Pemblokiran Game Online Roblox dalam Perspektif Psikologi
Senin, 11 Agustus 2025 - 08:00 WIB
loading...
A
A
A
Studi dari University of Sydney (Maret 2025) menyoroti mekanisme permainan seperti loot boxes dan sistem mata uang virtual kompleks di Roblox. Anak-anak sering kesulitan memahami nilai uang yang mereka keluarkan, sehingga tanpa sadar menghabiskan jumlah yang signifikan.
Praktik ini kerap disebut sebagai bentuk “child gambling” atau perjudian anak. Dari perspektif psikologi perkembangan dan klinis anak, paparan semacam ini membawa risiko serius:
1. Trauma dan Gangguan Psikologis
Paparan konten seksual atau kekerasan dapat memicu trauma, kecemasan, depresi, bahkan post-traumatic stress disorder (PTSD), terutama pada anak yang belum mampu memproses pengalaman tersebut secara kognitif.
2. Normalisasi Perilaku Menyimpang
Paparan berulang terhadap perilaku seksual atau kekerasan dalam gim dapat membuat anak menganggapnya sebagai hal yang wajar, mengaburkan batas moral dan sosial.
3. Kerentanan terhadap Manipulasi
Grooming memanfaatkan kepercayaan dan ketidaktahuan anak, membuat mereka lebih rentan dimanipulasi secara emosional maupun seksual.
4. Gangguan Perkembangan Sosial-Emosional
Interaksi dengan bahasa kasar atau pelecehan verbal dapat mengikis empati, memicu perilaku agresif, atau membuat anak menarik diri dari lingkungan sosial sehat.
Penelitian Imania (2025) dari UIN Jakarta turut menemukan bahwa anak usia 5–6 tahun yang bermain Roblox mengalami kesulitan memantau, mengevaluasi, dan mengendalikan emosi mereka.
Hal-hal tersebut dapat kita ambil sebagai kesimpulan bahwa:
Pertama, Roblox memuat konten kekerasan, seksual, dan ujaran kebencian, padahal anak usia dini sedang membangun inisiatif sosial dan moral. Paparan ini tentu mengganggu perkembangan psikologis anak.
Kedua, Roblox dimainkan oleh pengguna lintas usia, sehingga ada risiko anak terpapar dan menjadi korban eksploitasi seksual (child grooming) dan perundungan daring (cyberbullying).
Ketiga, sistem permainan Roblox mendorong budaya materialisme dan tekanan sosial digital melalui pembelian item dalam jumlah uang digital yang besar demi mengikuti tren.
Anak yang tidak ikut bermain bisa merasa terisolasi secara sosial. Mekanisme reward instan dalam Roblox juga berpotensi memicu kecanduan yang serupa dengan respons dopamin di otak.
Ini adalah tantangan bagi para "game developer" untuk berinovasi dengan menciptakan konten yang ramah anak dan peduli dengan tumbuh kembang serta nilai-nilai moral kehidupan.
Praktik ini kerap disebut sebagai bentuk “child gambling” atau perjudian anak. Dari perspektif psikologi perkembangan dan klinis anak, paparan semacam ini membawa risiko serius:
1. Trauma dan Gangguan Psikologis
Paparan konten seksual atau kekerasan dapat memicu trauma, kecemasan, depresi, bahkan post-traumatic stress disorder (PTSD), terutama pada anak yang belum mampu memproses pengalaman tersebut secara kognitif.
2. Normalisasi Perilaku Menyimpang
Paparan berulang terhadap perilaku seksual atau kekerasan dalam gim dapat membuat anak menganggapnya sebagai hal yang wajar, mengaburkan batas moral dan sosial.
3. Kerentanan terhadap Manipulasi
Grooming memanfaatkan kepercayaan dan ketidaktahuan anak, membuat mereka lebih rentan dimanipulasi secara emosional maupun seksual.
4. Gangguan Perkembangan Sosial-Emosional
Interaksi dengan bahasa kasar atau pelecehan verbal dapat mengikis empati, memicu perilaku agresif, atau membuat anak menarik diri dari lingkungan sosial sehat.
Penelitian Imania (2025) dari UIN Jakarta turut menemukan bahwa anak usia 5–6 tahun yang bermain Roblox mengalami kesulitan memantau, mengevaluasi, dan mengendalikan emosi mereka.
Hal-hal tersebut dapat kita ambil sebagai kesimpulan bahwa:
Pertama, Roblox memuat konten kekerasan, seksual, dan ujaran kebencian, padahal anak usia dini sedang membangun inisiatif sosial dan moral. Paparan ini tentu mengganggu perkembangan psikologis anak.
Kedua, Roblox dimainkan oleh pengguna lintas usia, sehingga ada risiko anak terpapar dan menjadi korban eksploitasi seksual (child grooming) dan perundungan daring (cyberbullying).
Ketiga, sistem permainan Roblox mendorong budaya materialisme dan tekanan sosial digital melalui pembelian item dalam jumlah uang digital yang besar demi mengikuti tren.
Anak yang tidak ikut bermain bisa merasa terisolasi secara sosial. Mekanisme reward instan dalam Roblox juga berpotensi memicu kecanduan yang serupa dengan respons dopamin di otak.
Ini adalah tantangan bagi para "game developer" untuk berinovasi dengan menciptakan konten yang ramah anak dan peduli dengan tumbuh kembang serta nilai-nilai moral kehidupan.
Lihat Juga :