alexametrics

PKS Ingatkan Jokowi soal Pejabat yang Suka Bikin Gaduh

loading...
PKS Ingatkan Jokowi soal Pejabat yang Suka Bikin Gaduh
Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Mohamad Sohibul Iman. Foto/dok PKS
A+ A-
JAKARTA - Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Mohamad Sohibul Iman meminta Presiden Joko Widodo mengambil sikap terhadap pejabat yang kerap membuat kegaduhan.

Sohibul tidak ingin Jokowi gagal memimpin negeri ini hanya karena kegaduhan yang dibuat para pejabat. Menurut dia, PKS memiliki tugas berat yang sama dengan pemerintah, yakni menyejahterakan rakyat.

Pak Jokowi, sebaiknya bapak kurangi beban politik daru pembantu-pembantu yang suka bikin gaduh. Saya ada di kubu politik berbeda tapi tidak ingin bapak gagal memimpin Indonesia gara-gara kegaduhan mereka. Saya mitra politik dalam menjayakan NKRI dan menyejahterakan rakyat. Kita memiliki tugas berat yang sama," kata Sohibul melalui akun Twitternya, @msi_sohibuliman, Kamis 13 Februari 2020. (Baca juga: PKS Ungkap Tiga Kesalahan Fatal Kepala BPIP)



Sebelumnya, Sohibul menilai masih adanya prilaku pejabat di Indonesia yang bertindak semaunya tanpa merasa ada memiliki pertanggungjawaban terhadap publik.

Padahal, menurut dia, salah satu fatsun pejabat adalah memiliki perasaan semakin berkuasa semakin tidak leluasa.

"Itu salah satu fatsun pejabat publik. Pejabat publik adalah mereka yang diberi wewenang ngelola urusan-urusan publik. Agar tidak ada benturan kepentingan maka pejabat harus rela nekan hasrat-hasrat pribadi dan keluarga, termasuk hasrat bicara sembarangan. Apalagi hasrat hidup glamor," kata Sohibul Iman.

Namun realita di Indonesia, kata dia, fatsunnya justru terbalik. Semakin memiliki kekuasaan, bertindak semakin leluasa, termasuk dalam berbicara dan membuat gaduh.

Tidak hanya membuat gaduh, kata dia, sikap semakin berkuasa ditunjukkan pejabat dengan melakukan korupsi, kolusi dan nepotisme.

"Memang realita di Indonesia sepertinya fatsun terbalik,'makin berkuasa makin leluasa'. Merasa leluasa denga kekuasaannya maka banyak pejabat bertindak semaunya, termasuk asal bicara, bikin gaduh (hoax), korupsi, kolusi, nepotisme dan lain-lain. Tidak merasa ada 'pertanggung jawaban publik'," kata Sohibul
(dam)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Facebook
  • Disqus
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak