Dari Malioboro ke New York: Kisah Transformasi Batik Riyanti ke Panggung Dunia
Selasa, 06 Mei 2025 - 22:30 WIB
loading...
A
A
A
Aditya memulai dari nol, yakni satu karyawan, satu komputer, dan promosi lewat Facebook. Saat itu, gaji karyawan Rp1 juta, sementara omzet bulanan hanya Rp700 ribu.
Namun perlahan, dengan hadirnya marketplace seperti Shopee dan perubahan perilaku belanja masyarakat, langkah digital Batik Riyanti mulai mendapat angin.
“Kami salah satu pionir batik yang masuk ke ranah online,” ujar Aditya.
“Dulu batik itu identik dengan RT, Lurah, dan acara formal. Kami ingin batik bisa dipakai meeting, ngopi, bahkan liburan,”lanjut Aditya menceritakan transformasi Batik Riyanti.
Desain dikerjakan oleh tim kreatif bersama istri Aditya. Mereka tidak hanya menjual kain, tetapi produk jadi yang siap pakai. Mayoritas batik yang dijual adalah hasil printing — pilihan strategis untuk pasar online yang sangat visual.
Namun perlahan, dengan hadirnya marketplace seperti Shopee dan perubahan perilaku belanja masyarakat, langkah digital Batik Riyanti mulai mendapat angin.
“Kami salah satu pionir batik yang masuk ke ranah online,” ujar Aditya.
“Dulu batik itu identik dengan RT, Lurah, dan acara formal. Kami ingin batik bisa dipakai meeting, ngopi, bahkan liburan,”lanjut Aditya menceritakan transformasi Batik Riyanti.
Transformasi Desain dan Pasar
Dari batik soga dan motif klasik yang sering diasosiasikan dengan gaya ibu-ibu, Batik Riyanti mulai mendesain koleksi yang lebih kekinian. Mereka menggabungkan batik dengan siluet modern, hingga menciptakan konsep couple dan family wear. Kini, batik dari Riyanti bisa dipakai anywhere, anytime.Desain dikerjakan oleh tim kreatif bersama istri Aditya. Mereka tidak hanya menjual kain, tetapi produk jadi yang siap pakai. Mayoritas batik yang dijual adalah hasil printing — pilihan strategis untuk pasar online yang sangat visual.
Lihat Juga :