Gebrakan Efisiensi Anggaran Prabowo-Gibran, Jantung Ekonomi Kerakyatan

Selasa, 18 Maret 2025 - 15:29 WIB
loading...
A A A
Pada kampanye Pilpres 2014 dan 2019 Prabowo berkali-kali menggaungkan soal besarnya kebocoran anggaran negara yang nilainya berkisar Rp1.000 triliun. Di antaranya adalah kebocoran pada sisi APBN hingga 25%, berupa penggelembungan (mark-up) pada berbagai proyek. Selebihnya dalam bentuk hilangnya potensi penerimaan pajak dan subsidi energi yang terus membengkak.

Efisiensi Demi Anggaran Berkualitas dan Program Prioritas

Menindaklanjuti Inpres tetang target efisiensi, kementerian dan lembaga kemudian melakukan rekonstruksi anggaran atau perombakan target tersebut dan membahasnya untuk pendalaman bersama mitra DPR pada masing-masing komisi. Hasilnya, DPR menyetujui perubahan target efisiensi APBN 2025 menjadi Rp308 triliun.

Pada pidato HUT ke-17 Gerindra, Prabowo memunculkan target baru efisiensi yang bisa mencapai Rp750 triliun dan berjalan dalam tiga putaran. Putaran pertama sebanyak Rp300 triliun berasal dari Bagian Anggaran Bendahara Umum Negara (BA BUN), yaitu bagian anggaran yang tidak masuk dalam anggaran kementerian dan lembaga atau menjadi kewenangan Menteri Keuangan.

Target efisiensi Rp308 triliun merupakan putaran kedua, di mana penyisiran anggaran dilakukan hingga satuan 9 atau item belanja paling rinci. Dari hasil penghematan putaran kedua tersebut, sebanyak Rp58 triliun akan dikembalikan kepada 17 kementerian dan lembaga, sehingga sisanya menjadi Rp250 triliun.

Putaran ketiga nanti menyasar dividen BUMN yang ditargetkan mencapai Rp300 triliun, di mana Rp100 triliun dikembalikan kepada BUMN sebagai penyertaan modal negara (PMN) dan sisanya Rp200 triliun digunakan untuk negara. Total dari ketiga putaran efisiensi, pemerintah bisa menghemat anggaran senilai Rp750 triliun sepanjang tahun 2025.

Dari hasil penghematan tersebut, Prabowo berencana menggunakan sebagian untuk program prioritas makan bergizi gratis (MBG). Sisanya akan diinvestasikan melalui BPI Danantara yang baru saja dibentuk untuk mendanai proyek-proyek nasional khususnya industrialisasi dan hilirisasi yang berdampak tinggi kepada masyarakat.

Selain menambal program-program unggulan Prabowo, efisiensi yang dilakukan pemerintah juga bertujuan untuk meningkatkan prinsip belanja negara yang berkualitas (spending better). Efisiensi anggaran yang dimulai tahun ini akan berlanjut pada tahun-tahun berikutnya, dan diharapkan bisa membangun budaya baru dalam kerja-kerja birokrasi.

Sebagai catatan, Presiden Jokowi pernah mengeluarkan Inpres No. 4 dan No. 8 tahun 2016 tentang langkah penghematan belanja kementerian dan lembaga melalui mekanisme blokir mandiri. Target pemangkasan saat itu awalnya hanya sebesar Rp50 triliun, kemudian naik sedikit menjadi Rp64,7 triliun dalam APBN Perubahan 2016.

Semasa pandemi Covid-19 dan demi pemulihan ekonomi nasional, Jokowi juga melakukan refocusing anggaran dengan mekanisme automatic adjustment, atau pemblokiran anggaran pada awal tahun. Ketika baru awal terpilih sebagai presiden, Jokowi memangkas subsidi BBM besar-besaran dan merealokasi anggarannya untuk menggenjot pembangunan infrastruktur.

Demikian pula dengan pemerintahan sebelum-sebelumnya, seperti Megawati dan Susilo Bambang Yudhoyono melakukan penghematan anggaran dengan prioritas yang berbeda-beda. Pada tingkat lokal, gebrakan kader-kader Partai Solidaritas Indonesia (PSI) di DPRD DKI Jakarta dalam menyisir banyaknya kejanggalan anggaran era Gubernur Anies Baswedan menjadi fenomenal.

Respons Publik dan Salah Kaprah soal Efisiensi

Sebagai upaya terobosan, kebijakan efisiensi anggaran mengundang beragam tanggapan dari berbagai kalangan. Pasca-terbitnya Inpres, sejumlah kementerian dan lembaga serta instansi Pemda mulai mengencangkan ikat pinggang. Kantor-kantor mengurangi penggunaan listrik dan pendingin ruangan, serta mendorong pegawai bekerja dari luar kantor (work from anywhere).

Kekhawatiran muncul terhadap dampak efisiensi anggaran, dari kabar dirumahkannya kontributor TVRI dan RRI maupun pegawai honorer di daerah, terancamnya mitigasi bencana karena berkurangnya pemeliharaan alat-alat untuk early warning system, hingga tertekannya usaha perhotelan yang banyak mengandalkan pangsa pasar pemerintah.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Histeria Ojol dan Kerentanan...
Histeria Ojol dan Kerentanan Ekstrem Pekerja 'Gig Economy'
B50: Strategi Diplomasi...
B50: Strategi Diplomasi Sawit Berkelanjutan
Wamensesneg: Presiden...
Wamensesneg: Presiden Sangat Paham dan Menghargai Kebebasan Akademik di Kampus
Latsarmil Manajer Kopdes...
Latsarmil Manajer Kopdes Dievaluasi, Istana: Insyaaallah, Tidak Terjadi Korban Lagi
LPI Minta Program Prioritas...
LPI Minta Program Prioritas Nasional Dievaluasi Agar Sesuai Arahan Presiden
Narkoba, Masa Depan...
Narkoba, Masa Depan Bangsa, dan Kerja Sama Internasional
Prabowo Targetkan Pangkas...
Prabowo Targetkan Pangkas 1.000 BUMN Jadi Tinggal Tersisa 250
Ketum IPSI Sambut Komitmen...
Ketum IPSI Sambut Komitmen Presiden Prabowo soal Pelatnas Jangka Panjang, Optimistis Pencak Silat Mendunia
Presiden Prabowo Berikan...
Presiden Prabowo Berikan Bantuan Alat Drumben untuk SDN Tegalega Sukabumi
Rekomendasi
Beasiswa LPDP Tahap...
Beasiswa LPDP Tahap 2 2026 Dibuka Hari Ini, Intip Perubahan Kebijakannya
Sidang Lanjutan Praperadilan...
Sidang Lanjutan Praperadilan Roy Suryo, Polda Metro Jaya Bacakan Jawaban
QuickPro Ajak Trader...
QuickPro Ajak Trader Emas Bangun Kemandirian Analisa
Berita Terkini
Profil Kolonel Marinir...
Profil Kolonel Marinir Profs Dhegratmen Syah Akbara, Perwira Petarung yang Jabat Dandenjaka
Revisi UU Hak Cipta...
Revisi UU Hak Cipta Jangan Sampai Ciptakan Ketidakpastian Baru
Latihan Menembak Dihapus...
Latihan Menembak Dihapus dari Pembekalan Calon Manajer Kopdes, Puan: Sebaiknya Fokus Manajerial Saja
Kejari Jaksel Sebut...
Kejari Jaksel Sebut Praperadilan Roy Suryo Salah Alamat
Nadiem Makarim Hadapi...
Nadiem Makarim Hadapi Sidang Vonis Korupsi Chromebook, Puluhan Ojol Gelar Aksi di Luar Pengadilan
Dito Ariotedjo Lebih...
Dito Ariotedjo Lebih Langsing saat Penuhi Panggilan KPK Hari Ini: Finish Hyrox Under 2 Jam
Infografis
Bakar Uang Demi Perang:...
Bakar Uang Demi Perang: Jejak Kelam Ekonomi Militer AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved