Pengamat: Politik Identitas Selalu Terjadi dalam Pilkada
Rabu, 09 September 2020 - 09:57 WIB
loading...
A
A
A
“Kalau seperti itu terus, friksi-friksi di masyarakat akan tetap terjadi. Yang dikedepankan saya suku ini, suku sana calon lain, ini jarang ketemu. Kalau yang muncul tawaran dari masing-masing orang lalu diperdebatkan dalam suksesi kepemimpinan tanpa melihat latar belakang identitas, saya pikir itu yang kita harapkan,” jelas Idil.
Namun, Dosen Universitas Padjajaran itu sanksi politik identitas akan hilang dalam Pilkada Serentak 2020 di 270 daerah. Sebab, secara konstitusional tidak ada aturan yang cukup untuk memberikan sanksi terhadap masalah ini. Hanya para kandidat dan tim suksesnya yang dilarang mengusung SARA dalam kontestasi politik. Sulit untuk membendung penggunaan politik identitas di akar rumput. (Baca juga: Jokowi Minta Politik Identitas Tak Digunakan di Pilkada Serentak 2020)
“Pendukung dan masyarakat awam akan melihat sisi identitas bagian dari keberpihakannya terhadap yang mereka pilih. Ini agak sulit. Saya misalnya, akan melihat calon pemimpin yang berasal dari mana, agama, ideologi, dan politik. Islam akan cenderung memilih pemimpin politik Islam. Orang Melayu cenderung memilih Melayu, dan nasionalis akan memilih nasionalis,” pungkasnya.
Namun, Dosen Universitas Padjajaran itu sanksi politik identitas akan hilang dalam Pilkada Serentak 2020 di 270 daerah. Sebab, secara konstitusional tidak ada aturan yang cukup untuk memberikan sanksi terhadap masalah ini. Hanya para kandidat dan tim suksesnya yang dilarang mengusung SARA dalam kontestasi politik. Sulit untuk membendung penggunaan politik identitas di akar rumput. (Baca juga: Jokowi Minta Politik Identitas Tak Digunakan di Pilkada Serentak 2020)
“Pendukung dan masyarakat awam akan melihat sisi identitas bagian dari keberpihakannya terhadap yang mereka pilih. Ini agak sulit. Saya misalnya, akan melihat calon pemimpin yang berasal dari mana, agama, ideologi, dan politik. Islam akan cenderung memilih pemimpin politik Islam. Orang Melayu cenderung memilih Melayu, dan nasionalis akan memilih nasionalis,” pungkasnya.
(kri)
Lihat Juga :