Elite PPP Diminta Gagas Koalisi Parpol Islam, Rommy: Itu Bagian Pak Zainut, Saya Bagian Caketum Saja
Senin, 02 Juni 2025 - 20:46 WIB
loading...
Kantor DPP PPP di Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat. Foto/Dok SindoNews
A
A
A
JAKARTA - Ketua Majelis Pertimbangan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) M Romahurmuziy merespons usulan politikus senior PPP Zainut Tauhid Sa'adi agar elite partainya menggagas koalisi partai Islam ketimbang sibuk berbicara soal ketua umum. Rommy, sapaan akrabnya, menyatakan setuju dengan usulan tersebut.
Namun, kata Rommy, urusan menggagas koalisi partai politik (parpol) Islam itu menjadi bagian Zainut. "Sepakat. Itu bagian Pak Zainut. Saya bagian caketum saja," ujar Rommy saat dihubungi melalui pesan singkat, Senin (2/5/2025).
Lebih lanjut, Rommy mengatakan, nama yang masuk ke dalam bursa calon ketua umum PPP itu telah beredar lama. "Sudah beredar lama, tambah dengan massifnya media meramaikan makin tersebar," katanya.
Baca Juga: Elite PPP Diingatkan Jangan Sibuk Bicara Urusan Calon Ketum, Lebih Baik Gagas Koalisi Parpol Islam
Diberitakan sebelumnya, politikus senior PPP Zainut Tauhid Sa'adi mengusulkan kepada para elite partainya agar tidak sibuk berbicara soal ketua umum. Menurutnya, PPP lebih baik menggagas atau memelopori terbentuknya koalisi partai politik berbasis islam.
"Daripada sibuk menjajakan calon ketua umum PPP ke berbagai tokoh nasional, akan lebih simpatik jika para elite PPP menawarkan gagasan membangun koalisi besar partai Islam nonparlemen, yakni kerja sama politik antara dua atau lebih partai politik yang berbasis Islam untuk mencapai tujuan politik dan ideologis bersama," kata Zainut dalam keterangannya, Senin (2/6/2025).
Dia mengatakan, selain PPP ada beberapa partai Islam dan partai yang berbasis Islam yang juga tidak lolos Parliamentary Threshold (PT) yakni Partai Bulan Bintang (PBB), Partai Ummat, Partai Gelora, dan Partai Masyumi Baru. "Jika partai-partai tersebut bergabung atau bekerja sama maka akan menjadi kekuatan politik yang cukup signifikan," ujarnya.
Seharusnya, kata dia, dengan tidak masuknya partai-partai Islam di parlemen tersebut melahirkan kesadaran kolektif para pemimpin Islam untuk lebih mengedepankan semangat persatuan dan kebersamaan dalam perjuangan di bidang politik. Sehingga, momentum kegagalan masuk di parlemen dapat dimanfaatkan untuk melakukan konsolidasi kekuatan politik Islam di Indonesia.
Namun, kata Rommy, urusan menggagas koalisi partai politik (parpol) Islam itu menjadi bagian Zainut. "Sepakat. Itu bagian Pak Zainut. Saya bagian caketum saja," ujar Rommy saat dihubungi melalui pesan singkat, Senin (2/5/2025).
Lebih lanjut, Rommy mengatakan, nama yang masuk ke dalam bursa calon ketua umum PPP itu telah beredar lama. "Sudah beredar lama, tambah dengan massifnya media meramaikan makin tersebar," katanya.
Baca Juga: Elite PPP Diingatkan Jangan Sibuk Bicara Urusan Calon Ketum, Lebih Baik Gagas Koalisi Parpol Islam
Diberitakan sebelumnya, politikus senior PPP Zainut Tauhid Sa'adi mengusulkan kepada para elite partainya agar tidak sibuk berbicara soal ketua umum. Menurutnya, PPP lebih baik menggagas atau memelopori terbentuknya koalisi partai politik berbasis islam.
"Daripada sibuk menjajakan calon ketua umum PPP ke berbagai tokoh nasional, akan lebih simpatik jika para elite PPP menawarkan gagasan membangun koalisi besar partai Islam nonparlemen, yakni kerja sama politik antara dua atau lebih partai politik yang berbasis Islam untuk mencapai tujuan politik dan ideologis bersama," kata Zainut dalam keterangannya, Senin (2/6/2025).
Dia mengatakan, selain PPP ada beberapa partai Islam dan partai yang berbasis Islam yang juga tidak lolos Parliamentary Threshold (PT) yakni Partai Bulan Bintang (PBB), Partai Ummat, Partai Gelora, dan Partai Masyumi Baru. "Jika partai-partai tersebut bergabung atau bekerja sama maka akan menjadi kekuatan politik yang cukup signifikan," ujarnya.
Seharusnya, kata dia, dengan tidak masuknya partai-partai Islam di parlemen tersebut melahirkan kesadaran kolektif para pemimpin Islam untuk lebih mengedepankan semangat persatuan dan kebersamaan dalam perjuangan di bidang politik. Sehingga, momentum kegagalan masuk di parlemen dapat dimanfaatkan untuk melakukan konsolidasi kekuatan politik Islam di Indonesia.
(zik)
Lihat Juga :