15 Juta Orang Indonesia Bisa Divaksinasi Covid Akhir 2020
Kamis, 27 Agustus 2020 - 14:15 WIB
loading...
15 Juta Orang Indonesia Bisa Divaksinasi Covid Akhir 2020
A
A
A
JAKARTA - Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir menjelaskan soal kerja sama pembuatan vaksin Covid-19 antara PT Bio Farma dengan perusahaan farmasi dari China dan Uni Emirat Arab (UEA). Jika uji klinis berjalan lancar, maka pada akhir 2020 ini, 15 juta orang Indonesia sudah bisa divaksinasi. Dan sisanya dilanjutkan di awal 2021.
“Program Indonesia sehat tidak mungkin tidak didahulukan, tidak mungkin Indonesia tumbuh tanpa kesehatan. Di awali program penegakan sosialisasi, masker, cuci tangan, jaga jarak, testing, tracing treatment, bantuan produktif bagi keluarga miskin, usaha mikro padat karya, dan lain-lain. Setelah jalan, kita lakukan program vaksinasi yang insya Allah dimulai awal 2021 dan kemudian kita melakukan stimulus ekonomi lainnya,” kata Erick dalam Rapat Kerja (Raker) Komisi IX DPR di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Kamis (27/8/2020). (Baca juga: 8 Pegawai Positif COVID-19, Gedung DPD RI Ditutup Sementara)
Erick menjelaskan, Indonesia sudah melakukan 2 kerja sama vaksin dengan perusahaan dari negara lain. Tentu, prioritas utama Indonesia adalah vaksin Merah-Putih. Untuk itu, Presiden akan segera meneken keputusan presiden (keppres) terkait percepatan vaksin Merah -Putih di bawah pimpinan Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) Bambang Brodjonegoro dan Wakil Ketua Menteri Kesehatan (Menkes) dan dirinya sendiri.
“Wakil ketua saya juga karena infrastruktur yang akan banyak digunakan adalah milik BUMN,” terang Wakil Ketua Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional itu. (Baca juga: Terdampak COVID-19, Puluhan WNI di Panama dan Peru Dipulangkan)
Erick memaparkan, pihaknya sudah melakukan kontak dengan China dan UEA. Dengan China, perusahaan Sinovac Biotech, Ltd akan bekerja sama dengan Bio Farma dan ada komitmen 20 juta dosis vaksin pada akhir 2020 dan 250 juta di 2021. Vaksin dengan Sinovac ini tidak membutuhkan hak paten dan pihaknya menekankan bahwa kerja sama tidak hanya dalam proses produksi tapi juga transfer teknologi.
“Bio Farma sudah punya kemampuan vaksin yang kebanyakan generik. Ada 15 jenis vaksin yang diproduksi Bio Farma. Kapasitas produksi 2 miliar. Kemarin sudah kita tingkatkan lagi 250 juta khususnya vaksin Covid,” paparnya. (Baca juga: Pegawai dan Tahanan Positif Covid-19, KPK Lakukan Tindakan Ini)
Kemudian, Sinovac memiliki kemampuan produksi 600 juta per tahun yang akan ditingkatkan menjadi 1,2 miliar di 2021. Dan uji klinis untuk tahap ketiga tidak hanya dilakukan di Indonesia tetapi juga di Saudi Arabia, Bangladesh, Turki, dan Cili.
“Program Indonesia sehat tidak mungkin tidak didahulukan, tidak mungkin Indonesia tumbuh tanpa kesehatan. Di awali program penegakan sosialisasi, masker, cuci tangan, jaga jarak, testing, tracing treatment, bantuan produktif bagi keluarga miskin, usaha mikro padat karya, dan lain-lain. Setelah jalan, kita lakukan program vaksinasi yang insya Allah dimulai awal 2021 dan kemudian kita melakukan stimulus ekonomi lainnya,” kata Erick dalam Rapat Kerja (Raker) Komisi IX DPR di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Kamis (27/8/2020). (Baca juga: 8 Pegawai Positif COVID-19, Gedung DPD RI Ditutup Sementara)
Erick menjelaskan, Indonesia sudah melakukan 2 kerja sama vaksin dengan perusahaan dari negara lain. Tentu, prioritas utama Indonesia adalah vaksin Merah-Putih. Untuk itu, Presiden akan segera meneken keputusan presiden (keppres) terkait percepatan vaksin Merah -Putih di bawah pimpinan Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) Bambang Brodjonegoro dan Wakil Ketua Menteri Kesehatan (Menkes) dan dirinya sendiri.
“Wakil ketua saya juga karena infrastruktur yang akan banyak digunakan adalah milik BUMN,” terang Wakil Ketua Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional itu. (Baca juga: Terdampak COVID-19, Puluhan WNI di Panama dan Peru Dipulangkan)
Erick memaparkan, pihaknya sudah melakukan kontak dengan China dan UEA. Dengan China, perusahaan Sinovac Biotech, Ltd akan bekerja sama dengan Bio Farma dan ada komitmen 20 juta dosis vaksin pada akhir 2020 dan 250 juta di 2021. Vaksin dengan Sinovac ini tidak membutuhkan hak paten dan pihaknya menekankan bahwa kerja sama tidak hanya dalam proses produksi tapi juga transfer teknologi.
“Bio Farma sudah punya kemampuan vaksin yang kebanyakan generik. Ada 15 jenis vaksin yang diproduksi Bio Farma. Kapasitas produksi 2 miliar. Kemarin sudah kita tingkatkan lagi 250 juta khususnya vaksin Covid,” paparnya. (Baca juga: Pegawai dan Tahanan Positif Covid-19, KPK Lakukan Tindakan Ini)
Kemudian, Sinovac memiliki kemampuan produksi 600 juta per tahun yang akan ditingkatkan menjadi 1,2 miliar di 2021. Dan uji klinis untuk tahap ketiga tidak hanya dilakukan di Indonesia tetapi juga di Saudi Arabia, Bangladesh, Turki, dan Cili.
Lihat Juga :