Paradoks Dramaturgi’ Jokowi di Panggung Besar IKN
Jum'at, 02 Agustus 2024 - 06:44 WIB
loading...
A
A
A
Padahal bisa sebaliknya, maknanya membawa artis dan influencer itu menunjukkan ada kegagalan-kegagalan target dari proses pembangunan IKN yang ternyata masih banyak masalah yang harus dituntaskan. Secara praksis Jokowi merupakan manifestasi paling ideal untuk menggambarkan bagaimana “dramaturgi” di panggung besar IKN bekerja.
Dramaturgi sebagaimana dikonseptualisasikan oleh Erving Goffman (1959), bahwa realitas sosial dapat dilihat sebagai panggung yang menampilkan drama atau teater. Dalam hal ini, Goffman menilai praktik sosial individu akan menyesuaikan dengan panggung pertunjukannya yang terdiri atas panggung depan (front stage) dan panggung belakang (back stage). Bagian depan itu mencakup setting dan personal front (penampilan diri). Sementara itu, bagian belakang berkaitan dengan the self yakni semua aktivitas tersembunyi untuk melengkapi keberhasilan akting atau penampilan diri yang ada di depan itu.
baca juga: Jokowi Ajak Artis, Influencer, hingga Relawan ke IKN Dinilai Pemborosan Uang Negara
Bisa dikatakan, wilayah depan biasanya adalah wilayah individu bergaya dan formal. Mengapa? Karena mereka sedang memainkan perannya di panggung. Sedangkan wilayah belakang biasanya merujuk pada tempat dan peristiwa yang memungkinkan mempersiapkan perannya di wilayah depan. Jadi, wilayah belakang akan ikut mendukung peran depan apa yang akan dimainkan. Tentu saja, peran depan itu hanya rekayasa semata.
Kita sekarang menganalogikan panggung besar IKN dengan sebuah panggung pertunjukan. Panggung depan biasanya panggung terlembagakan yang mewakili kepentingan kelompok/organisasi. Agar pertunjukan berlangsung dengan baik, seorang aktor perlu mengabaikan kepentingan dan karakter pribadi agar pertunjukan sesuai skenario. Sementara itu, pembuat skenario, tata rias dan tim kreatif lainnya menyiapkan semuanya. Kaum dramaturgis memandang manusia adalah aktor panggung metaforis yang sedang memainkan peran masing-masing.
Dramaturgi di panggung IKN termanifestasikan di dalam diri Jokowi. Dalam panggung depan, Jokowi selalu menampilkan persona sebagai seorang Presiden yang tampil dengan citra positif, merakyat, populis, dan berbicara mengenai urusan negara, seperti kebijakan, pembangunan, dan program. Jokowi bekerja secara fungsional sebagai seorang Presiden untuk menjalankan kerja-kerja pemerintahan secara konstitusional. Jokowi berkoordinasi dengan para menteri maupun mitra pemerintahan untuk mengakselerasi program pemerintah secara masif.
Sementara dalam panggung belakang, Jokowi merupakan seorang politisi yang secara organik bergerak mengamankan “kepentingannya’. Oleh sebab itu, tidak begitu mengherankan Jokowi melakukan negosiasi maupun manuver politik yang memiliki implikasi positif terhadap kepentingannya tadi. Jokowi juga secara simbolik selalu melakukan "endorsement" kepada para public figure dalam hal ini artis dan influencer yang memiliki korelasi terhadap elektabilitas.
Dramaturgi sebagaimana dikonseptualisasikan oleh Erving Goffman (1959), bahwa realitas sosial dapat dilihat sebagai panggung yang menampilkan drama atau teater. Dalam hal ini, Goffman menilai praktik sosial individu akan menyesuaikan dengan panggung pertunjukannya yang terdiri atas panggung depan (front stage) dan panggung belakang (back stage). Bagian depan itu mencakup setting dan personal front (penampilan diri). Sementara itu, bagian belakang berkaitan dengan the self yakni semua aktivitas tersembunyi untuk melengkapi keberhasilan akting atau penampilan diri yang ada di depan itu.
baca juga: Jokowi Ajak Artis, Influencer, hingga Relawan ke IKN Dinilai Pemborosan Uang Negara
Bisa dikatakan, wilayah depan biasanya adalah wilayah individu bergaya dan formal. Mengapa? Karena mereka sedang memainkan perannya di panggung. Sedangkan wilayah belakang biasanya merujuk pada tempat dan peristiwa yang memungkinkan mempersiapkan perannya di wilayah depan. Jadi, wilayah belakang akan ikut mendukung peran depan apa yang akan dimainkan. Tentu saja, peran depan itu hanya rekayasa semata.
Kita sekarang menganalogikan panggung besar IKN dengan sebuah panggung pertunjukan. Panggung depan biasanya panggung terlembagakan yang mewakili kepentingan kelompok/organisasi. Agar pertunjukan berlangsung dengan baik, seorang aktor perlu mengabaikan kepentingan dan karakter pribadi agar pertunjukan sesuai skenario. Sementara itu, pembuat skenario, tata rias dan tim kreatif lainnya menyiapkan semuanya. Kaum dramaturgis memandang manusia adalah aktor panggung metaforis yang sedang memainkan peran masing-masing.
Dramaturgi di panggung IKN termanifestasikan di dalam diri Jokowi. Dalam panggung depan, Jokowi selalu menampilkan persona sebagai seorang Presiden yang tampil dengan citra positif, merakyat, populis, dan berbicara mengenai urusan negara, seperti kebijakan, pembangunan, dan program. Jokowi bekerja secara fungsional sebagai seorang Presiden untuk menjalankan kerja-kerja pemerintahan secara konstitusional. Jokowi berkoordinasi dengan para menteri maupun mitra pemerintahan untuk mengakselerasi program pemerintah secara masif.
Sementara dalam panggung belakang, Jokowi merupakan seorang politisi yang secara organik bergerak mengamankan “kepentingannya’. Oleh sebab itu, tidak begitu mengherankan Jokowi melakukan negosiasi maupun manuver politik yang memiliki implikasi positif terhadap kepentingannya tadi. Jokowi juga secara simbolik selalu melakukan "endorsement" kepada para public figure dalam hal ini artis dan influencer yang memiliki korelasi terhadap elektabilitas.
Lihat Juga :