Denny JA, Pelopor Puisi Esai yang Menghidupkan Sejarah dan Advokasi Sosial
Kamis, 13 Februari 2025 - 13:16 WIB
loading...
A
A
A
Selain itu, Denny JA juga mengangkat kesedihan H.O.S. Tjokroaminoto saat muridnya sendiri, Semaun, memecah Sarekat Islam menjadi SI Merah dan SI Putih. Melalui puisi esainya, Denny JA tidak hanya menceritakan sejarah, tetapi juga merefleksikan problem sosial masa kini.
Denny JA menggunakan sastra sebagai alat advokasi sosial. Ia menjadikan sejarah sebagai latar untuk merefleksikan isu-isu kontemporer, seperti diskriminasi, ketidakadilan sosial, dan penindasan. Seperti Émile Zola yang menulis tentang dampak revolusi industri terhadap kelas pekerja, Denny JA menggunakan sejarah untuk membangun kesadaran publik.
“Jika sastra dunia mengenal Émile Zola dalam naturalisme, Pablo Neruda dalam puisi epik, dan Svetlana Alexievich dalam dokumenter sastra, maka Denny JA bisa disebut sebagai pelopor Puisi Esai—sebuah genre yang mendobrak batas antara sastra, sejarah, dan advokasi sosial,” katanya.
Denny JA menggunakan sastra sebagai alat advokasi sosial. Ia menjadikan sejarah sebagai latar untuk merefleksikan isu-isu kontemporer, seperti diskriminasi, ketidakadilan sosial, dan penindasan. Seperti Émile Zola yang menulis tentang dampak revolusi industri terhadap kelas pekerja, Denny JA menggunakan sejarah untuk membangun kesadaran publik.
“Jika sastra dunia mengenal Émile Zola dalam naturalisme, Pablo Neruda dalam puisi epik, dan Svetlana Alexievich dalam dokumenter sastra, maka Denny JA bisa disebut sebagai pelopor Puisi Esai—sebuah genre yang mendobrak batas antara sastra, sejarah, dan advokasi sosial,” katanya.
(cip)
Lihat Juga :