Rapor Merah 1 Dekade Kepemimpinan Jokowi
Sabtu, 17 Agustus 2024 - 08:14 WIB
loading...
Yogie Alwaton. FOTO/DOK.PRIBADI
A
A
A
Yogie Alwaton
Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Telkom
Peneliti Media dan Jurnalisme
"JIKA ingin melihat siapa dia sebenarnya, berilah dia sebuah tahta" (Abraham Lincoln, Presiden Amerika Serikat ke-16).
Dahulu hanya pengusaha mebel, sekarang ia adalah penghuni Istana. Joko Widodo, dengan gaya sederhananya mampu memenangkan pemilihan Wali Kota Surakarta selama dua periode. Tak sampai situ, ia juga sukses menjadi Gubernur DKI Jakarta dari tahun 2012 hingga 2014. Banyak yang menilai Jokowi terkesan sederhana. Namun justru dengan kesederhanaannya itulah, Jokowi mampu menjadi sosok petinggi negeri ini.
Penelitian Ross Tapsell berjudul Indonesia's Media Oligarchy and the Jokowi Phenomenonmenjelaskan bahwa gaya blusukan Jokowi yang dimulai dari Solo hingga Jakarta telah berhasil menjadikannya terlihat sebagai pemimpin yang merakyat. Jokowi bahkan tak sungkan masuk ke gorong-gorong dan gang sempit sekali pun agar dapat dicitrakan sebagai pemimpin yang sederhana.
Dari karakternya itu, Joko Widodo lalu menjelma sebagai pemimpin yang merakyat dan dianggap sebagai antitesa pemimpin yang harus menjaga jarak dengan publiknya.
Latar belakangnya yang kontras dengan lawan politiknya, seperti Prabowo Subianto lantas sukses membawanya untuk menjadi Presiden Republik Indonesia selama dua periode (2014-2019) dan (2019-2024). Sebagai antitesis Prabowo, Jokowi dianggap mampu memberikan jawaban bagi Indonesia yang dibayang-bayangi Orde Baru yang anti-kritik dan otoriter.
Selain itu, Jokowi juga dalam kerjanya mendapat banyak pujian. Dalam hal ekonomi, GDP Indonesia berada pada angka stabil sebesar 5% (2014-2024). Karena itu, soal ini tak berlebihan bila kita sepakat bahwa Presiden Joko Widodo berhasil membangun banyak infrastruktur dan menggaet investor dalam pembangunan. Namun, ambisi dan warisan utama Jokowi dalam bidang itu nyatanya tak selalu berakhir baik.
Ungkapan itu memang relevan ditujukan kepada Jokowi karena pada tahun-tahun kerjanya sebagai pemimpin, Jokowi banyak membuat rapor merah untuk dirinya sendiri.
Setidaknya ada beberapa isu sentral yang menjadikan Jokowi gagal sebagai presiden dalam memimpin Indonesia.
Misalnya saja mengenai isu cipta kerja, pelemahan KPK, pelanggaran HAM, kontroversi pemindahan IKN, hingga dinasti politik pada pemilu 2024.
Namun, penyelesaian undang-undang yang dilakukan secara kilat, banyak merugikan para buruh serta serikat pekerja. Tak hanya itu, dalam keterbukaannya pada publik, omnibus law ini begitu tak transparan dan tidak mendengarkan masukan dari banyak pihak. Upaya protes masif dari publik nyatanya tak didengarkan. Karena tepat satu tahun setelah janji Jokowi itu, UU Ciptaker telah sah diberlakukan oleh DPR.
Upaya kotor ini tak ayal membuat Indeks Persepsi Korupsi Indonesia tahun 2023 mengalami kemunduran.
![Rapor Merah 1 Dekade Kepemimpinan Jokowi]()
Sumber: Databoks, 2024
Indeks Persepsi Korupsi Indonesia pada 2022 tercatat 34 dan berada di peringkat ke-110 dari 180 negara yang disurvei. Skor ini memburuk empat poin dari tahun 2021 yang berada pada skor 38. Sedangkan pada tahun 2023 berada pada angka yang stagnan. Dalam arti lain, Indeks Persepsi Korupsi Indonesia sedang berada pada titik terendah dalam 10 tahun terakhir, sehingga tak ayal bahwa adanya pelemahan unsur lembaga negara KPK akhirnya membuat Indeks Persepsi Korupsi Indonesia mengalami kemunduran.
Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Telkom
Peneliti Media dan Jurnalisme
"JIKA ingin melihat siapa dia sebenarnya, berilah dia sebuah tahta" (Abraham Lincoln, Presiden Amerika Serikat ke-16).
Dahulu hanya pengusaha mebel, sekarang ia adalah penghuni Istana. Joko Widodo, dengan gaya sederhananya mampu memenangkan pemilihan Wali Kota Surakarta selama dua periode. Tak sampai situ, ia juga sukses menjadi Gubernur DKI Jakarta dari tahun 2012 hingga 2014. Banyak yang menilai Jokowi terkesan sederhana. Namun justru dengan kesederhanaannya itulah, Jokowi mampu menjadi sosok petinggi negeri ini.
Penelitian Ross Tapsell berjudul Indonesia's Media Oligarchy and the Jokowi Phenomenonmenjelaskan bahwa gaya blusukan Jokowi yang dimulai dari Solo hingga Jakarta telah berhasil menjadikannya terlihat sebagai pemimpin yang merakyat. Jokowi bahkan tak sungkan masuk ke gorong-gorong dan gang sempit sekali pun agar dapat dicitrakan sebagai pemimpin yang sederhana.
Dari karakternya itu, Joko Widodo lalu menjelma sebagai pemimpin yang merakyat dan dianggap sebagai antitesa pemimpin yang harus menjaga jarak dengan publiknya.
Latar belakangnya yang kontras dengan lawan politiknya, seperti Prabowo Subianto lantas sukses membawanya untuk menjadi Presiden Republik Indonesia selama dua periode (2014-2019) dan (2019-2024). Sebagai antitesis Prabowo, Jokowi dianggap mampu memberikan jawaban bagi Indonesia yang dibayang-bayangi Orde Baru yang anti-kritik dan otoriter.
Bapak Infrastruktur dan Awal Kepemimpinan Jokowi
Kita tak dapat menutup mata bahwa ada prestasi yang berhasil dituai Jokowi pada masa awal kepemimpinannya. Semenjak keterpilihannya sebagai Presiden RI dari 2014 silam hingga saat ini atau 1 (satu) dekade memimpin, Jokowi membawa banyak perubahan, khususnya dalam hal pembangunan dan infrastruktur. Setidaknya, sejak 2014-2023, terdapat pembangunan jalan tol yang panjangnya hingga 1.713,83 km. Hal inilah yang membuat Jokowi banyak disebut-sebut sebagai 'Bapak Infrastruktur'.Selain itu, Jokowi juga dalam kerjanya mendapat banyak pujian. Dalam hal ekonomi, GDP Indonesia berada pada angka stabil sebesar 5% (2014-2024). Karena itu, soal ini tak berlebihan bila kita sepakat bahwa Presiden Joko Widodo berhasil membangun banyak infrastruktur dan menggaet investor dalam pembangunan. Namun, ambisi dan warisan utama Jokowi dalam bidang itu nyatanya tak selalu berakhir baik.
Rapor Merah Kepemimpinan Jokowi
Ungkapan di awal kalimat tulisan ini nampaknya begitu relevan untuk memberikan rapor merah Jokowi dalam memimpin Indonesia 1 dekade ke belakang. Abraham Lincoln (mantan presiden Amerika Serikat) dalam perkataannya pernah menyebut bahwa: "Jika ingin melihat siapa dia sebenarnya, berilah dia sebuah tahta".Ungkapan itu memang relevan ditujukan kepada Jokowi karena pada tahun-tahun kerjanya sebagai pemimpin, Jokowi banyak membuat rapor merah untuk dirinya sendiri.
Setidaknya ada beberapa isu sentral yang menjadikan Jokowi gagal sebagai presiden dalam memimpin Indonesia.
Misalnya saja mengenai isu cipta kerja, pelemahan KPK, pelanggaran HAM, kontroversi pemindahan IKN, hingga dinasti politik pada pemilu 2024.
Cipta Kerja dan Lemahnya Keterbukaan Informasi pada Publik
Undang-Undang Cipta Kerja (Omnibus Law) adalah regulasi yang pertama kali diucapkan Presiden Jokowi dalam pidato pelantikannya pada 20 Oktober 2019 lalu. Saat itu, ia menyebut regulasi di Tanah Air terlalu tumpang tindih, sehingga diperlukannya undang-undang untuk mengatasi persoalan itu.Namun, penyelesaian undang-undang yang dilakukan secara kilat, banyak merugikan para buruh serta serikat pekerja. Tak hanya itu, dalam keterbukaannya pada publik, omnibus law ini begitu tak transparan dan tidak mendengarkan masukan dari banyak pihak. Upaya protes masif dari publik nyatanya tak didengarkan. Karena tepat satu tahun setelah janji Jokowi itu, UU Ciptaker telah sah diberlakukan oleh DPR.
Upaya Pelemahan KPK
Adanya revisi UU KPK pada 2019 juga turut mencederai kinerja Jokowi dalam 1 dekade kepemimpinannya. Alih-alih menguatkan KPK sebagai lembaga negara independen, Jokowi justru melemahkan lembaga itu. Berbagai macam upaya pun akhirnya dilakukan, seperti kasus Novel Baswedan yang mengalami penyiraman air keras hingga upaya revisi terhadap Undang-Undang KPK.Upaya kotor ini tak ayal membuat Indeks Persepsi Korupsi Indonesia tahun 2023 mengalami kemunduran.

Sumber: Databoks, 2024
Indeks Persepsi Korupsi Indonesia pada 2022 tercatat 34 dan berada di peringkat ke-110 dari 180 negara yang disurvei. Skor ini memburuk empat poin dari tahun 2021 yang berada pada skor 38. Sedangkan pada tahun 2023 berada pada angka yang stagnan. Dalam arti lain, Indeks Persepsi Korupsi Indonesia sedang berada pada titik terendah dalam 10 tahun terakhir, sehingga tak ayal bahwa adanya pelemahan unsur lembaga negara KPK akhirnya membuat Indeks Persepsi Korupsi Indonesia mengalami kemunduran.
Masifnya Demonstrasi dan Pasal Karet UU ITE
Banyaknya demonstrasi yang dilakukan publik adalah contoh nyata pula bagaimana Jokowi gagal dalam memimpin dan mengondisikan aparat kepolisian. Berbagai upaya demonstrasi tak sedikit digagalkan dengan cara dan aksi kekerasan.Lihat Juga :