Demonstrasi (Unjuk Rasa) Empatik
Minggu, 31 Agustus 2025 - 10:37 WIB
loading...
A
A
A
Hal ini muncul sebagai respons balik amarah massa karena timbulnya korban yang dianggap representasi masyarakat arus bawah warga biasa. Dalam gema-echo chamber, aksi demo yang viral di media sosial dan melalui pemberitaan televisi, makin mampu menerus-menyebar pesan, memobilisasi partisipasi dan menormalisasi aksi hingga mematik emosi massa.
Dalam perspektif teori ketampakan konflik, semakin konflik diproduksi dan direprosuksi oleh publik lewat media sosial dan media umum, maka semakin pula konflik tersebut meluas ke kalangan masyarakat luas. Untuk itu, sebenarnya penting mengutamakan penangganan aksi demontrasi dengan pendekatan cinta dan bukan dengan cara represif.
Kita harus mulai belajar untuk menjaga nilai kemanusiaan dan lingkungan guna perlindungan dan kebaikan bersama. Tentu saja, warga negara tetap harus memgingat prinsip kebaikan bersama dengan melanjutkan substansi aksi, untuk menyuarakan aspirasi dan harapan, mengingatkan penguasa dengan komunikasi demonstrasi empatik.
Mencermati beragam peristiwa aksi demonstrasi masif warga sebagian besar dipicu oleh niremaptik perilaku elite penguasa. Banyak kebijakan pemerintah yang dinilai tidak empatik pro masyarakat bawah. Kebijakan dibuat hanya untuk menguntungkan elit.
Di sisi lain masyarakat kelas bawah merasakan situasi sebaliknya sehingga gap nasib antarelite dan warga semakin lebar. Pemberitaan yang masif terkait tunjangan anggota DPR dianggap tidak peka keadaan kian menguatkan sentimen kegeraman dan kebencian warga.
Nirempati inilah yang kemudian menjadi triger emosi dan mematik daya rasa psikologis publik untuk terlibat dalam melalui aksi unjuk rasa. Mencermati muara penyebab itu maka aksi demonstrasi massa dengan amarah publik seharusnya didekati dengan komunikasi empati.
Atas dasar itu, penulis berharap aparat keamanan dengan segala perangkatnya bisa mengedepankan pendekatan psikologis dan tindakan humanis dan komunikatif. Situasi sosial politik memang kompleks, akan tetapi rasa empatik perlu di dahukukan dan tidak mengedepankan caa represif.
Sudah banyak contoh diperagakan oleh aparat keamanan dalam menerapkan cara persuasi komunikatif ini. Kita rindu pada zaman reformasi para pendemo didekati dengan cara humanis diberi tanda kasih, pita, bunga, dan lain-lain.
Cara ini terbukti efektif dan juga cara empatik yang lain. Jika perlu diajak dialog dan diajak makan bersama, menciptakan kedekatan dan dialog penuh keakraban. Cara dan strategi ini menurut penulis patut untuk dipertimbangkan dan perlu didahulukan.
Publik yang sedang menumpahkan amarahnya harus bisa diberi empati, melalui cara yang persuasif, dan juga turut merasakan ‘derita’ bersama. Dalam pilihan bahasa yang puitis warga dan elit menangis dan tertawa bersama. Ini penting disadari sebagai bagian dari membangun saling keterpercayaan sehingga tidak tercipta situasi vis a vis, warga dan aparat.
Saatnya kita bersama dan media juga perlu mengedepankan narasi-narasi positif, agar publik juga turut bisa menjaga rasa dan suasana. Jangan ada arogansi, hapus logika kuat-kuatan, apalagi mengandalkan kekuatan otot dan fisik. Bangun kebersamaan melalui bahasa hati yang empatik.
Dalam kaitan ini, penting untuk --negara dengan seperangkat aparatus keamanannya-- memahami bagaimana demonstrasi sebenarnya lagi difungsikan sebagai saluran untuk mengelola dan mengeskpresikan emosi publik. Hal yang luput dari kesadaran kita adalah cinta seringkali kita maknai bersama sebagai hanya ungkapan rasa yang intim, melulu soal rasa menyangkut dua orang dan kelompok.
Padahal, ketika ia kita pindahkan ke ruang publik, maka niscaya akan dapat bertransformasi menjadi kekuatan yang mampu menggerakkan perubahan dan perbaikan. Memang fakta sosial di Indonesia menunjukkan bahwa aksi protes politik acapkali berujung pada dan diwarnai kerusuhan.
Hal ini berbeda dengan aksi protes HAM, gerakan membela kesetaraan perempuan, dan gerakan peduli lingkungan yang selalu muncul dan dipenuhi lewat pesan cinta dan aksi damai. Namun, bukan tidak mungkin aksi protes politik kali ini, juga kita wujudkan dalam bentuk cinta damai.
Tentu saja dengan tetap menyalurkan pesan substansi protes kepada penguasa. Dengan begitu, aksi demonstrasi cinta akan lebih dapat menyatukan orang-orang dari berbagai kalangan, membangun kuat rasa komunitas, menstimuli tiap individu untuk bergerak dalam tindakan bersama.
Dalam perspektif teori ketampakan konflik, semakin konflik diproduksi dan direprosuksi oleh publik lewat media sosial dan media umum, maka semakin pula konflik tersebut meluas ke kalangan masyarakat luas. Untuk itu, sebenarnya penting mengutamakan penangganan aksi demontrasi dengan pendekatan cinta dan bukan dengan cara represif.
Kita harus mulai belajar untuk menjaga nilai kemanusiaan dan lingkungan guna perlindungan dan kebaikan bersama. Tentu saja, warga negara tetap harus memgingat prinsip kebaikan bersama dengan melanjutkan substansi aksi, untuk menyuarakan aspirasi dan harapan, mengingatkan penguasa dengan komunikasi demonstrasi empatik.
Mencermati beragam peristiwa aksi demonstrasi masif warga sebagian besar dipicu oleh niremaptik perilaku elite penguasa. Banyak kebijakan pemerintah yang dinilai tidak empatik pro masyarakat bawah. Kebijakan dibuat hanya untuk menguntungkan elit.
Di sisi lain masyarakat kelas bawah merasakan situasi sebaliknya sehingga gap nasib antarelite dan warga semakin lebar. Pemberitaan yang masif terkait tunjangan anggota DPR dianggap tidak peka keadaan kian menguatkan sentimen kegeraman dan kebencian warga.
Nirempati inilah yang kemudian menjadi triger emosi dan mematik daya rasa psikologis publik untuk terlibat dalam melalui aksi unjuk rasa. Mencermati muara penyebab itu maka aksi demonstrasi massa dengan amarah publik seharusnya didekati dengan komunikasi empati.
Atas dasar itu, penulis berharap aparat keamanan dengan segala perangkatnya bisa mengedepankan pendekatan psikologis dan tindakan humanis dan komunikatif. Situasi sosial politik memang kompleks, akan tetapi rasa empatik perlu di dahukukan dan tidak mengedepankan caa represif.
Sudah banyak contoh diperagakan oleh aparat keamanan dalam menerapkan cara persuasi komunikatif ini. Kita rindu pada zaman reformasi para pendemo didekati dengan cara humanis diberi tanda kasih, pita, bunga, dan lain-lain.
Cara ini terbukti efektif dan juga cara empatik yang lain. Jika perlu diajak dialog dan diajak makan bersama, menciptakan kedekatan dan dialog penuh keakraban. Cara dan strategi ini menurut penulis patut untuk dipertimbangkan dan perlu didahulukan.
Publik yang sedang menumpahkan amarahnya harus bisa diberi empati, melalui cara yang persuasif, dan juga turut merasakan ‘derita’ bersama. Dalam pilihan bahasa yang puitis warga dan elit menangis dan tertawa bersama. Ini penting disadari sebagai bagian dari membangun saling keterpercayaan sehingga tidak tercipta situasi vis a vis, warga dan aparat.
Saatnya kita bersama dan media juga perlu mengedepankan narasi-narasi positif, agar publik juga turut bisa menjaga rasa dan suasana. Jangan ada arogansi, hapus logika kuat-kuatan, apalagi mengandalkan kekuatan otot dan fisik. Bangun kebersamaan melalui bahasa hati yang empatik.
Demonstrasi Ekspresi Cinta
Menilik kejadian diberbagai belahan dunia dalam beberapa tahun belakangan ini aktualisasi demonstrasi yang diekspresikan dalam bentuk cinta, sejatinya semakin tampak mengemuka dalam berbagai aksi unjuk rasa dan protes warga. Aksi yang dimotori oleh berbagai kalangan aktivis pun, mulai manyadari bahwa cinta bukanlah hanya soal perasaan, melainkan juga dapat dinyatakan dalam bentuk tindakan kolektif.Dalam kaitan ini, penting untuk --negara dengan seperangkat aparatus keamanannya-- memahami bagaimana demonstrasi sebenarnya lagi difungsikan sebagai saluran untuk mengelola dan mengeskpresikan emosi publik. Hal yang luput dari kesadaran kita adalah cinta seringkali kita maknai bersama sebagai hanya ungkapan rasa yang intim, melulu soal rasa menyangkut dua orang dan kelompok.
Padahal, ketika ia kita pindahkan ke ruang publik, maka niscaya akan dapat bertransformasi menjadi kekuatan yang mampu menggerakkan perubahan dan perbaikan. Memang fakta sosial di Indonesia menunjukkan bahwa aksi protes politik acapkali berujung pada dan diwarnai kerusuhan.
Hal ini berbeda dengan aksi protes HAM, gerakan membela kesetaraan perempuan, dan gerakan peduli lingkungan yang selalu muncul dan dipenuhi lewat pesan cinta dan aksi damai. Namun, bukan tidak mungkin aksi protes politik kali ini, juga kita wujudkan dalam bentuk cinta damai.
Tentu saja dengan tetap menyalurkan pesan substansi protes kepada penguasa. Dengan begitu, aksi demonstrasi cinta akan lebih dapat menyatukan orang-orang dari berbagai kalangan, membangun kuat rasa komunitas, menstimuli tiap individu untuk bergerak dalam tindakan bersama.
Kanalisasi Emosi
Energi demonstrasi sesungguhnya bisa dikelola dan diarahkan menjadi ekspresi suka cita, happy jauh dari amarah. Memang tantangannnya tidak mudah karena hal ini juga terkait dengan kesadaran sebagai warga negara. Apalagi mengelola emosi massa juga tidak mudah, butuh pendekatan siuasional dan cara yang humanis.Lihat Juga :