Surabaya Deklarasikan Sekolah Ramah Anak Sejak 2019, Terapkan Pendidikan Karakter dan Anti-Bullying
Senin, 21 Juli 2025 - 15:44 WIB
loading...
A
A
A
Yusuf menjabarkan bahwa prinsip sekolah ramah anak mencakup lingkungan yang edukatif, rekreatif, serta memperkuat pendidikan karakter siswa dari berbagai aspek, termasuk religius, akademik, hingga pengembangan bakat. "Lingkungan sekolah yang ramah dan edukatif dikemas menjadi Sekolah Arek Suroboyo, program pembelajaran yang efektif dan edukatif,” ungkapnya.
Untuk tahun ajaran baru ini, Dispendik Surabaya juga memfokuskan pada penguatan program anti-bullying dan penanaman nilai toleransi di sekolah. Menurut Yusuf, kunci utama mencegah perundungan adalah keberanian siswa untuk bersuara. “Berani berpendapat, berani bicara, berani memberitahu, dan berani menolak jika ada hal yang tidak benar,” ujarnya.
Dalam mendukung implementasi tersebut, Pemkot Surabaya melalui Dispendik telah membentuk Satuan Tugas (Satgas) Anti-Bullying di setiap sekolah. Satgas ini terdiri dari unsur OSIS, ORPES (Organisasi Pelajar Sekolah), UKS, dan siswa senior.
Satgas ini bertugas mengenalkan berbagai kegiatan ekstrakurikuler kepada siswa baru, serta membantu mereka beradaptasi dengan lingkungan sekolah dan menemukan minat serta bakatnya. “Dengan adanya Satgas ini, diharapkan tidak ada lagi kasus perundungan yang terjadi,” harap Yusuf.
MPLS tahun 2025 ini mengusung tema “Sekolahku, Rumahku, Guruku, Orang Tuaku". Tema yang diangkat tersebut sebagai cerminan integrasi antara lingkungan sekolah dan rumah dalam membentuk karakter anak.
Yusuf berharap pelaksanaan MPLS selama sepekan menjadi awal positif dan menyenangkan bagi peserta siswa baru. Sekaligus pula diharapkan dapat memperkuat komitmen semua pihak dalam menciptakan suasana belajar yang aman dan sehat secara psikologis.
"Kami berharap MPLS yang berjalan satu minggu ini menjadi awal masuk sekolah yang menyenangkan bagi para siswa dan bebas dari bullying," pungkasnya. (ADV)
Untuk tahun ajaran baru ini, Dispendik Surabaya juga memfokuskan pada penguatan program anti-bullying dan penanaman nilai toleransi di sekolah. Menurut Yusuf, kunci utama mencegah perundungan adalah keberanian siswa untuk bersuara. “Berani berpendapat, berani bicara, berani memberitahu, dan berani menolak jika ada hal yang tidak benar,” ujarnya.
Dalam mendukung implementasi tersebut, Pemkot Surabaya melalui Dispendik telah membentuk Satuan Tugas (Satgas) Anti-Bullying di setiap sekolah. Satgas ini terdiri dari unsur OSIS, ORPES (Organisasi Pelajar Sekolah), UKS, dan siswa senior.
Satgas ini bertugas mengenalkan berbagai kegiatan ekstrakurikuler kepada siswa baru, serta membantu mereka beradaptasi dengan lingkungan sekolah dan menemukan minat serta bakatnya. “Dengan adanya Satgas ini, diharapkan tidak ada lagi kasus perundungan yang terjadi,” harap Yusuf.
MPLS tahun 2025 ini mengusung tema “Sekolahku, Rumahku, Guruku, Orang Tuaku". Tema yang diangkat tersebut sebagai cerminan integrasi antara lingkungan sekolah dan rumah dalam membentuk karakter anak.
Yusuf berharap pelaksanaan MPLS selama sepekan menjadi awal positif dan menyenangkan bagi peserta siswa baru. Sekaligus pula diharapkan dapat memperkuat komitmen semua pihak dalam menciptakan suasana belajar yang aman dan sehat secara psikologis.
"Kami berharap MPLS yang berjalan satu minggu ini menjadi awal masuk sekolah yang menyenangkan bagi para siswa dan bebas dari bullying," pungkasnya. (ADV)
(aik)
Lihat Juga :