Menelisik Akar Sejarah Koperasi Desa Merah Putih

Rabu, 30 April 2025 - 15:25 WIB
loading...
A A A
Perlu diingat bahwa pendirian koperasi yang ideal itu memang dari bawah sebagaimana pendirian koperasi ala Raiffeisen di Jerman. Akan tetapi hal ini tidak berarti bahwa model top-down tidak efektif. Jika merujuk pada penjelasan Margono, beberapa negara, seperti Jepang, mendirikan koperasinya melalui mekanisme top-down.

Para aktivis koperasi masa itu masih menjaga keinginannya agar mekanisme koperasi di Nusantara seperti yang sudah berjalan di Eropa, dimana program koperasi sudah menyasar para petani dalam bentuk pelatihan teknik bercocok tanam dan intervensi teknologi.

Margono menilai ada tiga masalah utama yang menjadi faktor kurang maksimalnya kinerja Koperasi di Nusantara masa itu.

Pertama, pemerintah tidak memiliki satu badan pusat yang bertanggung jawab atas koperasi, sehingga para pelaku koperasi tidak memiliki rujukan teknis bagaimana menjalankan roda organisasinya.

Kedua, mutasi pegawai negeri pada masa itu menyebabkan mereka tidak fokus mengurusi koperasi.

Ketiga, tidak ada undang-undang yang kuat sebagai acuan bersama koperasi.

Margono juga mencatat bahwa animo untuk mendirikan koperasi tidak hanya dari kalangan pegawai, tetapi juga dari para kelompok aktivis nasionalis pribumi seperti Budi Utomo dan Serikat Dagang Islam (SDI). Bahkan pada tahun 1913, SDI setelah bertransformasi menjadi Serikat Islam mengkampanyekan koperasi secara massif.

Gerakan ini berhasil mendirikan ratusan koperasi hingga di tingkatan dusun. Sayangnya minimnya support pemerintah dan kurangnya kapabilatas manajemennya menyebabkan koperasi yang diprakarsai SI merugi. Kegagalan kampanye koperasi SI tersebut memberikan efek traumatis yang sangat besar bagi masyarakat masa itu.

Konotasi negative koperasi mulai berangsur-angsur menghilang pada akhir 1920-an ketika banyak aktivis gerakan nasionalis mulai memperbincangkannya di forum-forum penting mereka. Partai Nasional Indonesia (PNI) yang didirikan pada tahun 1927 menginisiasi kongres koperasi pertama yang bertempat di Betawi pada tahun 1929.

Para peserta kongres ini memiliki latar belakang yang beragam, termasuk mahasiswa Indonesia yang mengenyam sekolah di Belanda dan mengetahui lebih banyak terkait gerakan koperasi di Eropa.

Meskipun gerakan koperasi mulai kembali bergeliat pada tahun 1930an, jumlah koperasi yang didirikan oleh penduduk pribumi belum memuaskan. Margono menilai minimnya jumlah koperasi ini disebabkan permasalahan birokratis aturan yang ketat, seperti AD/ART perlu disusun dengan Bahasa Belanda, mendapat Izin Gubernur Jendral.

Secara garis besar penjelasan Margono menggambarkan kepada kita bahwa keberhasilan koperasi selain ditentukan semangat dari para pelaku/anggota koperasi, tetapi juga rekognisi dan dukungan pemerintah pusat.
Koperasi Sebagai Sokoguru Ekonomi Indonesia.

Hatta (1971) menyatakan dengan tegas bahwa “UUD 1945 pasal 33 memandang koperasi sebagai sokoguru ekonomi Indonesia”. Koperasi sebagai sokoguru ekonomi Indonesia dimaksudkan bahawa koperasi menyasar rakyat kecil. Jika diukur dalam bentuk piramida, mereka berada dalam kluster yang paling bawah.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Latihan Menembak Dihapus...
Latihan Menembak Dihapus dari Pembekalan Calon Manajer Kopdes, Puan: Sebaiknya Fokus Manajerial Saja
5 Calon Manajer Kopdes...
5 Calon Manajer Kopdes dan Kampung Nelayan Meninggal, Kemhan Ganti Nama Latsarmil
5 Peserta Program SPPI...
5 Peserta Program SPPI Meninggal saat Latsarmil, Feri Amsari: Negara Salahi Prinsip Administrasi
5 Calon Manajer KDMP...
5 Calon Manajer KDMP Meninggal, DPR: Hentikan Sementara Latsarmil
Koalisi Masyarakat Sipil...
Koalisi Masyarakat Sipil Desak Pemerintah Hentikan Latsarmil KDMP setelah 5 Peserta Meninggal
Kemhan Beberkan Materi...
Kemhan Beberkan Materi Latihan Fisik Calon Manajer Kopdes: Baris-berbaris hingga Hormat Militer
Pemerintah Perkuat Kopdes...
Pemerintah Perkuat Kopdes Merah Putih untuk Bangun Papua
Sensus Ekonomi 2026:...
Sensus Ekonomi 2026: Data untuk Memperkuat UMKM dan Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat
GKSI Berdayakan Peternak...
GKSI Berdayakan Peternak dan Koperasi Susu untuk Perkuat Program MBG
Rekomendasi
Meta Bantah Tuduhan...
Meta Bantah Tuduhan Medsosnya Menyebabkan Anak-anak Kecanduan
Profil Saleem Khader...
Profil Saleem Khader Al-Ashqar, Kiper Palestina yang Tewas dalam Serangan Israel di Gaza
Transmisi Hijau Tulang...
Transmisi Hijau Tulang Punggung Penentu Masa Depan Energi Bersih
Berita Terkini
Di Rakernas APEKSI,...
Di Rakernas APEKSI, Menko AHY: Wali Kota Adalah Duta Terbaik untuk Tarik Investasi dan Layani Rakyat Perkotaan
KPK Tahan Tersangka...
KPK Tahan Tersangka Kasus Suap Audit BPK di Muara Enim
1 Abad Kelahiran Rahmi...
1 Abad Kelahiran Rahmi Hatta Momen Refleksi Nilai Keteladanan bagi Generasi Muda
Menhut Raja Juli Bakal...
Menhut Raja Juli Bakal Kooperatif soal Pengusutan Kasus Bupati Kuansing
Presiden Lukashenko...
Presiden Lukashenko Sebut Indonesia Mitra Penting Belarus di Asia Tenggara
Kembangkan Kompetensi...
Kembangkan Kompetensi di Era Digital, UI Publishing Terbitkan Buku Digital Social Work untuk Afrika-Asia
Infografis
Sejarah Panjang Persia...
Sejarah Panjang Persia Menjadi Iran yang Mengubah Timur Tengah
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved