alexametrics

Purnatugas dari Menteri, Hanif Dhakiri Ceritakan Awal Menginjak Ibu Kota

loading...
Purnatugas dari Menteri, Hanif Dhakiri Ceritakan Awal Menginjak Ibu Kota
Hanif Dhakiri yang juga Wakil Ketua Umum PKB resmi mengakhiri masa tugasnya sebagai Menteri Tenaga Kerja (Menaker) pada Kabinet Kerja Jilid I. Foto/Facebook Hanif Dhakiri
A+ A-
JAKARTA - Hanif Dhakiri resmi mengakhiri masa tugasnya sebagai Menteri Tenaga Kerja (Menaker) pada Kabinet Kerja Jilid I. Melalui akun Facebook miliknya, Wakil Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu menceritakan kisah hidupnya.

Diawali dengan tulisan dengan huruf kapital, "TERIMA KASIH", Hanif Dhakiri kemudian menceritakan awal kedatangannya ke Ibu Kota pada awal 1997 silam. "Saya berangkat ke Jakarta, dipanggil Pak Matori Abdul Djalil, Ketum @dpp_pkb pertama & Menteri Pertahanan Kabinet Ibu Megawati Soekarnoputri," tulisnya, Sabtu (19/10/2019).

Sebagai mahasiswa yang baru lulus kuliah pada 1996, Hanif berangkat ke Jakarta naik bus trayek Solo-Jakarta dari Salatiga. Saat itu, ongkos bus ekonomi hanya sekitar Rp8.000. "Dan saya tertidur di pintu tangga bus yg penuh penumpang. Bekal saya merantau ke Jakarta adalah tas ransel andalan waktu kuliah & berisi beberapa potong baju, kaos & celana jeans," urainya.



Pada hari-hari pertama berada di Jakarta, Hanif numpang tinggal dan tidur di Kantor ISIS (Institute for Social Institutions Studies), yayasan sosial politik yang didirikan Matori Abdul Djalil dkk di kawasan Cawang, Jakarta Timur. "Tidur di atas meja rapat kantor, persis di bawah kipas angin yang dipasang di langit-langit karena Jakarta sangat panas. Berbeda dg kampung halaman saya, Salatiga, yang dingin karena berada di lembah Gunung Merbabu. Bantal tidur saya istimewa, namanya Yellow Pages, buku telepon sangat tebal, yg dulu pasti dimiliki rata-rata kantor dan bahkan rumah tangga," tulisnya.

Hanif mengaku tidak menyangka, perjalanan hidup membawanya dari awalnya hanya orang kampung super biasa layaknya kebanyakan orang Indonesia hingga berhasil menapaki karir sebaga seorang menteri.

"Menjadi pembantu Pak @jokowi dan Pak @jusufkalla sbg Menteri @kemnaker RI 2014-2019. Tentu ini kehormatan luar biasa buat saya & keluarga besar di kampung, terutama Abah yg guru SD & pekerja serabutan, serta Ibu saya yg pernah menjadi TKI di Arab Saudi selama sekitar 6 tahun," urainya.

Hanif dalam tulisannya menyebut bahwa dari kisahnya tersebut dapat dipetik hikmah bahwa tak peduli kita ini siapa, dari mana berasal, apapun keyakinan dan agamanya, selama kita percaya pada kerja keras dan kebaikan, maka kita bisa menjadi apapun yg kita mimpikan. "Setidaknya pasti kita bisa bermanfaat untuk orang lain, sekecil apapun. Maha baik Allah dengan segala ketentuan-Nya," tuturnya.

Di akhir tulisannya, Hanif mengatakan bahwa semua awal pasti ada akhir. "Terima kasih tak terhingga kpd Pak Jokowi, Pak JK dan Ketum Umum saya yg luar biasa @cakiminow yg telah memberi kepercayaan dan kehormatan pada saya untuk menjadi anggota Kabinet Kerja 2014-2019. Mohon maaf jika ada salah khilaf dan hal yg kurang berkenan. Doa terbaik saya untuk beliau-beliau, smg selalu sehat, sukses dan senantiasa dlm bimbingan serta lindungan Allah SWT. Jazakumullah ahsanal jaza. Alfaatihah..????????," pungkasnya.
(kri)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak