Fadli Zon: Indonesia Perlu Menemukan Kembali Identitasnya
Kamis, 14 Agustus 2025 - 20:42 WIB
loading...
A
A
A
Fadli Zon menyinggung Pasal 32 Ayat 1 UUD 1945 yang menyatakan, “Negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia, dengan menjamin kebebasan masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budayanya.”
Namun, justru dalam konteks kebebasan itulah, Fadli menyiratkan kegelisahan. “Budaya kita sangat tua. Tapi kini, narasi kebudayaan justru dibungkam. Padahal, peradaban kita sudah lebih dulu global,” tandasnya.
Mengutip penemuan-penemuan arkeologis, Fadli Zon menyebut Homo erectus Indonesia telah hidup 1,8 juta tahun lalu. Gambar-gambar gua tertua ditemukan di Muna dan Maros, jauh lebih tua dari lukisan gua di Eropa.
“Kita ini melting pot sejak dulu kala. Kita bukan tempat tujuan. Tapi tempat keberangkatan,” ujarnya. Hal itu menyiratkan bahwa Nusantara adalah simpul globalisasi purba.
Ketua Dewan Direktur GREAT Institute Syahganda Nainggolan membuka acara tersebut dengan kritik bahwa elite di negeri ini tak selamanya membawa bangsa menuju kemerdekaan.
"Elite harus paham budaya. Terutama budaya di wilayah kepemimpinannya sendiri," ujarnya.
Syahganda menyesalkan langkanya diskusi kebudayaan di ruang publik hari ini, apalagi di layar televisi. Padahal, kata dia, jika pembicaraan soal budaya berhenti, kita bisa kehilangan nilai keadaban itu sendiri.
Syahganda menyoroti kegagalan struktur memahami kultur, merujuk pada kasus Pati yang kini menghebohkan.
"Struktur menaikkan PBB seenaknya, tanpa memahami kultur masyarakat yang sedang menjerit karena tekanan ekonomi. Maka terjungkallah bupati,” katanya dengan nada getir.
Sosiolog dan sastrawan yang kini mengajar di National University of Singapore Okky Madasari berbicara lugas dan tajam. Okky mengajak semua pihak menengok wajah manusia Indonesia hari ini, khususnya generasi muda.
“Mereka itu kosmopolitan, kreatif, dan resisten. Mereka bukan sekadar pengguna budaya global, tapi juga penantang,” katanya.
Okky menegaskan, sejarah kebudayaan bangsa ini selalu diawali oleh perlawanan terhadap model dominan. “Sutan Takdir, Hamzah Fansuri, para pelopor itu melakukan perlawanan atas dominasi wacana,” ujarnya.
Namun, justru dalam konteks kebebasan itulah, Fadli menyiratkan kegelisahan. “Budaya kita sangat tua. Tapi kini, narasi kebudayaan justru dibungkam. Padahal, peradaban kita sudah lebih dulu global,” tandasnya.
Mengutip penemuan-penemuan arkeologis, Fadli Zon menyebut Homo erectus Indonesia telah hidup 1,8 juta tahun lalu. Gambar-gambar gua tertua ditemukan di Muna dan Maros, jauh lebih tua dari lukisan gua di Eropa.
“Kita ini melting pot sejak dulu kala. Kita bukan tempat tujuan. Tapi tempat keberangkatan,” ujarnya. Hal itu menyiratkan bahwa Nusantara adalah simpul globalisasi purba.
Ketua Dewan Direktur GREAT Institute Syahganda Nainggolan membuka acara tersebut dengan kritik bahwa elite di negeri ini tak selamanya membawa bangsa menuju kemerdekaan.
"Elite harus paham budaya. Terutama budaya di wilayah kepemimpinannya sendiri," ujarnya.
Syahganda menyesalkan langkanya diskusi kebudayaan di ruang publik hari ini, apalagi di layar televisi. Padahal, kata dia, jika pembicaraan soal budaya berhenti, kita bisa kehilangan nilai keadaban itu sendiri.
Syahganda menyoroti kegagalan struktur memahami kultur, merujuk pada kasus Pati yang kini menghebohkan.
"Struktur menaikkan PBB seenaknya, tanpa memahami kultur masyarakat yang sedang menjerit karena tekanan ekonomi. Maka terjungkallah bupati,” katanya dengan nada getir.
Sosiolog dan sastrawan yang kini mengajar di National University of Singapore Okky Madasari berbicara lugas dan tajam. Okky mengajak semua pihak menengok wajah manusia Indonesia hari ini, khususnya generasi muda.
“Mereka itu kosmopolitan, kreatif, dan resisten. Mereka bukan sekadar pengguna budaya global, tapi juga penantang,” katanya.
Okky menegaskan, sejarah kebudayaan bangsa ini selalu diawali oleh perlawanan terhadap model dominan. “Sutan Takdir, Hamzah Fansuri, para pelopor itu melakukan perlawanan atas dominasi wacana,” ujarnya.
Lihat Juga :