Calon Tunggal di Pilkada Menandakan Napas Demokrasi Tercekik
Minggu, 04 Agustus 2024 - 16:57 WIB
loading...
A
A
A
Amiruddin pun menilai, keberadaan calon tunggal bisa melahirkan pemimpin yang otoriter. "Kenapa otoriter bisa terjadi? Karena dia menjadi orang satu-satunya di wilayah itu yang memiliki otoritas politik, karena tidak ada kompetitornya," ungkapnya.
Amiruddin pun menilai, lahirnya calon tunggal sebagai pemimpin daerah merupakan upaya politik yang dilakukan oleh banyak aktor. Biasanya, kata dia, calon tunggal yang diusung merupakan figur terkuat di daerahnya.
"Nah orang kuat lokal ini biasanya pertahana dalam politik atau orang yang didukung oleh banyak kekuatan politik, untuk menjadi orang kuat di wilayah itu secara baru, untuk singkirkan kompetitornya lain," tuturnya.
"Nah oleh karena itu, itu menunjukan bahwa kualitas politik kita atau kualitas demokrasi kita itu berjalan secara mundur akhirnya," pungkasnya.
Amiruddin pun menilai, lahirnya calon tunggal sebagai pemimpin daerah merupakan upaya politik yang dilakukan oleh banyak aktor. Biasanya, kata dia, calon tunggal yang diusung merupakan figur terkuat di daerahnya.
"Nah orang kuat lokal ini biasanya pertahana dalam politik atau orang yang didukung oleh banyak kekuatan politik, untuk menjadi orang kuat di wilayah itu secara baru, untuk singkirkan kompetitornya lain," tuturnya.
"Nah oleh karena itu, itu menunjukan bahwa kualitas politik kita atau kualitas demokrasi kita itu berjalan secara mundur akhirnya," pungkasnya.
(rca)
Lihat Juga :