alexametrics

Komposisi Kabinet Diprediksi 70% Parpol dan 30% Profesional

loading...
Komposisi Kabinet Diprediksi 70% Parpol dan 30% Profesional
Presiden terpilih Joko Widodo (Jokowi) dan Wakilnya, KH Ma'ruf Amin dalam waktu dekat akan menyusun komposisi menteri kabinet untuk periode kedua. Foto/SINDOphoto/Dok
A+ A-
JAKARTA - Presiden terpilih, Jokowi dan Wakilnya, KH Ma'ruf Amin dalam waktu dekat akan menyusun komposisi menteri kabinet untuk periode kedua. Komposisi kabinet akan diisi kader partai politik koalisi dan juga kalangan profesional.

Direktur Eksekutif Lingkar Madani untuk Indonesia (LIMA), Ray Rangkuti menduga, komposisi kabinet berisi minimal 60 persen kader partai dan 40 persen nonparpol atau kalangan profesional.

"Jangan-jangan lebih besar yaitu komposisi kabinet 70 persennya parpol, 30 persennya profesional murni, karena sebetulnya bisa dihitung," kata Ray di Jakarta, Jumat (12/7/2019).



Ray menuturkan, untuk Menteri Keuangan (Menkeu) dan Menteri Pendidikan (Mendikbud) biasanya bukan dari partai. Mendikbud biasanya disiapkan untuk Ormas Muhammadiyah. Karena ada tradisi Mendikbud tak pernah diberikan kepada partai.

(Baca juga: TKN Tanggapi Santai Gugatan Kubu Prabowo ke MA)

Sementara permintaan jatah kabinet yang sempat dimintakan partai 10-11 kursi oleh parpol akan dinilai secara etis parpol koalisi, berdasarkan proporsional raihan suara partai dan kursi di DPR.

Ray menilai, PDIP dan Golkar yang paling kalem dalam 'perburuan' jatah kursi kabinet. Sedangkan, PKB, Nasdem dan PPP dinilai paling ngotot. Menurutnya, PDIP terbilang kalem karena Jokowi sudah pasti diasosiasikan kader partai.

Sehingga kata dia, hal tersebut sudah menjadi hubungan etis yang tak perlu diperdebatkan lagi. "Nah yang lain memang harus struggle, harus tunjukkan ke publik sudah kerja keras. Yang posisinya di bawah mau enggak mau harus teriak-teriak, supaya kelihatan Jokowi," pungkasnya.
(maf)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak