alexametrics

Evaluasi Kabinet, Tahun 2020 Dianggap Ujian Pertama bagi Jokowi

loading...
Evaluasi Kabinet, Tahun 2020 Dianggap Ujian Pertama bagi Jokowi
Sehingga, momentum 2020 nanti harus dimaksimalkan Joko Widodo (Jokowi)-KH Ma'ruf Amin untuk memperkuat konsolidasi politik dan pemerintahannya. (Foto/SINDOphoto/Dok)
A+ A-
JAKARTA - CEO Voxpol Center Research and Consulting, Pangi Syarwi Chaniago memprediksi tensi politik tahun 2020 tak sepanas 2019. Sehingga, momentum 2020 nanti harus dimaksimalkan Joko Widodo (Jokowi)-KH Ma'ruf Amin untuk memperkuat konsolidasi politik dan pemerintahannya.

"Pilkada tahun 2020 adalah tahun memanaskan mesin politik bagi parpol. Kemenangan pilkada di daerah sangat membantu partai nanti di pilpres 2024," kata Pangi saat dihubungi SINDOnews, Jumat (27/12/2019).

(Baca juga: Refleksi Akhir Tahun, DPD Ajak Daerah Sinergi Hadapi Pelambatan Ekonomi)



Namun demikian Pangi menyebut, tahun 2020 nanti merupakan ujian bagi negara-negara di dunia termasuk Indonesia dalam mengatasi resesi ekonomi global, apakah nanti mampu melewati 'jebakan batman' ekonomi global tersebut, akibat kondisi ekonomi yang tidak menentu dan efek perang dagang antara China dan Amerika Serikat.

Kembali ke internal dalam negeri, Pangi mengatakan, pada pilkada 2020, tetap akan bising, walaupun narasinya tidak sebising friksi antara 'cebong dan kampret,' yang pernah populer di 2019.

Menurut dia, narasi yang dikembangkan akan berbeda, dinasti politik akan menguat, money politik dan antara mengusung kader sendiri (meritokrasi) dengan kader eksternal yang populer dan tanding pamer isi tas akan mewarnai politik 2020.

"Di tahun 2020 juga adalah fase ujian pertama bagi Jokowi untuk mengevaluasi kinerja menterinya, ini adalah tahun pembuktian bagi Jokowi bahwa melakukan reshuffle berbasis kinerja, bukan politik akomodatif semata," ujarnya.

"Tahun 2020 momentum yang tepat bagi Jokowi untuk segera berbenah dan mengevaluasi kinerja pembantunya, sebab tantangan pak Jokowi sangat tinggi di saat kondisi ekonomi dan politik yang tidak menentu dan tantangan yang berat bagi Jokowi. Termasuk memindahkan infrastruktur ibu kota baru disaat neraca ekonomi defisit dan resesi ekonomi global," imbuhnya.

Lebih lanjut Pangi memprediksi pada 2020 bakal menjadi pertarungan penting bagi partai, karena kemenangan Pilkada 2020 akan sangat memudahkan mesin partai bergerak menjemput kemenangan Pilpres di tahun 2020.

Artinya menurut dia, pilkada 2020 yang bakal di selenggarakan di 270 daerah, selain menguatnya politik dinasti, money politik, dan politik identitas, nampaknya tetap mengeras dan akan dijadikan komoditas politik memenangkan kontestasi elektoral pilkada 2020.

"Kita bisa saksikan bagaimana kerasnya benturan dan pembelahan publik pada tanding ulang "rematch" pilpres 2019, narasi politik identitas yang paling pancasila dan paling sholeh tetap mengeras, soal kafir mengkafirkan, pilpres dibuat seperti suasana perang dan jalan masuk syorga dalam menguji iman pemilih," ungkapnya

"Walaupun pada akhirnya tidak happy ending karena meleburnya cebong dan kampret, tidak lagi berguna sang penantang dalam bertanding sebab kalah dan menang tetap bergabung ke koalisi pemerintah yang sama sama kebahagian harta rampasan perang. Walaupun nanti politik edentitas tidak sekeras pilpres benturan dan pembelahannya," jelasnya.
(maf)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Facebook
  • Disqus
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak