Anak di Pusaran Dunia Digital, Siapa yang Menjaga?
Jum'at, 16 Mei 2025 - 15:50 WIB
loading...
A
A
A
Intervensi di Sektor Pendidikan
Negara perlu memperluas intervensinya ke dunia pendidikan untuk membekali anak-anak dengan kecakapan abad ke-21. Salah satu langkah visoner adalah rencana Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) untuk memasukkan kecerdasan buatan (AI) dan coding sebagai mata pelajaran pilihan di sekolah dasar mulai tahun ajaran 2025/2026 sebagai mata pelajaran pilihan. Inisiatif ini selaras dengan praktik di negara-negara seperti di Estonia dan Finlandia yang sejak satu dekade lalu telah mengintegrasikan literasi digital dan pemrograman komputer di jenjang dasar. Ini terbukti mampu meningkatkan ketahanan anak terhadap risiko digital (OECD, 2022).
Kebijakan memasukkan AI dan coding tersebut merupakan sebagai perwujudan dari Asta Cita keempat Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuning Raka yaitu “memperkuat pembangunan sumber daya manusia (SDM), sains, teknologi, pendidikan, kesehatan, prestasi olahraga, kesetaraan gender, serta penguatan peran perempuan, pemuda, dan penyandang disabilitas”. Literasi teknologi telah diakui sebagai kompetensi esensial abad ke-21 oleh World Economic Forum (2024), sehingga langkah ini menempatkan Indonesia pada jalur yang tepat untuk menyiapkan generasi masa depan.
Selain kurikulum, penguatan kapasitas guru informatika sangat krusial. Meski sebagai mata pelajaran pilihan pada jenjang SMP dan SMA, mata pelajaran informatika memiliki potensi besar dalam menanamkan pemahaman tentang penggunaan perangkat digital dan internet secara aman. Guru informatika berperan strategis dalam membentuk kebiasaan digital yang sehat dan beretika di kalangan pelajar.
Intervensi pendidikan juga diperkuat melalui pendekatan Pembelajaran Mendalam yang diusung oleh Kemendikdasmen, dengan delapan profil lulusan yaitu keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan, kewargaan, penalaran kritis, kreativitas, kolaborasi, kemandirian, kesehatan, dan komunikasi (Kemendikdasmen, 2025). Profil ini tidak hanya menjamin kompetensi akademik tetapi juga membekali anak dengan logika teknologi, kemampuan memilah risiko, menjaga privasi, dan menolak manipulasi sejak dini.
Gerakan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat
Di sisi lain, membangun benteng moral anak-anak jauh lebih penting ketimbang sekadar memperkuat kemampuan sekuritas teknis. Gerakan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (7KAIH) yang terdiri atas bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan sehat dan bergizi, gemar belajar, bermasyarakat, serta tidur cepat menawarkan pendekatan preventif. Kebiasaan tersebut menjadi strategi yang diyakini efektif untuk mengurangi dampak negatif penggunaan internet.
Misalnya kebiasaan gemar belajar dapat membiasakan anak disiplin dan bijak dalam menggunakan perangkat digital serta akses internet untuk hal-hal yang produktif dan bermanfaat ketimbang sekedar hiburan. Kebiasaan berolahraga dan bermasyarakat juga dapat diterapkan untuk mengurangi dampak negatif kecanduan perangkat digital. Anak yang terbiasa melakukan aktivitas fisik dan sosial yang cukup, cenderung tidak bergantung pada perangkat digital dan internet, sehingga kebiasaan ini membantu menciptakan keseimbangan antara aktivitas fisik dan digital bagi anak. Kebiasaan tidur cepat dan bangun pagi dapat membantu mengurangi screen time anak, dan membuat tubuh anak menjadi sehat karena memiliki waktu tidur yang cukup (Kemendikdasmen, 2025).
Negara perlu memperluas intervensinya ke dunia pendidikan untuk membekali anak-anak dengan kecakapan abad ke-21. Salah satu langkah visoner adalah rencana Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) untuk memasukkan kecerdasan buatan (AI) dan coding sebagai mata pelajaran pilihan di sekolah dasar mulai tahun ajaran 2025/2026 sebagai mata pelajaran pilihan. Inisiatif ini selaras dengan praktik di negara-negara seperti di Estonia dan Finlandia yang sejak satu dekade lalu telah mengintegrasikan literasi digital dan pemrograman komputer di jenjang dasar. Ini terbukti mampu meningkatkan ketahanan anak terhadap risiko digital (OECD, 2022).
Kebijakan memasukkan AI dan coding tersebut merupakan sebagai perwujudan dari Asta Cita keempat Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuning Raka yaitu “memperkuat pembangunan sumber daya manusia (SDM), sains, teknologi, pendidikan, kesehatan, prestasi olahraga, kesetaraan gender, serta penguatan peran perempuan, pemuda, dan penyandang disabilitas”. Literasi teknologi telah diakui sebagai kompetensi esensial abad ke-21 oleh World Economic Forum (2024), sehingga langkah ini menempatkan Indonesia pada jalur yang tepat untuk menyiapkan generasi masa depan.
Selain kurikulum, penguatan kapasitas guru informatika sangat krusial. Meski sebagai mata pelajaran pilihan pada jenjang SMP dan SMA, mata pelajaran informatika memiliki potensi besar dalam menanamkan pemahaman tentang penggunaan perangkat digital dan internet secara aman. Guru informatika berperan strategis dalam membentuk kebiasaan digital yang sehat dan beretika di kalangan pelajar.
Intervensi pendidikan juga diperkuat melalui pendekatan Pembelajaran Mendalam yang diusung oleh Kemendikdasmen, dengan delapan profil lulusan yaitu keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan, kewargaan, penalaran kritis, kreativitas, kolaborasi, kemandirian, kesehatan, dan komunikasi (Kemendikdasmen, 2025). Profil ini tidak hanya menjamin kompetensi akademik tetapi juga membekali anak dengan logika teknologi, kemampuan memilah risiko, menjaga privasi, dan menolak manipulasi sejak dini.
Gerakan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat
Di sisi lain, membangun benteng moral anak-anak jauh lebih penting ketimbang sekadar memperkuat kemampuan sekuritas teknis. Gerakan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (7KAIH) yang terdiri atas bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan sehat dan bergizi, gemar belajar, bermasyarakat, serta tidur cepat menawarkan pendekatan preventif. Kebiasaan tersebut menjadi strategi yang diyakini efektif untuk mengurangi dampak negatif penggunaan internet.
Misalnya kebiasaan gemar belajar dapat membiasakan anak disiplin dan bijak dalam menggunakan perangkat digital serta akses internet untuk hal-hal yang produktif dan bermanfaat ketimbang sekedar hiburan. Kebiasaan berolahraga dan bermasyarakat juga dapat diterapkan untuk mengurangi dampak negatif kecanduan perangkat digital. Anak yang terbiasa melakukan aktivitas fisik dan sosial yang cukup, cenderung tidak bergantung pada perangkat digital dan internet, sehingga kebiasaan ini membantu menciptakan keseimbangan antara aktivitas fisik dan digital bagi anak. Kebiasaan tidur cepat dan bangun pagi dapat membantu mengurangi screen time anak, dan membuat tubuh anak menjadi sehat karena memiliki waktu tidur yang cukup (Kemendikdasmen, 2025).
Lihat Juga :