Fadli Zon: Indonesia Perlu Menemukan Kembali Identitasnya
Kamis, 14 Agustus 2025 - 20:42 WIB
loading...
A
A
A
Karena itu, Okky mendukung langkah menulis ulang sejarah Indonesia. Tapi dengan satu syarat penulisan sejarah harus melibatkan publik, akademisi, sastrawan, bukan hanya pemerintah. Harus ada forum bersama.
"Yang lebih penting adalah kebebasan berbicara dan berkebudayaan. Jangan ada pembungkaman. Jangan ada narasi tunggal,” katanya, menyuarakan kegalauan banyak kalangan yang merasa ruang-ruang kritik semakin sempit.
Pemikir Studia Humanika ITB Alfathri menyebut pendidikan kini sekadar mencetak tukang dari sudut pemikiran filosofis. Alfathri memulai dengan mengutip Hegel bahwa Masyarakat dan pemerintah tak pernah belajar dari sejarah. Mereka terus mengulang kesalahan yang sama.
Alfathri menyentil konsep white man’s burden yang menjadi justifikasi kolonialisme, sekaligus menyalahkan sistem pendidikan hari ini yang masih menurunkan warisan barat secara membabi buta.
“Pendidikan kita hanya mencetak tukang. Bukan pencinta ilmu. Padahal, menurut Islam, setiap orang diciptakan dengan tujuan khusus,” ujarnya, menyiratkan perlunya visi pendidikan berbasis nilai-nilai yang lebih dalam dari sekadar kurikulum teknokratik.
Peneliti GREAT Institute Hanief Adrian memperkuat argumen Fadli tentang kebesaran masa lalu bangsa ini. Hanief mengutip catatan sejarah tentang Sriwijaya yang dikenal sebagai Zabazh di Afrika.
“Zabazh memperkenalkan budaya emas ke Afrika, yang lalu dinikmati Eropa dan Arab. Tapi budaya emas itu datang dari Swarna Dwipa—Sumatera,” ujarnya.
Menurut Hanief, Indonesia butuh keberanian untuk mengklaim sejarahnya sendiri. “Kalau kita tak menulisnya, orang lain akan menulis versi mereka, dan kita tinggal jadi objek,” katanya.
Indonesia, seperti yang digambarkan oleh mereka adalah negeri yang mewarisi suara dari gua-gua purba, yang pernah menjadi pusat dunia, namun kini nyaris kehilangan panggung untuk berdialektika.
"Kita butuh kebudayaan yang hidup, bukan yang dibekukan dalam museum atau dijadikan sekadar dekorasi festival. Butuh pemimpin yang mengerti kultur, bukan hanya struktur. Butuh ruang bagi keragaman suara, bukan hanya pengeras narasi tunggal," katanya.
"Kebenaran tidak pernah dimonopoli oleh satu suara," ujar Okky.
Seperti kata Imam Ali bin Abi Thalib, "Seseorang yang tidak mengetahui sejarahnya, maka ia akan tersesat dalam perjalanan hidupnya."
"Yang lebih penting adalah kebebasan berbicara dan berkebudayaan. Jangan ada pembungkaman. Jangan ada narasi tunggal,” katanya, menyuarakan kegalauan banyak kalangan yang merasa ruang-ruang kritik semakin sempit.
Pemikir Studia Humanika ITB Alfathri menyebut pendidikan kini sekadar mencetak tukang dari sudut pemikiran filosofis. Alfathri memulai dengan mengutip Hegel bahwa Masyarakat dan pemerintah tak pernah belajar dari sejarah. Mereka terus mengulang kesalahan yang sama.
Alfathri menyentil konsep white man’s burden yang menjadi justifikasi kolonialisme, sekaligus menyalahkan sistem pendidikan hari ini yang masih menurunkan warisan barat secara membabi buta.
“Pendidikan kita hanya mencetak tukang. Bukan pencinta ilmu. Padahal, menurut Islam, setiap orang diciptakan dengan tujuan khusus,” ujarnya, menyiratkan perlunya visi pendidikan berbasis nilai-nilai yang lebih dalam dari sekadar kurikulum teknokratik.
Peneliti GREAT Institute Hanief Adrian memperkuat argumen Fadli tentang kebesaran masa lalu bangsa ini. Hanief mengutip catatan sejarah tentang Sriwijaya yang dikenal sebagai Zabazh di Afrika.
“Zabazh memperkenalkan budaya emas ke Afrika, yang lalu dinikmati Eropa dan Arab. Tapi budaya emas itu datang dari Swarna Dwipa—Sumatera,” ujarnya.
Menurut Hanief, Indonesia butuh keberanian untuk mengklaim sejarahnya sendiri. “Kalau kita tak menulisnya, orang lain akan menulis versi mereka, dan kita tinggal jadi objek,” katanya.
Indonesia, seperti yang digambarkan oleh mereka adalah negeri yang mewarisi suara dari gua-gua purba, yang pernah menjadi pusat dunia, namun kini nyaris kehilangan panggung untuk berdialektika.
"Kita butuh kebudayaan yang hidup, bukan yang dibekukan dalam museum atau dijadikan sekadar dekorasi festival. Butuh pemimpin yang mengerti kultur, bukan hanya struktur. Butuh ruang bagi keragaman suara, bukan hanya pengeras narasi tunggal," katanya.
"Kebenaran tidak pernah dimonopoli oleh satu suara," ujar Okky.
Seperti kata Imam Ali bin Abi Thalib, "Seseorang yang tidak mengetahui sejarahnya, maka ia akan tersesat dalam perjalanan hidupnya."
(shf)
Lihat Juga :