Infrastruktur Digital Terbatas, DPR Minta Pemerintah Tak Andalkan Influencer
Selasa, 01 September 2020 - 12:23 WIB
loading...
Foto/ilustrasi.SINDOnews
A
A
A
JAKARTA - Kritik atas pelibatan influencer dijawab pemerintah untuk menjembatani sosialisasi kebijakan kepada masyarakat. Namun, alasan itu dianggap tidak cukup kuat menjadi dalih pelibatan influencer dan buzzer karena beragamnya kondisi daerah di Indonesia.
“Saya pikir pemerintah bisa memanfaatkan banyak jembatan. Ada media, televisi, kemudian medsos, surat kabar. Kalau memang kurang, ya itu bukan alasan pokok bahwa influencer-influencer yang menjadi bisa menjembatani pemerintah dengan masyarakat,” kata Wakil Ketua DPR Koordinator Ekonomi dan Keuangan (Korekku) Sufmi Dasco Ahmad kepada wartawan di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa (1/9/2020).
(Baca: Jasa Influencer, PKS: Pemerintah Bertanggung Jawab atas Terbelahnya Rakyat)
Politikus Partai Gerindra ini menduga pelibatan influencer hanya bagian kecil metode yang bisa dipakai pemerintah.Jika pemerintah hanya terfokus pada penggunaan influencer, dia menilai langkah itu kurang tepat dilakukan karena di Indonesia kondisinya beragam, terutama pada ketersediaan sarana prasarana atau infrastruktur digital.
“Ada keterbatasan sarana dan prasarana serta jarak jangkau. Saya pikir tidak cukup,” tegasnya.
“Saya pikir pemerintah bisa memanfaatkan banyak jembatan. Ada media, televisi, kemudian medsos, surat kabar. Kalau memang kurang, ya itu bukan alasan pokok bahwa influencer-influencer yang menjadi bisa menjembatani pemerintah dengan masyarakat,” kata Wakil Ketua DPR Koordinator Ekonomi dan Keuangan (Korekku) Sufmi Dasco Ahmad kepada wartawan di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa (1/9/2020).
(Baca: Jasa Influencer, PKS: Pemerintah Bertanggung Jawab atas Terbelahnya Rakyat)
Politikus Partai Gerindra ini menduga pelibatan influencer hanya bagian kecil metode yang bisa dipakai pemerintah.Jika pemerintah hanya terfokus pada penggunaan influencer, dia menilai langkah itu kurang tepat dilakukan karena di Indonesia kondisinya beragam, terutama pada ketersediaan sarana prasarana atau infrastruktur digital.
“Ada keterbatasan sarana dan prasarana serta jarak jangkau. Saya pikir tidak cukup,” tegasnya.
Lihat Juga :