Ketika Siswa Nakal Masuk Barak
Senin, 12 Mei 2025 - 16:10 WIB
loading...
A
A
A
Perubahan pandangan sekolah dari "transfer pengetahuan" menjadi "fasilitasi pembelajaran" membutuhkan komitmen dari seluruh ekosistem pendidikan.
Ketika siswa melihat relevansi, merasakan keterlibatan, dan memiliki kendali dalam proses belajar mereka, pembelajaran akan menjadi pengalaman yang menyenangkan dan bermakna.
Pandangan sekolah sebagai fasilitator pembelajaran siswa harus juga menjadi budaya. Siswa menjadi pusat dari pembelajaran (student-centered learning), apapun kurikulum yang akan digunakan. Sekolah juga diharapkan mengintensifkan komunikasi dengan keluarga siswa, agar proses pendidikan berjalan harmoni dan sinergis antara sekolah dan rumah.
Wadah belajar orang tua menjadi penting mengingat banyak orang tua yang kebingungan di tengah banjirnya informasi mengenai pengasuhan. Terlalu banyak, namun tidak memiliki peta dan kompas pengasuhan. Mana yang utama dan ke mana arah yang tepat. Meski demikian, keluarga yang tidak memiliki akses atas informasi pengasuhan yang tepat juga masih menjadi pekerjaan rumah.
Anak menghabiskan lebih banyak waktunya di luar sekolah. Dan lingkungan yang pertama dan utama untuk anak belajar adalah keluarga. Temuan Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga (saat ini tidak lagi eksis di Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah) di tahun 2015-2020, banyak keluarga merasa memerlukan wadah untuk meningkatkan kapasitas pengasuhan mereka. Besarnya harapan atas anak, tidak dimanifestasikan dengan cara-cara yang tepat. Problemnya, bukan tidak mau. Tapi tidak tahu caranya.
Khususnya dalam mendampingi anak dan remaja bertumbuh, banyak keluarga masih menerapkan pola pengasuhan yang otoriter. Komunikasi cenderung searah, minim dialog. Padahal sejatinya, remaja perlu sekali didengar, didampingi, baik di saat mengukir prestasi atau saat memiliki masalah.
Jika niatannya adalah melatih kedisiplinan, memupuk rasa percaya diri dan meluaskan pergaulan yang positif, tentu perlu didukung. Namun, pendidikan ala militer di barak harus dibarengi dengan pendekatan belajar lainnya. Memenuhi kebutuhan psikologis anak menjadi utama. Misalnya dengan adanya sesi konseling, kegiatan penyaluran bakat minat dan sesi ngobrol bersama orang tua/keluarga.
Kolaborasi semua elemen juga penting. Sebagaimana peribahasa Afrika, "It takes a village to raise a child". Peribahasa ini menggambarkan pentingnya peran komunitas secara keseluruhan dalam membesarkan dan mendidik anak. Makna peribahasa ini menekankan bahwa tanggung jawab pengasuhan anak tidak hanya terletak pada orang tua, tetapi juga pada seluruh masyarakat yang berinteraksi dengan anak.
*Tulisan adalah pendapat/pandangan pribadi.
Ketika siswa melihat relevansi, merasakan keterlibatan, dan memiliki kendali dalam proses belajar mereka, pembelajaran akan menjadi pengalaman yang menyenangkan dan bermakna.
Pandangan sekolah sebagai fasilitator pembelajaran siswa harus juga menjadi budaya. Siswa menjadi pusat dari pembelajaran (student-centered learning), apapun kurikulum yang akan digunakan. Sekolah juga diharapkan mengintensifkan komunikasi dengan keluarga siswa, agar proses pendidikan berjalan harmoni dan sinergis antara sekolah dan rumah.
Wadah belajar orang tua menjadi penting mengingat banyak orang tua yang kebingungan di tengah banjirnya informasi mengenai pengasuhan. Terlalu banyak, namun tidak memiliki peta dan kompas pengasuhan. Mana yang utama dan ke mana arah yang tepat. Meski demikian, keluarga yang tidak memiliki akses atas informasi pengasuhan yang tepat juga masih menjadi pekerjaan rumah.
Pendidikan Keluarga adalah Kunci
Anak menghabiskan lebih banyak waktunya di luar sekolah. Dan lingkungan yang pertama dan utama untuk anak belajar adalah keluarga. Temuan Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga (saat ini tidak lagi eksis di Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah) di tahun 2015-2020, banyak keluarga merasa memerlukan wadah untuk meningkatkan kapasitas pengasuhan mereka. Besarnya harapan atas anak, tidak dimanifestasikan dengan cara-cara yang tepat. Problemnya, bukan tidak mau. Tapi tidak tahu caranya.
Khususnya dalam mendampingi anak dan remaja bertumbuh, banyak keluarga masih menerapkan pola pengasuhan yang otoriter. Komunikasi cenderung searah, minim dialog. Padahal sejatinya, remaja perlu sekali didengar, didampingi, baik di saat mengukir prestasi atau saat memiliki masalah.
Haruskah ke Barak?
Jika niatannya adalah melatih kedisiplinan, memupuk rasa percaya diri dan meluaskan pergaulan yang positif, tentu perlu didukung. Namun, pendidikan ala militer di barak harus dibarengi dengan pendekatan belajar lainnya. Memenuhi kebutuhan psikologis anak menjadi utama. Misalnya dengan adanya sesi konseling, kegiatan penyaluran bakat minat dan sesi ngobrol bersama orang tua/keluarga.
Kolaborasi semua elemen juga penting. Sebagaimana peribahasa Afrika, "It takes a village to raise a child". Peribahasa ini menggambarkan pentingnya peran komunitas secara keseluruhan dalam membesarkan dan mendidik anak. Makna peribahasa ini menekankan bahwa tanggung jawab pengasuhan anak tidak hanya terletak pada orang tua, tetapi juga pada seluruh masyarakat yang berinteraksi dengan anak.
*Tulisan adalah pendapat/pandangan pribadi.
(nnz)
Lihat Juga :