Pendidikan Moderasi Beragama: Wajib Sejak Usia SD

Senin, 02 Juni 2025 - 08:00 WIB
loading...
Pendidikan Moderasi...
Ali Mochtar Ngabalin, Guru Besar pada Busan University of Foreign Studies (BUFS), Korea Selatan. Foto/SIndoNews
A A A
Ali Mochtar Ngabalin
Guru Besar pada Busan University of Foreign Studies (BUFS), Korea Selatan

TRAGEDI yang menimpa seorang korban anak, siswa kelas dua SD yang wafat akibat penganiayaan oleh lima kakak kelasnya, menggambarkan dengan telanjang betapa rapuhnya benteng toleransi di ruang pendidikan kita. Lebih menyakitkan lagi, kekerasan itu dilatarbelakangi oleh perbedaan agama dan suku.

Ini bukan sekadar tragedi sosial, ini adalah alarm kegagalan kurikulum nasional dalam menanamkan nilai moderasi sejak dini. Sudah terlalu lama kita berbicara tentang toleransi hanya di level seminar dan surat edaran. Tapi dalam ruang kelas, anak-anak masih dijejali pandangan sempit dan dualistik: kami dan mereka, benar dan salah, surga dan neraka. Hasilnya? Bocah 8 tahun dipukuli hingga mati karena dianggap "berbeda."

Kurikulum yang Buta Perbedaan

Pelajaran agama di sekolah dasar, meski wajib, tidak selalu disusun dengan pendekatan lintas iman. Sebaliknya, sering kali menjadi alat pembenaran kebenaran tunggal. Tidak ada ruang mengenal keyakinan lain, tidak ada dialog lintas agama, dan sangat jarang ada pembelajaran tentang hidup bersama dalam keberagaman.

Saya menyerukan agar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan segera merombak total kurikulum pendidikan agama dan kewarganegaraan di tingkat dasar. Materi harus mencakup:

- Pengenalan agama-agama besar dunia dan cara hidup damai bersama
- Cerita fabel atau dongeng toleransi antaragama untuk anak-anak
- Proyek kolaboratif lintas keyakinan seperti Hari Keberagaman di sekolah
- Pelatihan guru tentang komunikasi multikultural dan toleransi aktif

Anak-anak tidak bisa memahami toleransi dari teks hafalan. Mereka harus merasakannya dalam aktivitas harian, dalam pengalaman sosial di kelas, dan dalam teladan dari para guru mereka.

Sistem Pendidikan yang Tidak Netral

Guru adalah agen nilai. Tapi terlalu banyak guru yang tidak paham prinsip moderasi, bahkan menyisipkan ujaran-ujaran negatif dalam kelas. Kepala sekolah sibuk dengan akreditasi dan nilai ujian nasional, bukan pengawasan nilai-nilai kemanusiaan.

Diperlukan intervensi negara. Saya menuntut:

- Pelatihan moderasi beragama wajib bagi semua guru agama dan PPKn di Indonesia.
- Rekrutmen guru harus memasukkan indikator kecakapan sosial dan multikulturalisme.
- Dana BOS digunakan sebagian untuk program inklusi dan dialog antaragama di sekolah dasar.
- Evaluasi sekolah tidak hanya berdasarkan nilai akademik, tetapi juga skor toleransi sosial.

Orang Tua dan Lingkungan Adalah Ruang Belajar Pertama

Tidak semua beban diletakkan di pundak sekolah. Orang tua juga harus belajar mendidik anaknya dengan nilai toleransi. Maka program parenting berbasis moderasi harus digencarkan. Pemerintah daerah dapat menggandeng rumah ibadah, komunitas RT/RW, dan PKK untuk menyelenggarakan penyuluhan tentang keberagaman.

Moderasi Bukan Kompromi, Tapi Keberanian

Banyak yang keliru menganggap moderasi adalah bentuk kompromi dari keyakinan. Bukan. Moderasi adalah keberanian untuk menjaga keyakinan kita tanpa menyakiti hak orang lain. Ini adalah jalan tengah yang tidak berarti lemah, melainkan justru menjadi tiang kekuatan bangsa. Dengan kondisi global yang makin polar, dan ancaman radikalisme digital yang menyasar anak-anak lewat video dan algoritma internet, pendidikan moderasi bukan lagi agenda moral. Ia adalah agenda keamanan nasional.

Masa Depan yang Terancam Jika Dibiarkan

Jika kita masih menganggap pendidikan karakter dan toleransi sebagai pelengkap, maka bersiaplah kehilangan satu generasi. Generasi yang tidak hanya akan hidup dalam konflik, tapi juga menyebarkan kebencian lebih dalam dan lebih luas lagi.

Saya menyerukan kepada seluruh pemangku kepentingan: menteri, kepala dinas, kepala sekolah, guru, orang tua—jangan lagi tunda integrasi pendidikan moderasi agama ke kurikulum dasar. Korban anak yang kita tangisi hari ini adalah korban dari kelambanan dan ketidakberanian kita.

Jangan biarkan tangis ini menjadi rutinitas nasional. Karena anak-anak seharusnya belajar tentang dunia yang bisa hidup damai, bukan dunia yang akan memukul mereka karena berbeda keyakinan.
(cip)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Nasaruddin Umar: Spirit...
Nasaruddin Umar: Spirit Kiai Wahab Hasbullah Relevan untuk Perkuat Pesantren dan NKRI
Pungutan Perpisahan...
Pungutan Perpisahan Dinilai Bebani Orang Tua, Legislator Perindo Minta Disdik Kota Medan Bertindak
Kiamat Pemahaman Identik...
Kiamat Pemahaman Identik dengan Centrang Biru?
Menjawab Pekerjaan Rumah...
Menjawab Pekerjaan Rumah Pendidikan Kita
Menggugat Tiga Dosa...
Menggugat Tiga Dosa Besar dan Agenda Restorasi Pendidikan Nasional
Hakim Terseret Kasus...
Hakim Terseret Kasus Daycare Little Aresha Jogja, Menko PMK: Proses Hukum di Polisi
Bantu Orang Tua Siswa,...
Bantu Orang Tua Siswa, Pemkot Tangsel Gratiskan Seragam Batik dan Olahraga
Taruna Nusantara Cimahi-Redea...
Taruna Nusantara Cimahi-Redea Institute Kerja Sama Peningkatan Kualitas Akademik
World Chiz Day 2026,...
World Chiz Day 2026, Prochiz Sasar Lebih dari 1.000 Siswa SD di Tiga Kota
Rekomendasi
BRIN Teliti Rafflesia...
BRIN Teliti Rafflesia Anambas yang Viral, Bunga Langka Jenis Baru?
Segera Dibuka, Begini...
Segera Dibuka, Begini Ketentuan dan Jadwal Jalur Domisili di SPMB Jakarta 2026
Kate Middleton Bertemu...
Kate Middleton Bertemu Mantan Kekasihnya Rupert Finch, Begini Kisah Cinta Mereka
Berita Terkini
Jabat Wakil Kepala BGN,...
Jabat Wakil Kepala BGN, Mayjen Trenggono Ajukan Pensiun Dini dari TNI
Pelanggaran Berat Kode...
Pelanggaran Berat Kode Etik, Ketua Ombudsman RI Hery Susanto Dipecat
Oditur Militer Sampaikan...
Oditur Militer Sampaikan 12 Poin Replik Terkait Kasus Penyiraman Aktivis Andrie Yunus
Istana Terima Tuntutan...
Istana Terima Tuntutan BEM SI Jateng Soal Kuatkan Rupiah, tapi...
TAUD Khawatir Barang...
TAUD Khawatir Barang Bukti Kasus Andrie Yunus Dimusnahkan PN Militer
Chatib Basri di Ajang...
Chatib Basri di Ajang Perang Ideologi Ekonomi
Infografis
5 Makanan Penurun Kolesterol...
5 Makanan Penurun Kolesterol Usai Lebaran yang Wajib Dicoba
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved