Ketika Siswa Nakal Masuk Barak

Senin, 12 Mei 2025 - 16:10 WIB
loading...
Ketika Siswa Nakal Masuk...
Sri Lestari Yuniarti, Widya Prada Ahli Muda di Ditjen GTK Kemendikdasmen. Foto/Dok Pribadi.
A A A
Sri Lestari Yuniarti

Widya Prada Ahli Muda di Ditjen GTK Kemendikdasmen

Siswa nakal dikirim ke barak militer. Ide Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi tersebut ramai diberitakan belakangan ini. Gagasan tersebut kemudian diformulasi menjadi kebijakan, dan sudah diterapkan mulai bulan Mei ini.

Nakal yang disebutkan Gubernur Jawa Barat tersebut merujuk pada perilaku siswa yang melanggar norma agama, sosial, dan pendidikan. Tidak patuh pada orang tua, sering melanggar peraturan sekolah, terlibat tawuran, dan bentuk kekerasan lainnya adalah contoh penyebabnya.

Angka kekerasan di kalangan siswa remaja memang tidak pernah surut. Tindak kekerasan yang dilakukan pun makin sadistik. Tidak lagi hanya melukai, berita terenggutnya nyawa ulah anak dan remaja juga meningkat.

Survei Nasional Pengalaman Hidup Anak dan Remaja (SNPHAR) yang dipimpin Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA, 2024) menyebutkan sebanyak 11,5 juta atau 50,78% anak usia 13-17 tahun, pernah mengalami salah satu bentuk kekerasan atau lebih di sepanjang hidupnya.

Pada pengalaman yang lebih baru, yaitu dalam 12 bulan terakhir, diperkirakan sebanyak 7,6 juta anak usia 13-17 tahun atau 33,64% mengalami salah satu bentuk kekerasan atau lebih. Meski demikian, diduga angka tersebut bisa saja lebih besar, mengingat secara faktual, remaja enggan melaporkan peristiwa kekerasan yang dialaminya.

Terpantik karena fenomena yang memprihatinkan tersebut, Dedi Mulyadi meluncurkan gebrakan. Banyak pihak telah berkomentar atas gebrakan tersebut. Namun, bagaimana sebaiknya penanganan problem siswa nakal?

Betulkah Masa Remaja Masa Krisis?


Badan kesehatan dunia, World Health Organization (WHO) mengatakan remaja merupakan masyarakat yang berada di rentang usia 10 sampai 19 tahun. Santrock mendefinisikan masa remaja sebagai masa peralihan dari masa anak–anak menuju ke arah dewasa, yang ditandai dengan perubahan fisik maupun emosi. Stanley Hall menggambarkannya masa yang penuh dengan konflik dan ketegangan.

Pada dasarnya, setiap fase perkembangan memiliki pokok masalahnya masing-masing. Namun, ketika remaja dihadapkan pada permasalahan, ada kecenderungan akan kesulitan untuk mengatasinya sendiri.

Hal ini dikarenakan mereka yang tengah berupaya menemukan identitas pribadi mereka, mencari siapa diri mereka, tetapi di sisi lain ada kecenderungan juga mereka ingin dilihat oleh dunia.

Jika potensi problematika remaja ini tidak disadari, tidak didukung dan diarahkan dengan tepat, risiko kenakalan remaja menjadi besar. Dukungan ini terutama dari keluarga dan lingkungan sekolah sebagai lingkungan pertemanan utamanya.

Metamorfosa Kekerasan


Kekerasan menurut Standard Definition for Childhood Injury Research adalah perilaku terhadap orang lain yang menyimpang dari norma tingkah laku dan mempunyai risiko substantial yang menyebabkan kejahatan fisik dan emosional dengan subkategori penyerangan fisik dan seksual, penyerangan emosional dan penelantaran yang menyebabkan kerugian yang berat, ringan ataupun tidak timbul dengan segera.

Sementara jika kita mengerucut kepada kekerasan yang sering dialami oleh anak dan remaja di antaranya perundungan (bullying), ini terjadi ketika seseorang merasa teraniaya oleh tindakan orang lain berupa verbal, fisik dan mental dan ia takut bila perilaku buruk tersebut akan terjadi lagi serta merasa tak berdaya mencegahnya.

Cyber bullying, kekerasan yang terjadi di dunia maya yang memiliki efek yang lebih parah dari bullying verbal dan fisik karena informasinya yang mudah tersebar di sosial media dan cenderung membentuk opini masyarakat luas yang dapat memberikan efek tekanan secara sosial.

Kekerasan telah menjelma menjadi perilaku sadistik. Tidak saja melukai, bahkan merenggut nyawapun tega dilakukan.

Segala bentuk tindak kekerasan pada remaja ini tentu saja memiliki dampak seperti gangguan emosi ringan bahkan hingga berat, cacat bahkan kematian. Bahkan korban berisiko menjadi pelaku kekerasan.

Kekerasan di kalangan remaja ini disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya krisis identitas, kontrol diri yang lemah, kurangnya perhatian dari keluarga, perceraian orang tua, pergaulan, dampak penggunaan media sosial atau perkembangan teknologi komunikasi, serta kurangnya media atau fasilitas untuk menyalurkan bakat atau hobi.

Rupa Sekolah yang Diinginkan


Sayangnya, kondisi banyak sekolah kurang mendukung pada perjuangan remaja dalam menemukan jati dirinya. Alih-alih dapat berkontribusi dengan prestasi dan kreativitas mereka yang tengah mencapai potensi puncaknya, remaja menjadi nakal.

Perubahan pandangan sekolah dari "transfer pengetahuan" menjadi "fasilitasi pembelajaran" membutuhkan komitmen dari seluruh ekosistem pendidikan.

Ketika siswa melihat relevansi, merasakan keterlibatan, dan memiliki kendali dalam proses belajar mereka, pembelajaran akan menjadi pengalaman yang menyenangkan dan bermakna.

Pandangan sekolah sebagai fasilitator pembelajaran siswa harus juga menjadi budaya. Siswa menjadi pusat dari pembelajaran (student-centered learning), apapun kurikulum yang akan digunakan. Sekolah juga diharapkan mengintensifkan komunikasi dengan keluarga siswa, agar proses pendidikan berjalan harmoni dan sinergis antara sekolah dan rumah.

Wadah belajar orang tua menjadi penting mengingat banyak orang tua yang kebingungan di tengah banjirnya informasi mengenai pengasuhan. Terlalu banyak, namun tidak memiliki peta dan kompas pengasuhan. Mana yang utama dan ke mana arah yang tepat. Meski demikian, keluarga yang tidak memiliki akses atas informasi pengasuhan yang tepat juga masih menjadi pekerjaan rumah.

Pendidikan Keluarga adalah Kunci


Anak menghabiskan lebih banyak waktunya di luar sekolah. Dan lingkungan yang pertama dan utama untuk anak belajar adalah keluarga. Temuan Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga (saat ini tidak lagi eksis di Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah) di tahun 2015-2020, banyak keluarga merasa memerlukan wadah untuk meningkatkan kapasitas pengasuhan mereka. Besarnya harapan atas anak, tidak dimanifestasikan dengan cara-cara yang tepat. Problemnya, bukan tidak mau. Tapi tidak tahu caranya.

Khususnya dalam mendampingi anak dan remaja bertumbuh, banyak keluarga masih menerapkan pola pengasuhan yang otoriter. Komunikasi cenderung searah, minim dialog. Padahal sejatinya, remaja perlu sekali didengar, didampingi, baik di saat mengukir prestasi atau saat memiliki masalah.

Haruskah ke Barak?


Jika niatannya adalah melatih kedisiplinan, memupuk rasa percaya diri dan meluaskan pergaulan yang positif, tentu perlu didukung. Namun, pendidikan ala militer di barak harus dibarengi dengan pendekatan belajar lainnya. Memenuhi kebutuhan psikologis anak menjadi utama. Misalnya dengan adanya sesi konseling, kegiatan penyaluran bakat minat dan sesi ngobrol bersama orang tua/keluarga.

Kolaborasi semua elemen juga penting. Sebagaimana peribahasa Afrika, "It takes a village to raise a child". Peribahasa ini menggambarkan pentingnya peran komunitas secara keseluruhan dalam membesarkan dan mendidik anak. Makna peribahasa ini menekankan bahwa tanggung jawab pengasuhan anak tidak hanya terletak pada orang tua, tetapi juga pada seluruh masyarakat yang berinteraksi dengan anak.

*Tulisan adalah pendapat/pandangan pribadi.
(nnz)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
GenIUS Expo 2026 Dorong...
GenIUS Expo 2026 Dorong Siswa Kembangkan Potensi Diri melalui Karya dan Inovasi
Terbitkan SE Pengendalian...
Terbitkan SE Pengendalian Gratifikasi SPMB, KPK Soroti Calon Siswa Titipan
Menggugat Tiga Dosa...
Menggugat Tiga Dosa Besar dan Agenda Restorasi Pendidikan Nasional
Genap Berusia 1 Tahun,...
Genap Berusia 1 Tahun, Puspadaya Diharapkan Jangkau Kelompok Rentan di Indonesia
HUT ke-1, Puspadaya...
HUT ke-1, Puspadaya Ajak Masyarakat Saksikan Pemutaran Dokumentasi Jejak Langkah
Momen Hangat Prabowo...
Momen Hangat Prabowo Nyanyi Lagu Nasional Bareng Siswa SMAN 1 Cilacap
WSIS Prizes 2026 PBB:...
WSIS Prizes 2026 PBB: Dua Program Digitalisasi Kemendikdasmen Diakui Dunia
Ribuan Masyarakat Antusias...
Ribuan Masyarakat Antusias Ikuti Breakfast Jakarta Bersih di Kemendikdasmen
Kemendikdasmen Dukung...
Kemendikdasmen Dukung SE KPK untuk Cegah Korupsi dan Gratifikasi di SPMB 2026
Rekomendasi
Argentina vs Aljazair:...
Argentina vs Aljazair: Messi dan Misi Pertahankan Takhta Piala Dunia
Kang Cucun Gelar Pasar...
Kang Cucun Gelar Pasar Murah di Desa Ciheulang Ciparay
7 Kisah Para Nabi di...
7 Kisah Para Nabi di Bulan Muharram yang Diabadikan Al Quran
Berita Terkini
Pesan Said Didu untuk...
Pesan Said Didu untuk Prabowo: Waktu Melakukan Akomodasi Politik Sudah Lewat
Ditegur Delegasi Belanda...
Ditegur Delegasi Belanda karena Merokok saat KMB, Jawaban Agus Salim Ini Membuat Mereka Terdiam
ART asal Indonesia Dianiaya...
ART asal Indonesia Dianiaya di Malaysia, DPR Minta Kemlu Lobi agar Pelaku Dihukum Berat
Said Didu: Jangan Juga...
Said Didu: Jangan Juga Semua Orang Kritis Ditakut-takuti
Guntur Romli Tepis Tuduhan...
Guntur Romli Tepis Tuduhan BEM Bersatu: Kegilaan Logika Cocokologi yang Dipaksakan
Aliansi BEM Bersatu...
Aliansi BEM Bersatu Endus Dugaan Keterlibatan Politikus PDIP dalam Aksi Tolak MBG
Infografis
Khamenei Tewas, 4 Nama...
Khamenei Tewas, 4 Nama Masuk Bursa Calon Pemimpin Tertinggi Iran
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved