Penggunaan Gawai, Tantangan Baru Pendidikan Indonesia?
Jum'at, 25 April 2025 - 14:19 WIB
loading...
A
A
A
Terkait mengatasi krisis gawai ini, salah satu yang menarik adalah dengan hadirnya program Gerakan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (7KAIH) oleh Kementerian yang mengurusi pendidikan dasar dan menengah. 7KAIH tersebut terdiri atas bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan sehat dan bergizi, gemar belajar, bermasyarakat, serta tidur cepat.
Kebiasaan-kebiasaan ini dapat menjadi strategi yang cukup ampuh untuk mengontrol penggunaan gawai. Misalnya kebiasaan tidur cepat dan bangun pagi secara langsung dapat mengurangi kebiasaan anak yang suka bermain gawai hingga larut malam dan membuat tubuh anak menjadi sehat. Selain itu, dengan mendorong kebiasaan gemar belajar, penggunaan gawai dapat diarahkan untuk hal-hal yang lebih bermanfaat, ketimbang sekedar hiburan. Kebiasaan berolahraga dan bermasyarakat juga penting, dengan aktivitas fisik dan sosial yang cukup mereka cenderung tidak terlalu bergantung pada gawai, sehingga membantu menciptakan keseimbangan antara aktivitas fisik dan digital bagi anak.
Tak kalah penting, para pengembang platform digital juga harus memiliki tanggung jawab moral. Fitur seperti batasan waktu, pengingat istirahat, dan konten ramah anak bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. Dunia digital harus dirancang agar lebih berpihak pada tumbuh kembang anak, dan bukan hanya mengejar engagement dan profit.
Gawai bukan musuh. Tetapi jika dibiarkan tanpa arah, gawai dapat menjadi ancaman bagi generasi masa depan. Sebaliknya, jika diatur dengan bijak, gawai dapat menjadi mitra strategis dalam memajukan pendidikan.
Masa depan bangsa bergantung pada kualitas pendidikan hari ini. Menjadi tantangan pendidikan ke depan bagaimana menyadarkan bahaya gawai bagi anak-anak Indonesia. Ini dapat dimulai dengan mengatur penggunaan layar. Pengaturan ini bukan dimaknai sebagai menolak teknologi, tetapi untuk merebut kembali fokus, semangat belajar, dan koneksi antarmanusia yang selama ini cenderung terkikis.
Kebiasaan-kebiasaan ini dapat menjadi strategi yang cukup ampuh untuk mengontrol penggunaan gawai. Misalnya kebiasaan tidur cepat dan bangun pagi secara langsung dapat mengurangi kebiasaan anak yang suka bermain gawai hingga larut malam dan membuat tubuh anak menjadi sehat. Selain itu, dengan mendorong kebiasaan gemar belajar, penggunaan gawai dapat diarahkan untuk hal-hal yang lebih bermanfaat, ketimbang sekedar hiburan. Kebiasaan berolahraga dan bermasyarakat juga penting, dengan aktivitas fisik dan sosial yang cukup mereka cenderung tidak terlalu bergantung pada gawai, sehingga membantu menciptakan keseimbangan antara aktivitas fisik dan digital bagi anak.
Tak kalah penting, para pengembang platform digital juga harus memiliki tanggung jawab moral. Fitur seperti batasan waktu, pengingat istirahat, dan konten ramah anak bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. Dunia digital harus dirancang agar lebih berpihak pada tumbuh kembang anak, dan bukan hanya mengejar engagement dan profit.
Gawai bukan musuh. Tetapi jika dibiarkan tanpa arah, gawai dapat menjadi ancaman bagi generasi masa depan. Sebaliknya, jika diatur dengan bijak, gawai dapat menjadi mitra strategis dalam memajukan pendidikan.
Masa depan bangsa bergantung pada kualitas pendidikan hari ini. Menjadi tantangan pendidikan ke depan bagaimana menyadarkan bahaya gawai bagi anak-anak Indonesia. Ini dapat dimulai dengan mengatur penggunaan layar. Pengaturan ini bukan dimaknai sebagai menolak teknologi, tetapi untuk merebut kembali fokus, semangat belajar, dan koneksi antarmanusia yang selama ini cenderung terkikis.
(wur)
Lihat Juga :