Signifikansi Peran PKB sebagai Representasi Politik Hijau dalam Pemerintahan Prabowo
Minggu, 13 Oktober 2024 - 09:36 WIB
loading...
A
A
A
Bahkan, dengan lantang Prabowo menyebutkan bahwa meskipun PKB sempat meninggalkannya dan memilih berkoalisi dengan Nasdem dan PKS untuk mendukung pasangan Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar, namun Prabowo sejak awal meyakini PKB akan kembali untuk mendukungnya dan ikut bersama-sama menyukseskan pembangunan di pemerintahannya. Sebab, perbedaan pilihan politik baik di pilpres ataupun pilkada adalah persoalan biasa dalam politik. Namun, Prabowo meyakini bahwa masing-masing partai politik memiliki niatan yang sama untuk membangun bangsa.
Sinyal bahwa Prabowo akan mengajak serta PKB di pemerintahannya bukan baru kali ini ditunjukkan. Bahkan, PKB adalah partai politik pertama yang didatangi Prabowo, setelah dinyatakan menang pada Pilpres 2024. Begitu KPU menggelar sidang penetapan presiden dan wakil presiden terpilih pada Rabu pagi (24/4/2024) yang dihadiri oleh Anies Baswedan dan Muhaimin Iskandar, pada sore harinya, Prabowo dan sejumlah elite Partai Gerindra langsung datang ke Kantor DPP PKB di Jalan Raden Saleh, dan mengajak PKB untuk bersama-sama dalam koalisi pemerintahannya.
Sikap Prabowo ini menunjukkan bahwa PKB memiliki peran sangat penting sebagai representasi “politik hijau” pada pemerintahannya mendatang. Apalagi, saat ini PKB adalah satu-satunya resresentasi “politik hijau” di Parlemen, setelah Partai Persatuan Pembangunan (PPP) tidak lolos parliamentary threshold (PT) sehingga tersingkir dari Senayan. Prabowo menyebut PKB adalah satu kekuatan politik religius yang nasionalis sedangkan Gerindra adalah parpol nasionalis yang religius.
Memang, pemerintahan Prabowo akan juga didukung oleh Pengurus Besar Nahdlatu Ulama (PBNU). Bahkan, sekjen PBNU Saifullah Yusuf juga kemungkinan besar akan meneruskan jabatannya sebagai menteri sosial di kabinet Prabowo. Namun, PBNU adalah organisasi kemasyarakatan (ormas) dan bukan partai politik yang tidak punya peran secara langsung di Parlemen.
Kekuatan “politik hijau” atau representasi politik Nahdlatul Ulama (NU) di Parlemen adalah PKB, meskipun di semua parpol yang lolos ke Senayan ada kader NU. Pentingnya peran politik PKB sebagai representasi “politik hijau” ini sejak jauh-jauh hari sudah disadari oleh Prabowo. Bahkan, sebelum akhirnya pecah kongsi di Pilpres 2024, PKB adalah parpol pertama yang mendeklarasikan berkoalisi dengan Partai Gerindra dalam ikatan Koalisi Kebangkitan Indonesia Raya (KKIR).
Dengan kekuatan 68 kursi di Senayan, dan raihan 16 juta lebih suara hasil Pemilu 2024, PKB menjadi satu kekuatan politik yang tidak bisa dianggap sepele. PKB adalah parpol dengan jumlah pemilih terbesar keempat, setelah PDIP, Partai Golkar, dan Partai Gerindra. Selain itu, segmen pemilih PKB juga sangat jelas, yakni pemilih nahdliyin dan kalangan pesantren. PKB adalah parpol berbasis pemilih Islam terbesar di Indonesia.
Meskipun, PKB menegaskan sebagai partai politik yang inklusif dengan pemilih yang tidak hanya dari kalangan nahdliyin atau pemilih Islam, namun parpol yang terbuka untuk seluruh kalangan. Begitu juga wakil-wakil yang terpilih menduduki kursi parlemen dari PKB, juga berasal dari berbagai golongan dan etnis. Bahkan, PKB berani menempatkan wakil dari kelompok minoritas, Tionghoa dan nonmuslim, yakni Rusdi Kirana sebagai Wakil Ketua MPR RI dan waketum DPP PKB.
Sinyal bahwa Prabowo akan mengajak serta PKB di pemerintahannya bukan baru kali ini ditunjukkan. Bahkan, PKB adalah partai politik pertama yang didatangi Prabowo, setelah dinyatakan menang pada Pilpres 2024. Begitu KPU menggelar sidang penetapan presiden dan wakil presiden terpilih pada Rabu pagi (24/4/2024) yang dihadiri oleh Anies Baswedan dan Muhaimin Iskandar, pada sore harinya, Prabowo dan sejumlah elite Partai Gerindra langsung datang ke Kantor DPP PKB di Jalan Raden Saleh, dan mengajak PKB untuk bersama-sama dalam koalisi pemerintahannya.
Sikap Prabowo ini menunjukkan bahwa PKB memiliki peran sangat penting sebagai representasi “politik hijau” pada pemerintahannya mendatang. Apalagi, saat ini PKB adalah satu-satunya resresentasi “politik hijau” di Parlemen, setelah Partai Persatuan Pembangunan (PPP) tidak lolos parliamentary threshold (PT) sehingga tersingkir dari Senayan. Prabowo menyebut PKB adalah satu kekuatan politik religius yang nasionalis sedangkan Gerindra adalah parpol nasionalis yang religius.
Memang, pemerintahan Prabowo akan juga didukung oleh Pengurus Besar Nahdlatu Ulama (PBNU). Bahkan, sekjen PBNU Saifullah Yusuf juga kemungkinan besar akan meneruskan jabatannya sebagai menteri sosial di kabinet Prabowo. Namun, PBNU adalah organisasi kemasyarakatan (ormas) dan bukan partai politik yang tidak punya peran secara langsung di Parlemen.
Kekuatan “politik hijau” atau representasi politik Nahdlatul Ulama (NU) di Parlemen adalah PKB, meskipun di semua parpol yang lolos ke Senayan ada kader NU. Pentingnya peran politik PKB sebagai representasi “politik hijau” ini sejak jauh-jauh hari sudah disadari oleh Prabowo. Bahkan, sebelum akhirnya pecah kongsi di Pilpres 2024, PKB adalah parpol pertama yang mendeklarasikan berkoalisi dengan Partai Gerindra dalam ikatan Koalisi Kebangkitan Indonesia Raya (KKIR).
Dengan kekuatan 68 kursi di Senayan, dan raihan 16 juta lebih suara hasil Pemilu 2024, PKB menjadi satu kekuatan politik yang tidak bisa dianggap sepele. PKB adalah parpol dengan jumlah pemilih terbesar keempat, setelah PDIP, Partai Golkar, dan Partai Gerindra. Selain itu, segmen pemilih PKB juga sangat jelas, yakni pemilih nahdliyin dan kalangan pesantren. PKB adalah parpol berbasis pemilih Islam terbesar di Indonesia.
Meskipun, PKB menegaskan sebagai partai politik yang inklusif dengan pemilih yang tidak hanya dari kalangan nahdliyin atau pemilih Islam, namun parpol yang terbuka untuk seluruh kalangan. Begitu juga wakil-wakil yang terpilih menduduki kursi parlemen dari PKB, juga berasal dari berbagai golongan dan etnis. Bahkan, PKB berani menempatkan wakil dari kelompok minoritas, Tionghoa dan nonmuslim, yakni Rusdi Kirana sebagai Wakil Ketua MPR RI dan waketum DPP PKB.
Lihat Juga :