarakan lebih jauh, ada hal yang jauh lebih mendasar. “Saya cuma mau mengingatkan bapak-ibu semua, ada yang mati. Ada yang mati. Dan lukanya tidak pernah hilang,” tuturnya.

Korban jiwa dalam peristiwa tersebut meninggal dunia karena dua faktor utama. “Mereka meninggal karena dua hal. Satu, aparat. Kedua, massa gelap,” katanya.

Dia menyatakan untuk mencari dalang kerusuhan sebenarnya dapat dilakukan dengan mudah jika aparat serius memanfaatkan teknologi analisis data dan jejak digital di media sosial.


Atas kericuhan tersebut, menurut Ferry, metode data analytics, scraping, hingga open source intelligence (OSINT) dapat menjadi pintu masuk untuk melacak sumber awal penyebaran isu yang memicu aksi massa anarkistis.

“Dalam hitungan menit kita bisa tahu dari mana isu 25 Agustus itu muncul, siapa yang menggunakan hashtag bubarkan DPR, afiliasi mereka apa, siapa yang mereka dukung, dan siapa yang mereka serang. Simpel kok,” ujarnya.

Dengan perangkat sederhana sekalipun, pola penyebaran isu bisa ditelusuri secara terbuka. “Kalau semua orang di ruangan ini mau cek sendiri hashtag itu di TikTok, Instagram atau Twitter/X pasti ketemu dalam waktu kurang dari 5 menit. Itu bukan hal yang sulit, bahkan anak-anak sekarang lebih pintar untuk mencarinya,” ungkapnya.

Meski begitu, Ferry mengingatkan agar hasil penelusuran tersebut diperlakukan sebagai bahan awal dalam proses investigasi, bukan kesimpulan final. “Bukan berarti akun-akun itu pasti pelakunya. Tapi mereka bisa jadi titik awal untuk diperiksa. Itu cara kerja intelijen seharusnya, bukan sekadar menyebut nama-nama besar tanpa dasar,” katanya.

Dia menuturkan teknologi algoritma bisa menjadi pedang bermata dua yakni berbahaya jika salah digunakan, namun sangat bermanfaat bila kapasitas penggunanya memadai.

“Kalau pemerintah memang mau mencari dalangnya, basisnya harus jelas, tidak sekadar asumsi atau kata-kata berbunga-bunga. Semua bisa dilihat di media sosial, siapa yang menggerakkan, siapa yang posting, itu semua terbuka,” ujar Ferry.

Kemajuan teknologi membuat pelacakan semacam itu jauh lebih mudah dibanding era sebelumnya. “Kalau ini dilakukan tahun 1998 mungkin sulit. Tapi di 2025 semuanya bisa langsung dilihat. It’s not rocket science, tidak perlu jadi Einstein untuk paham,” ucapnya.
(jon)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Denny JA Soroti Kerusuhan...
Denny JA Soroti Kerusuhan Agustus 2025 dalam Perspektif Kelas Rentan Digital
Opini Influencer yang...
Opini Influencer yang Tidak Kompeten Dinilai Berbahaya bagi Penegakan Hukum
Influencer Ferry Irwandi...
Influencer Ferry Irwandi Kritik Kejagung, Pakar Hukum: Ada Potensi Membuat Sesat Pikir
Pengamat: Narasi Chromebook...
Pengamat: Narasi Chromebook Ferry Irwandi Tak Objektif, Hukum Pidana Itu Fakta Sidang
TPF LN HAM Dalami Unsur...
TPF LN HAM Dalami Unsur Sistematis Kericuhan Unjuk Rasa Agustus 2025
Seskab Teddy Tepis Isu...
Seskab Teddy Tepis Isu Indonesia Akan Chaos: Narasi yang Keliru
4 Pemicu Kerusuhan di...
4 Pemicu Kerusuhan di Irlandia Utara, dari Agitator Sayap Kanan Picu hingga Warisan Sejarah
Kerusuhan Meluas di...
Kerusuhan Meluas di Irlandia Utara, Rumah dan Mobil Dibakar
Imigran Sudan Tikam...
Imigran Sudan Tikam Warga Lokal, Kerusuhan Pecah di Irlandia Utara
Rekomendasi
Sambut 5 Abad Jakarta,...
Sambut 5 Abad Jakarta, Cibis Park Satukan Jazz Modern dan Betawi dalam Panggung Budaya Urban
Timnas Amerika Serikat...
Timnas Amerika Serikat Dapat Jalur Relatif Mudah ke Semifinal Piala Dunia 2026
Perkuat Layanan Digital...
Perkuat Layanan Digital melalui Care+, LGI Hadirkan Fitur Wellness
Berita Terkini
Qodari: Haji 2026 Lancar,...
Qodari: Haji 2026 Lancar, Masa Tunggu Dipangkas dan Layanan Ditingkatkan
KPK Perpanjang Penahanan...
KPK Perpanjang Penahanan Eks Wamen Imipas Silmy Karim Cs selama 40 Hari
Prabowo Teken UU Polri,...
Prabowo Teken UU Polri, Pakar Optimistis Kepolisian Jadi Institusi yang Modern dan Presisi
6 Poin Pernyataan Roy...
6 Poin Pernyataan Roy Suryo dan Dokter Tifa setelah Penahanan Ditangguhkan
Tim Hukum Merah Putih:...
Tim Hukum Merah Putih: Tawaran RJ untuk Roy Suryo dan Dokter Tifa Bukan Ajakan Jokowi
Bukan Sekadar Insinyur,...
Bukan Sekadar Insinyur, Alumni ITS Didorong Kuasai Kepemimpinan dan Finansial
Infografis
7 Negara Tertua di Dunia,...
7 Negara Tertua di Dunia, Lahir sebelum Dunia Punya Peta
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved