alexametrics

Gabungan Ormas Kebangsaan Ingatkan Masyarakat Tak Mudah Terprovokasi

loading...
Gabungan Ormas Kebangsaan Ingatkan Masyarakat Tak Mudah Terprovokasi
Gabungan Organisasi Masyarakat Kebangsaan engajak seluruh elemen bangsa untuk tetap bersatu menjaga keamanan nasional demi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Foto/Ilustrasi/SINDOnews
A+ A-
JAKARTA - Gabungan Organisasi Masyarakat Kebangsaan menyampaikan pernyataan sikap terkait situasi kebangsaan beberapa hari terakhir ini.

Mereka mengajak seluruh elemen bangsa untuk tetap bersatu menjaga keamanan nasional demi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Gabungan Organisasi Kebangsaan terdiri atas Ikatan Sarjana Nadhatul Ulama (ISNU), Vox Point Indonesia, Gerakan Kasih Indonesia (Gerkindo), Asosiasi Pendeta Indonesia (API), Cipta Cendekia Indonesia (C2I), Forum Komunikasi Kristiani (FKK) dan Forkom Narwastu.



Ormas-ormas kebangsaan ini menilai kehidupan kebangsaan dan kenegaraan di Indonesia sedang mengalami kemunduran nilai kebangsaan yang tajam.

"Nilai-nilai harmoni, sosial-budaya, kerukunan, dan saling menghormati sesama anak bangsa terus tergerus oleh kepentingan individu, kelompok dan golongan," tulis pernyataan Gabungan Masyarakata Kebangsaan yang diterima SINDOnews, Rabu (2/10/2019).

Menurut mereka, situasi kebangsaan beberapa hari terakhir ini menunjukkan masih adanya polarisasi akibat berbagai kepentingan tertentu. Padahal, sebagai negara demokrasi, semua persoalan dapat diatasi melalui jalur konstitusi.

"Namun, berbagai peristiwa yang terjadi menunjukkan ketidakdewasaan kita dalam menyikapi berbagai persoalan. Masyarakat mudah terpancing informasi yang belum benar kepastiannya. Hal ini tentu saja mengganggu dan mengancam hubungan baik sebagai sesama anak bangsa," tulis Gabungan Organisasi Masyarakat Kebangsaan.

Berikut delapan pernyataan sikap Gabungan Organisasi Masyarakat Kebangsaan:

Pertama
, mengajak seluruh elemen bangsa untuk tidak mudah terprovokasi berbagai informasi yang tidak jelas sumbernya. Masyarakat diminta untuk selektif, dan mencari tahu sumber informasi yang akurat.

Kedua
, meminta masyarakat, pemuda, mahasiswa dan pelajar dalam menyampaikan aspirasinya di negara demokrasi untuk tidak mudah terpengaruh dengan ajakan pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.

Ketiga
, masyarakat diminta tetap menjaga keamanan di lingkungan sekitar. Tetap mewaspadai berbagai situasi yang mencurigakan serta yang mengganggu keamanan dan ketertiban umum.

Keempat
, meminta aparat TNI dan Polri untuk tetap bersatu mengawal seluruh aspirasi masyarakat dan melindungi masyarakat dari berbagai ancaman disintegrasi bangsa. Serta menindak tegas para aktor dan pelaku yang mencoba mengganggu keamanan nasional.

Kelima
, mendukung proses demokrasi sesuai dengan konstitusi yang berlaku.

Keenam
, mengajak seluruh anak bangsa untuk memberikan dukungan kepada TNI dan Polri supaya tegas dan bijak menjaga keamanan dan ketertiban serta dukungan kepada pemerintah agar semua persoalan bangsa dapat diselesaikan dengan cara-cara konstitusi.

Ketujuh
, mengajak semua elemen bangsa membangun dialog dan kerjasama untuk memperkuat jati diri bangsa demi terwujudnya cita-cita bersama sesuai pembukaan UUD 1945.

Terakhir
, mengajak seluruh masyarakat untuk menjaga keamanan menjelang dan sesudah Pelantikan Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia Periode 2019-2024 pada 20 Oktober 2019 mendatang sebagai hasil Pemilihan Presiden yang sah dan demokratis.

Pernyataan sikap ditandatangani Ketua Umum Ikatan Sarjana Nadhatul Ulama (ISNU) Ali Masykur Musa, Ketua Umum Vox Point Indonesia Yohanes Handojo Budhisedjati, Ketua Umum Gerakan Kasih Indonesia Pdt Yerry Tawalujan, Ketua Umum Asosiasi Pendeta Indonesia Pdt Brigjen TNI Purn Harsanto Adi, Ketua Dewan Pembina Cipta Cendekia Indonsia (C21) Uung Dewan Pembina, Ketua Forum Komunikasi Kristiani (FKK) Pdt Didi S Natha, Ketua Forkom Narwastu Marthen Napang.
(dam)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Facebook
  • Disqus
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak