Akidah di Era AI

Senin, 10 Februari 2025 - 13:00 WIB
loading...
Akidah di Era AI
Muhammad Irfanudin Kuniawan - Dosen Universitas Darunnajah. Foto/Dok pribadi
A A A
Muhammad Irfanudin Kurniawan
Dosen Universitas Darunnajah

Di era digital ini, AI telah memasuki berbagai aspek kehidupan, dari dunia kerja hingga pendidikan, bahkan mempengaruhi cara kita memahami kebenaran. Kita mengandalkan algoritma untuk mengambil keputusan, menggali informasi, dan tidak sedikit yang menggunakannya untuk menentukan standar moralitas. Namun, apakah kita masih mampu berpikir jernih dalam memahami akidah kita sendiri? Ataukah kita justru terseret dalam arus kecerdasan buatan tanpa memiliki fondasi keyakinan yang kokoh?

Apabila ada seseorang yang baru belajar berenang kemudian langsung menceburkan diri ke laut tanpa pelampung. Ia mungkin bisa mengapung sejenak, tetapi tanpa pemahaman, pelatihan dan pembiasaan yang benar tentang berenang, ombak akan segera menyeretnya ke ke dalam lautan. Begitu pula dengan manusia di era AI: jika kita tidak memiliki pemahaman akidah yang kuat, kita akan mudah terseret oleh arus informasi, hoaks, dan propaganda digital yang menyesatkan.

Inilah mengapa mempelajari akidah bukan sekadar kewajiban, tetapi kebutuhan esensial. Akidah bukan hanya keyakinan dalam hati, melainkan juga sistem berpikir yang membantu kita memilah mana yang benar dan mana yang batil. Akidah seperti garam dalam makanan yang memberikan cita rasa terhadap angka dan data. Jika kita kehilangan kemampuan berpikir jernih dalam berakidah, maka kita berisiko menggantikan iman dengan algoritma, menggantikan kepercayaan dengan probabilitas, dan menggantikan hakikat dengan ilusi digital.

Patrick King, dalam bukunya The Art of Clear Thinking, menjelaskan bagaimana mental models membantu kita mengambil keputusan yang lebih baik. Prinsip-prinsip dalam buku ini memiliki relevansi yang mendalam terhadap bagaimana kita memahami dan mengokohkan akidah di era AI.

Pertama, menguji Asumsi dan Bias. AI bekerja berdasarkan data, tetapi data tidak selalu netral. Algoritma bisa membawa bias, begitu pula cara berpikir kita tentang agama. Sering kali, kita menerima informasi agama dari media sosial tanpa memverifikasinya. Padahal, dalam Islam, kita diajarkan untuk Tabayyun (memverifikasi informasi) sebelum mempercayainya. Tanpa akidah yang kokoh, kita bisa terjebak dalam narasi yang salah, baik itu ekstremisme beragama maupun sekularisme radikal.

Kedua, melihat dari Berbagai Perspektif. Seorang mukmin sejati tidak hanya menerima ajaran agama secara pasif, tetapi juga berusaha memahami hikmah di baliknya. Mental model ini mengajarkan kita untuk melihat Islam sebagai sistem yang menyeluruh (syumul), bukan hanya dari satu sudut pandang. Jika kita membatasi pemahaman agama hanya berdasarkan opini influencer di media sosial, kita bisa kehilangan esensi Islam yang sebenarnya.

Ketiga, menghindari Kekeliruan Logika dalam Beragama. Banyak orang menganggap bahwa akidah cukup diwarisi, bukan dipelajari. Mereka menerima Islam sebagai tradisi, bukan sebagai kebenaran mutlak yang harus dipahami dan diyakini dengan akal sehat. Kesalahan berpikir ini serupa dengan apa yang disebut Patrick King sebagai logical fallacies—kesesatan berpikir yang bisa membuat kita menerima sesuatu tanpa dasar yang kuat.

Keempat, berani Menghadapi Ketidakpastian. AI menawarkan prediksi dan kepastian berbasis data. Namun, hidup tidak selalu bisa dihitung dengan algoritma. Ada banyak hal dalam kehidupan yang memerlukan Al-Iman bil Ghaib—percaya pada yang tidak terlihat tetapi diyakini kebenarannya. Berakidah di era AI berarti tetap memiliki keyakinan bahwa ada aspek kehidupan yang tidak bisa dijelaskan hanya dengan logika dan data.

Kelima, kesadaran Diri dalam Berpikir. Dalam Islam, kita diajarkan untuk selalu melakukan Muhasabah (introspeksi diri). Mental model ini mengajarkan bahwa berpikir jernih tidak hanya soal menghindari kesalahan logika, tetapi juga mengenali bagaimana emosi dan kebiasaan kita mempengaruhi pemikiran. Orang yang terbiasa mengandalkan AI dalam mengambil keputusan tanpa refleksi diri akan kehilangan kepekaan spiritualnya.

Di tengah banjir informasi dan gempuran AI, akidah memberikan peta jalan yang jelas. Tanpa akidah yang benar, kita akan mudah kehilangan arah, terseret dalam relativisme moral, dan akhirnya menggantikan iman dengan pragmatisme duniawi.

Sebagaimana AI membutuhkan data yang bersih untuk menghasilkan analisis yang benar, hati manusia juga membutuhkan ilmu akidah yang lurus agar dapat memahami tujuan hidupnya. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:

"Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); (sesuai) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui." (QS. Ar-Rum: 30)

Ini adalah peringatan bagi kita bahwa kebenaran tidak bisa ditentukan oleh algoritma atau opini mayoritas, tetapi harus bersumber dari wahyu yang murni.

Di era AI, manusia menghadapi tantangan besar: apakah kita tetap beriman atau justru menyerahkan kendali hidup kita kepada kecerdasan buatan? AI bisa membantu kita berpikir lebih jernih, tetapi hanya akidah yang bisa memberikan kita tujuan hidup yang sejati.

Maka, sudah saatnya kita kembali kepada ilmu akidah, bukan hanya sebagai pelajaran di sekolah atau pesantren, tetapi sebagai pedoman utama dalam menjalani kehidupan. Kita tidak bisa membiarkan AI menggantikan keyakinan kita terhadap Allah. Mari kita perkuat akidah kita dengan ilmu, dengan refleksi, dan dengan kesadaran bahwa hidup ini lebih dari sekadar data dan algoritma.

Sebab pada akhirnya, manusia bukanlah mesin yang hidup dari sekadar informasi. Manusia adalah makhluk yang memiliki jiwa, dan hanya akidah yang bisa menyelamatkan jiwa kita di tengah badai teknologi yang semakin dahsyat.
(wur)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Ekonomi Digital dan...
Ekonomi Digital dan Pendidikan: Peluang Besar atau Ancaman Baru?
Prabowo Ingatkan Ancaman...
Prabowo Ingatkan Ancaman AI: Hati-hati, Digunakan untuk Memecah Belah
AMSI Ungkap Fenomena...
AMSI Ungkap Fenomena AI Crawler Jadi Tekanan Baru Industri Media
Polri: Waspadai Kejahatan...
Polri: Waspadai Kejahatan Digital Berbasis AI
Algoritma, Air Mata,...
Algoritma, Air Mata, dan Dunia Islam: Siapa Mengendalikan Narasi di Era AI?
Dukung SKB 7 Menteri,...
Dukung SKB 7 Menteri, Nurul Arifin Dorong Pengembangan AI Lokal untuk Pendidikan
Penggunaan AI Melesat...
Penggunaan AI Melesat Sebabkan Harga Mobil Naik Signifikan
Bangun Kedaulatan Digital,...
Bangun Kedaulatan Digital, Telkom Pertemukan Regulator dan Pemain Industri
Kehilangan Kendali,...
Kehilangan Kendali, Anthropic Usulkan Hentikan Sementara Pengembangan AI
Rekomendasi
Anneth Delliecia Antusias...
Anneth Delliecia Antusias Meriahkan Konser Tehillim - The Heart of Worship
Selalu Jadi Target Iran,...
Selalu Jadi Target Iran, Kuwait Beli Senjata Anti-Drone Senilai Rp36 Triliun dari AS
Pemberangkatan Jemaah...
Pemberangkatan Jemaah Haji Gelombang Kedua dari Makkah Menuju Madinah Dimulai 7 Juni
Berita Terkini
Roy Suryo Bandingkan...
Roy Suryo Bandingkan Lamanya Penanganan Kasus Ijazah Jokowi dengan Jessica dan Ferdy Sambo
DKPP Pecat Ketua Bawaslu...
DKPP Pecat Ketua Bawaslu Kabupaten Tambrauw karena Terbukti Masih Berstatus ASN
KPK Ungkap Tahapan yang...
KPK Ungkap Tahapan yang Harus Dilalui untuk Ekstradisi Tersangka E-KTP Paulus Tannos
Terima Kunjungan Sekjen...
Terima Kunjungan Sekjen ICAPP, PKB Perkuat Jembatan Diplomasi Politik dengan Korsel
Desak DPR Segera Bahas...
Desak DPR Segera Bahas Revisi UU Pemilu, Perindo: Libatkan Partai Nonparlemen
Prediksi Ada Reshuffle,...
Prediksi Ada Reshuffle, Pengamat: Prabowo Butuh Menteri Eksekutor dan Komunikator Ulung
Infografis
10 Wonderkid Calon Bintang...
10 Wonderkid Calon Bintang di Piala Dunia 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved