Kekerasan Kolektif di Barak Militer
Rabu, 13 Agustus 2025 - 09:25 WIB
loading...
A
A
A
5. Teori Dinamika Kelompok (Kurt Lewin)
Dinamikan kelompok adalah studi psikologi tentang proses-proses psikologi dan sosial yang terjadi dalam kelompok, mulai dari bagaimana kelompok terbentuk, berkembang dan mempengaruhi anggotanya. Kelompok militer memiliki kohesi yang tinggi tetapi bisa menjadi masalah bila nilai dan norma yang berkembang menyimpang
Konformitas yang berlebihan, norma yang tidak sehat (kekerasan dianggap wajar), tekanan hirarki (struktur yang otoriter membuat bawahan sulit melaporkan kekerasan yang dialami kepada atasan, Kepemimpinan Toksik ( pemimpin yang tidak sehata secara psikologis dapat menciptakan lingkungan penuh tekanan dan kekerasan
Kesimpulan & Rekomendasi
Kekerasan kolektif di barak militer mencerminkan pentingnya kontrol sosial dan kontrol diri bagi setiap prajurit, karena tekanan dan frustasi yang tinggi memerlukan kemampuan psikologi yang baik
Pembinaan mental dan pembentukan karakter cinta tanah air harus diperkuat dengan nilai agama dan spiritual, sehingga doktrin militer dan jiwa korsa dapat diarahkan ke perilaku positif.
Membunuh dan melakukan kekerasan tidak diajarkan dalam agama, dan bertentangan dengan nilai Pancasila, khususnya sila kedua: Kemanusiaan yang Adil dan Beradab.
Sistem pengawasan di barak militer perlu diperketat untuk mencegah kekerasan, baik oleh individu maupun kelompok. Ujian mental bagi prajurit harus mempertimbangkan kondisi psikologis dan kemanusiaan setiap individu, karena prajurit juga manusia yang membutuhkan perhatian serta perlakuan yang layak.
Kepemimpinan yang tegas tetapi tetap mengedepankan nilai-nilai humanis sangat penting, pemimpin di barak militer harus memiliki kemampuang "coaching" yang dapat memberikan motivasi dan menjadi keluarga bagi anggotanya
Dinamikan kelompok adalah studi psikologi tentang proses-proses psikologi dan sosial yang terjadi dalam kelompok, mulai dari bagaimana kelompok terbentuk, berkembang dan mempengaruhi anggotanya. Kelompok militer memiliki kohesi yang tinggi tetapi bisa menjadi masalah bila nilai dan norma yang berkembang menyimpang
Konformitas yang berlebihan, norma yang tidak sehat (kekerasan dianggap wajar), tekanan hirarki (struktur yang otoriter membuat bawahan sulit melaporkan kekerasan yang dialami kepada atasan, Kepemimpinan Toksik ( pemimpin yang tidak sehata secara psikologis dapat menciptakan lingkungan penuh tekanan dan kekerasan
Kesimpulan & Rekomendasi
Kekerasan kolektif di barak militer mencerminkan pentingnya kontrol sosial dan kontrol diri bagi setiap prajurit, karena tekanan dan frustasi yang tinggi memerlukan kemampuan psikologi yang baik
Pembinaan mental dan pembentukan karakter cinta tanah air harus diperkuat dengan nilai agama dan spiritual, sehingga doktrin militer dan jiwa korsa dapat diarahkan ke perilaku positif.
Membunuh dan melakukan kekerasan tidak diajarkan dalam agama, dan bertentangan dengan nilai Pancasila, khususnya sila kedua: Kemanusiaan yang Adil dan Beradab.
Sistem pengawasan di barak militer perlu diperketat untuk mencegah kekerasan, baik oleh individu maupun kelompok. Ujian mental bagi prajurit harus mempertimbangkan kondisi psikologis dan kemanusiaan setiap individu, karena prajurit juga manusia yang membutuhkan perhatian serta perlakuan yang layak.
Kepemimpinan yang tegas tetapi tetap mengedepankan nilai-nilai humanis sangat penting, pemimpin di barak militer harus memiliki kemampuang "coaching" yang dapat memberikan motivasi dan menjadi keluarga bagi anggotanya
(cip)
Lihat Juga :