Wakil Ketua Komisi VII DPR Minta Pemerintah Pertahankan Status Kaldera Toba di UNESCO
Jum'at, 23 Mei 2025 - 16:28 WIB
loading...
A
A
A
Terkait hal ini, Tim penilai UNESCO menggarisbawahi perlunya penelitian berkesinambungan di situs geologi, peningkatan kerja sama antar-institusi terkait, dan peningkatan edukasi mengenai aspek geologi, biologi, dan budaya di Geopark Kaldera Toba.
Atas penilaian UNESCO tersebut, Evita menekankan pentingnya tata kelola lintas sektoral yang optimal. Ia juga meminta ada kerja sama yang efektif dari instansi-instansi terkait.
“Baik pengelola di daerah dan di pusat harus bisa sync. Termasuk regulasi teknisnya juga diperkuat. Tanpa koordinasi top-down yang jelas, program sebaik apapun akan jadi tambal sulam," sebut Evita.
Pimpinan Komisi yang membidangi urusan pariwisata dan industri ini pun mendorong pengelola dan kementerian/lembaga terkait untuk segera memperbaiki hal-hal yang menjadi catatan UNESCO. Apalagi, diingatkan Evita, tenggat waktu sebelum tim asesor UNESCO melakukan evaluasi ulang terkait status Geopark Kaldera Toba hanya tinggal satu bulan.
“Maksimalkan waktu yang ada dengan melakukan perbaikan-perbaikan. Yellow card ini kan sebenarnya sudah disampaikan sejak 2 tahun lalu. Seharusnya sudah ada perbaikan, sekecil apapun itu,” ujar
Legislator dari Dapil Jawa Tengah III itu.
Evita menambahkan, pencabutan status UNESCO untuk Geopark Kaldera Toba dapat berdampak para dunia pariwisata Indonesia yang turut menjadi tulang punggung perekonomian negara. Oleh karenanya, aspek pengelolaan dalam geopark yang terbentuk dari letusan supervolcano ini harus ditingkatkan dan diperkuat.
“Geopark Kaldera Toba memiliki potensi luar biasa sebagai destinasi pariwisata berkelanjutan, jadi pengelolaannya harus betul-betul optimal dan harus sesuai dengan standar internasional yang ditetapkan oleh UNESCO,” pesan Evita.
Evita menyoroti bagaimana Geopark Kaldera Toba atau yang dikenal dengan sebutan Danau Toba itu menarik lebih dari 420 ribu kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) pada tahun 2024.
Adapun Wisatawan Malaysia mendominasi kunjungan, dengan lebih dari 116.622 orang. Singapura, Tiongkok, dan Australia juga menjadi negara asal wisatawan asing yang signifikan.
“Geopark Danau Toba menjadi pintu masuk bagi pariwisata di Sumatera Utara dan sekitarnya, artinya dia menjadi objek wisata yang memiliki sumbangsih besar terhadap perekonomian Indonesia, baik untuk pusat dan daerah,” jelasnya.
Atas penilaian UNESCO tersebut, Evita menekankan pentingnya tata kelola lintas sektoral yang optimal. Ia juga meminta ada kerja sama yang efektif dari instansi-instansi terkait.
“Baik pengelola di daerah dan di pusat harus bisa sync. Termasuk regulasi teknisnya juga diperkuat. Tanpa koordinasi top-down yang jelas, program sebaik apapun akan jadi tambal sulam," sebut Evita.
Pimpinan Komisi yang membidangi urusan pariwisata dan industri ini pun mendorong pengelola dan kementerian/lembaga terkait untuk segera memperbaiki hal-hal yang menjadi catatan UNESCO. Apalagi, diingatkan Evita, tenggat waktu sebelum tim asesor UNESCO melakukan evaluasi ulang terkait status Geopark Kaldera Toba hanya tinggal satu bulan.
“Maksimalkan waktu yang ada dengan melakukan perbaikan-perbaikan. Yellow card ini kan sebenarnya sudah disampaikan sejak 2 tahun lalu. Seharusnya sudah ada perbaikan, sekecil apapun itu,” ujar
Legislator dari Dapil Jawa Tengah III itu.
Evita menambahkan, pencabutan status UNESCO untuk Geopark Kaldera Toba dapat berdampak para dunia pariwisata Indonesia yang turut menjadi tulang punggung perekonomian negara. Oleh karenanya, aspek pengelolaan dalam geopark yang terbentuk dari letusan supervolcano ini harus ditingkatkan dan diperkuat.
“Geopark Kaldera Toba memiliki potensi luar biasa sebagai destinasi pariwisata berkelanjutan, jadi pengelolaannya harus betul-betul optimal dan harus sesuai dengan standar internasional yang ditetapkan oleh UNESCO,” pesan Evita.
Evita menyoroti bagaimana Geopark Kaldera Toba atau yang dikenal dengan sebutan Danau Toba itu menarik lebih dari 420 ribu kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) pada tahun 2024.
Adapun Wisatawan Malaysia mendominasi kunjungan, dengan lebih dari 116.622 orang. Singapura, Tiongkok, dan Australia juga menjadi negara asal wisatawan asing yang signifikan.
“Geopark Danau Toba menjadi pintu masuk bagi pariwisata di Sumatera Utara dan sekitarnya, artinya dia menjadi objek wisata yang memiliki sumbangsih besar terhadap perekonomian Indonesia, baik untuk pusat dan daerah,” jelasnya.
Lihat Juga :