Kado 80 Tahun, One Piece dan Ronggowarsito
Minggu, 17 Agustus 2025 - 12:02 WIB
loading...
A
A
A
Giliran hari-hari ini kostum, bendera, sneaker sampai tas punggung serta kaos bergambar tulang tengkorak bajak laut bertopi jerami yang cengengesan (Jawa: lelaku berlagak dungu, tak serius dan memancing tawa) laris manis di mana-mana.
Tentu saja, jika dibanding bendera sakral merah-putih yang ‘tak boleh nakal dipasang’, sebab anggota parlemen dan pejabat kementerian selain sebagian pakar hukum merespons dengan tuduhan tak main-main: makar.
Bagaimana tentang serat atau bentuk lain, tembang-tembang klasik dari kisah Jayengbaya, gubahan Ronggowarsito di abad ke-19? Saat usianya sekitar 20-an menjelang akhir 30-an, ia menuliskan pula sentilan-sentilan tajam kondisi sosial saat Perang Jawa (1825-1830) dengan humor cum satire yang menggelitik.
Tokoh cerita, sang Jayengbaya, berakrobat mencari penghidupan, yang berpindah-pindah profesi dan selalu gagal pun tersandung sejumlah masalah yang justru mencerahkan secara filosofis; dari penabuh gamelan, mak comblang, tentara sampai pencuri yang menggambarkan kejenakaan yang nyelekit secara komunal.
Film One Piece yang cocok untuk seluruh lapisan masyarakat dunia ini patut ditunggu serial selanjutnya; yang wajib tonton dan ditularkan penggalan-penggalannya menjadi viral di media sosial, tak hanya sebuah hiburan namun sebuah refleksi kekinian kondisi dunia.
Tak ada niat mencomot kekuatan narasi-narasi dalam perlawanan budaya pop vis a vis karya serius sastra dunia, tapi karya manga Eiichiro Oda itu membangkitkan kesadaran bahwa dunia makin menyusut, mudah diraih dan dibuat selengekan.
Secara maknawi, pesan besar bahwa ‘kegelapan selangkah-demi selangkah dikupas-diterangi dan tak akan langgeng’ dari aktor-aktor riil penguasaan politik jagat, dieja ulang, yang setidaknya Indonesia menjadi contoh kongkrit.
Saat novel 1984 atau Animal Farm dari tinjauan Orwellian, Goerge Orwell sebagai pengarang dibedah dan karyanya menjadi bacaan wajib para aktivis di masa lalu, One Piece yang selengekan menggedor orang-orang kebanyakan. Tak melulu disaksikan dan digunjingkan mahasiswa di kampus-kampus saja via ‘streaming Netflix’, sopir-sopir truk di jalur Pantura turut bergembira dan bangga truk-nya dihiasi warga gelap bendera One Piece nan kocak itu.
Atribut kostumnya, gerak-gerik ‘kawanan bajak laut amatir’ yang selalu beruntung ini seolah mengejek raja para binatang yang mewakilkan simbol para penguasa di buku Animal Farm atau ‘agen partai’ yang memata-matai warga sebagai Big Brother di novel 1984.
Tentu saja, jika dibanding bendera sakral merah-putih yang ‘tak boleh nakal dipasang’, sebab anggota parlemen dan pejabat kementerian selain sebagian pakar hukum merespons dengan tuduhan tak main-main: makar.
Bagaimana tentang serat atau bentuk lain, tembang-tembang klasik dari kisah Jayengbaya, gubahan Ronggowarsito di abad ke-19? Saat usianya sekitar 20-an menjelang akhir 30-an, ia menuliskan pula sentilan-sentilan tajam kondisi sosial saat Perang Jawa (1825-1830) dengan humor cum satire yang menggelitik.
Tokoh cerita, sang Jayengbaya, berakrobat mencari penghidupan, yang berpindah-pindah profesi dan selalu gagal pun tersandung sejumlah masalah yang justru mencerahkan secara filosofis; dari penabuh gamelan, mak comblang, tentara sampai pencuri yang menggambarkan kejenakaan yang nyelekit secara komunal.
Narasi Selengekan dan Serat Jawa Serius
Film One Piece yang cocok untuk seluruh lapisan masyarakat dunia ini patut ditunggu serial selanjutnya; yang wajib tonton dan ditularkan penggalan-penggalannya menjadi viral di media sosial, tak hanya sebuah hiburan namun sebuah refleksi kekinian kondisi dunia.
Tak ada niat mencomot kekuatan narasi-narasi dalam perlawanan budaya pop vis a vis karya serius sastra dunia, tapi karya manga Eiichiro Oda itu membangkitkan kesadaran bahwa dunia makin menyusut, mudah diraih dan dibuat selengekan.
Secara maknawi, pesan besar bahwa ‘kegelapan selangkah-demi selangkah dikupas-diterangi dan tak akan langgeng’ dari aktor-aktor riil penguasaan politik jagat, dieja ulang, yang setidaknya Indonesia menjadi contoh kongkrit.
Saat novel 1984 atau Animal Farm dari tinjauan Orwellian, Goerge Orwell sebagai pengarang dibedah dan karyanya menjadi bacaan wajib para aktivis di masa lalu, One Piece yang selengekan menggedor orang-orang kebanyakan. Tak melulu disaksikan dan digunjingkan mahasiswa di kampus-kampus saja via ‘streaming Netflix’, sopir-sopir truk di jalur Pantura turut bergembira dan bangga truk-nya dihiasi warga gelap bendera One Piece nan kocak itu.
Atribut kostumnya, gerak-gerik ‘kawanan bajak laut amatir’ yang selalu beruntung ini seolah mengejek raja para binatang yang mewakilkan simbol para penguasa di buku Animal Farm atau ‘agen partai’ yang memata-matai warga sebagai Big Brother di novel 1984.