Ketika Siswa Nakal Masuk Barak
Senin, 12 Mei 2025 - 16:10 WIB
loading...
A
A
A
Pada dasarnya, setiap fase perkembangan memiliki pokok masalahnya masing-masing. Namun, ketika remaja dihadapkan pada permasalahan, ada kecenderungan akan kesulitan untuk mengatasinya sendiri.
Hal ini dikarenakan mereka yang tengah berupaya menemukan identitas pribadi mereka, mencari siapa diri mereka, tetapi di sisi lain ada kecenderungan juga mereka ingin dilihat oleh dunia.
Jika potensi problematika remaja ini tidak disadari, tidak didukung dan diarahkan dengan tepat, risiko kenakalan remaja menjadi besar. Dukungan ini terutama dari keluarga dan lingkungan sekolah sebagai lingkungan pertemanan utamanya.
Kekerasan menurut Standard Definition for Childhood Injury Research adalah perilaku terhadap orang lain yang menyimpang dari norma tingkah laku dan mempunyai risiko substantial yang menyebabkan kejahatan fisik dan emosional dengan subkategori penyerangan fisik dan seksual, penyerangan emosional dan penelantaran yang menyebabkan kerugian yang berat, ringan ataupun tidak timbul dengan segera.
Sementara jika kita mengerucut kepada kekerasan yang sering dialami oleh anak dan remaja di antaranya perundungan (bullying), ini terjadi ketika seseorang merasa teraniaya oleh tindakan orang lain berupa verbal, fisik dan mental dan ia takut bila perilaku buruk tersebut akan terjadi lagi serta merasa tak berdaya mencegahnya.
Cyber bullying, kekerasan yang terjadi di dunia maya yang memiliki efek yang lebih parah dari bullying verbal dan fisik karena informasinya yang mudah tersebar di sosial media dan cenderung membentuk opini masyarakat luas yang dapat memberikan efek tekanan secara sosial.
Kekerasan telah menjelma menjadi perilaku sadistik. Tidak saja melukai, bahkan merenggut nyawapun tega dilakukan.
Segala bentuk tindak kekerasan pada remaja ini tentu saja memiliki dampak seperti gangguan emosi ringan bahkan hingga berat, cacat bahkan kematian. Bahkan korban berisiko menjadi pelaku kekerasan.
Kekerasan di kalangan remaja ini disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya krisis identitas, kontrol diri yang lemah, kurangnya perhatian dari keluarga, perceraian orang tua, pergaulan, dampak penggunaan media sosial atau perkembangan teknologi komunikasi, serta kurangnya media atau fasilitas untuk menyalurkan bakat atau hobi.
Sayangnya, kondisi banyak sekolah kurang mendukung pada perjuangan remaja dalam menemukan jati dirinya. Alih-alih dapat berkontribusi dengan prestasi dan kreativitas mereka yang tengah mencapai potensi puncaknya, remaja menjadi nakal.
Hal ini dikarenakan mereka yang tengah berupaya menemukan identitas pribadi mereka, mencari siapa diri mereka, tetapi di sisi lain ada kecenderungan juga mereka ingin dilihat oleh dunia.
Jika potensi problematika remaja ini tidak disadari, tidak didukung dan diarahkan dengan tepat, risiko kenakalan remaja menjadi besar. Dukungan ini terutama dari keluarga dan lingkungan sekolah sebagai lingkungan pertemanan utamanya.
Metamorfosa Kekerasan
Kekerasan menurut Standard Definition for Childhood Injury Research adalah perilaku terhadap orang lain yang menyimpang dari norma tingkah laku dan mempunyai risiko substantial yang menyebabkan kejahatan fisik dan emosional dengan subkategori penyerangan fisik dan seksual, penyerangan emosional dan penelantaran yang menyebabkan kerugian yang berat, ringan ataupun tidak timbul dengan segera.
Sementara jika kita mengerucut kepada kekerasan yang sering dialami oleh anak dan remaja di antaranya perundungan (bullying), ini terjadi ketika seseorang merasa teraniaya oleh tindakan orang lain berupa verbal, fisik dan mental dan ia takut bila perilaku buruk tersebut akan terjadi lagi serta merasa tak berdaya mencegahnya.
Cyber bullying, kekerasan yang terjadi di dunia maya yang memiliki efek yang lebih parah dari bullying verbal dan fisik karena informasinya yang mudah tersebar di sosial media dan cenderung membentuk opini masyarakat luas yang dapat memberikan efek tekanan secara sosial.
Kekerasan telah menjelma menjadi perilaku sadistik. Tidak saja melukai, bahkan merenggut nyawapun tega dilakukan.
Segala bentuk tindak kekerasan pada remaja ini tentu saja memiliki dampak seperti gangguan emosi ringan bahkan hingga berat, cacat bahkan kematian. Bahkan korban berisiko menjadi pelaku kekerasan.
Kekerasan di kalangan remaja ini disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya krisis identitas, kontrol diri yang lemah, kurangnya perhatian dari keluarga, perceraian orang tua, pergaulan, dampak penggunaan media sosial atau perkembangan teknologi komunikasi, serta kurangnya media atau fasilitas untuk menyalurkan bakat atau hobi.
Rupa Sekolah yang Diinginkan
Sayangnya, kondisi banyak sekolah kurang mendukung pada perjuangan remaja dalam menemukan jati dirinya. Alih-alih dapat berkontribusi dengan prestasi dan kreativitas mereka yang tengah mencapai potensi puncaknya, remaja menjadi nakal.
Lihat Juga :