Pesantren dalam Perspektif Teori Enviromentalisme dan Nativisme

Jum'at, 21 Juni 2024 - 15:16 WIB
loading...
A A A
Adanya berbagai bentuk maupun klasifikasi pesantren, apabila berbicara tujuan pendidikan pesantren sesungguhnya sama dengan tujuan pendidikan dalam ajaran Islam, yakni untuk mewujudkan idealitas Islami yang diwujudkan melalui perilaku setiap manusia.(Muzayyin:2005,8). Pada hakikatnya manusia memiliki potensi untuk dapat dididik dan bahkan mendidik (Homo Educandum). Potensi tersebut akan menjadi maksimal ketika terjadinya “pertemuan” yang tepat antara manusia yang dididik dan manusia yang mendidik. Pesantren menjadi tempat dimana pertemuan itu terjadi.(Al Furqan:2015,4). Berbagai karakter anak didik diarahkan untuk mengerti serta menyesuaikan dengan lingkungan yang telah terlebih dahulu dipersiapkan/direkayasa oleh pesantren tersebut.

Dalam menjawab seberapa besar peranan pesantren dalam mendidik anak, menjadi penting jika kita dapat menggabungkan dua sudut pandang yang masing-masing berbeda ke dalam satu spektrum pembahasan. Teori Enviromentalisme (Nurture) dan Nativisme (Nature) sama-sama memiliki argumentasi yang kuat dalam upaya untuk mempertahankan teorinya sehingga dapat terus berkembang dan diterima oleh masyarakat. Bagi anak yang belajar di pesantren, maka kedua teori tersebut akan sangat penting dalam upaya untuk tetap memelihara asa atau bahkan untuk memunculkan asa dalam proses pembelajaran. Asa yang tidak hanya ada di dalam benak setiap anak, namun juga asa yang dimiliki oleh orang tua.

Adanya dua kutub sudut pandang yang bertolak belakang dalam melihat proses pembelajaran seorang anak, tentunya membuat tingkat probabilitas anak dalam mengejar kesuksesannya semakin terbuka lebar. Terbukanya kesempatan untuk menjadi berhasi dapat disebabkan oleh sesuatu yang 'bukan bawaan lahir' atau justru bersumber dari 'bawaan lahir'. Kecerdasan yang didapat sejak lahir merupakan suatu anugerah dari Allah SWT untuk sebagian anak, sesungguhnya tidak melenceng dari teori yang dikemukakan oleh para ahli agama, antara lain Imam Syafi’i yang menyebutkan bahwa syarat mendapatkan ilmu ada 6 hal, yakni kecerdasan, semangat juang, kesungguhan, memiliki modal materi untuk belajar, didampingi guru, dan butuh waktu. (https://mui.or.id/hikmah.) Salah satu syarat mendapatkan ilmu adalah kecerdasan, dimana hal tersebut seringkali diidentikan dengan kecerdasan sejak lahir yang dideteksi melalui mekanisme test IQ (intelegent quotient).

Berdasarkan hal tersebut, maka teori Nativisme mendapatkan tambahan argumentasi tentang bagaimana seorang dapat menjadi berhasil dalam proses pembelajaran. Kelompok Nativisme atau sering juga disebut Nature beranggapan perubahan yang terjadi dalam sebuah lingkungan tidak dapat dipastikan terjadi secara berkesinambungan namun yang terjadi justru sebaliknya. Seorang anak yang semula hanya dapat berpikir konkrit dalam perkembangannya dapat berpikir abstrak . Tidak semua perkembangan kualitatif meupakan wujud dari adanya keberlanjutan dari tahapan sebelumnya karena di dalam perkembangan mungkin saja terjadi percepatan, lompatan atau bahkan kemunduran.

Imanuel Kant menambahkan bahwa setiap anak dilahirkan dalam keadaan yang baik. Kebaikan ini berasal dari dalam diri yang tumbuh dan berkembang secara alami sebagai bagian daripada anugerah Tuhan. Kemampuan berpikir yang selanjutnya diejawantahkan dalam bentuk perilaku keseharian berakar pada kebebasan setiap anak secara otomatis sesuai dengan prinsip moral yang dilandasi atas rasionalitas.(Gardner:1999,10). Noam Chomsky dengan teori Language Acquisition Device (LAD) pun menyatakan bahwa setiap anak memiliki instink yang dimiliki sejak lahir (innate facility).(Van Patten:2010)

Namun begitu, Imam Syafi’i pun dalam teori tersebut menyebutkan ada kondisi-kondisi “rekayasa lingkungan” yang mampu menjadikan seorang anak menjadi cerdas dan sukses dengan bermodalkan ilmu yang dimiliki. “Rekayasa lingkungan” disini dapat dilihat dari factor semangat juang, kesungguhan, modal/materi, pendampingan oleh guru serta dibutuhkannya waktu dalam proses belajar. Dasar yang melandasi argumentasi di atas adalah bahwa dalam konsep pendidikan Islam segala sesuatu yang ada terwujud melalui proses penciptaan (creation ex nihilo) dan tidak terjadi dengan sendirinya. Konsep ini dapat juga dikategorikan sebagai antroporeligiocentris dimana tujuan pendidikan diarahkan kepada pelaksanaan pendidikan. (Thoha:1996,286).

Senada dengan pandangan Imam Syafi’i, tokoh Barat pun seperti John Locke pun berpandangan bahwa setiap individu anak manusia telah dikarunia sifat atau temperamen yang berbeda, dan factor lingkunganlah yang dapat membentuk jiwa individu-individu tersebut yang semula berbeda menjadi relative sama sesuai yang telah direncanakan oleh lembaga pendidikan. (Crain:2007,6).Terlebih lagi, manakala rekayasa lingkungan tersebut diperuntukan bagi anak-anak, maka akan lebih mudah untuk mengarahkannya melalui proses asosiasi, repitisi, imitasi, reward dan punishment.

David Hume dengan teori Bundle of Mind nya menyatakan bahwa pikiran yang dimiliki oleh setiap anak merupakan sekumpulan persepsi yang berbeda dan berevolusi terus menerus (Sobur:2003,94. Sebuah pikiran memiliki ciri yang melekat, yakni adanya kesamaan persepsi, kedekatan pengalaman waktu maupun tempat, keteraturan antar persepsi hingga adanya kenangan. Keberadaan seorang anak di dalam pesantren yang telah dilakukan rekayasa lingkungan sedemikian rupa akan memberikan stimulus terhadap anak (santri pesantren) yang pada akhirnya “bi’ah” (lingkungan) tersebut memunculkan sebuah perilaku refleks. (Skinner:2005,82).

Pada titik akhir dari diskursus perdebatan antara teori Enviromentalisme (Nurture) dengan teori Nativisme (Nature) dalam kaitannya dengan keberhasilan proses pembelajaran anak di lembaga pesantren akan ditentukan secara berimbang proporsional diantara kedua teori tersebut. Akan cukup sulit untuk dinyatakan bahwa teori Enviromentalisme (Nurture) lebih tepat dibandingkan dengan teori Nativisme (Nature) atau sebaliknya. Meskipun demikian, dapatlah dikatakan bahwa factor “Bi’ah” (lingkungan) sangat penting seperti halnya kecerdasan juga sanat penting. Pandangan Islam dan Barat dalam diskurus ini sesungguhnya tidak sampai memunculkan “jurang pemisah” yang tajam diantara kedua pendudkung teori tersebut.

Kesimpulan

Pesantren sebagai lembaga pendidikan yang menampung peserta didik, mulai dari tingkatan usia dini, dasar, menengah, hingga perguruan tinggi, sejak awal didirikan memang telah mempersiapkan sebuah 'Bi’ah' (lingkungan) baru. Lingkungan yang diyakini akan mampu merubah laju proses pembelajaran seorang anak, meskipun secara 'lahiriah' anak tersebut tidak memiliki modal kecerdasan. Meskipun lingkungan berpengaruh, namun tidak dapat dikatakan sebagai faktor tunggal dalam keberhasilan proses pembelajaran. Aspek 'bawaan' lahir berupa kecerdasan otak juga memberikan pengaruh signifikan dalam memperlancar proses pembelajaran. Oleh karenanya, antara teori Enviromentalisme (Nurture) dan Nativisme (Nature) sesungguhnya dapat saling melengkapi dan mendukung proses pembelajaran setiap anak. Pandangan Islam yang diwakili oleh Imam Syafi'i maupun pandangan Barat yang diwakili oleh Locke dan Chomsky sesungguhnya terdapat keterkaitan yang kuat. Kecerdasan otak tanpa adanya lingkungan belajar yang baik tidak akan mendapatkan hasil yang maksimal, begitunpun sebaliknya.

Daftar Pustaka

Al Furqan, 2015. Konsep Pendidikan Islam Pondok Pesantren dan Upaya Pembenahannya, Padang :UNP Press.

Arifin, Muzayyin, 2005. Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara.

Azra, Azyumardi, 1999. Pendidikan Islam, Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium Baru ,Jakarta: Logos.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Pesantren dan AI, Cucun...
Pesantren dan AI, Cucun Tekankan Pentingnya Etika serta Nilai Keagamaan dalam Teknologi
Darunnajah Gelar 4th...
Darunnajah Gelar 4th ICOP Bersama Menteri ATR/BPN, Siap Optimalisasi Wakaf Nasional
PBNU: Segelintir Kasus...
PBNU: Segelintir Kasus Kekerasan Seksual Tak Mewakili Wajah Pesantren
Terbitkan SE Pengendalian...
Terbitkan SE Pengendalian Gratifikasi SPMB, KPK Soroti Calon Siswa Titipan
Mengenal Gareth Morgan:...
Mengenal Gareth Morgan: di Balik Metafora Organisme Pesantren
PBNU: Iduladha 2026...
PBNU: Iduladha 2026 Jadi Pengingat Kemanusiaan di Tengah Dunia yang Terluka
Bertemu PWNU dan PCNU...
Bertemu PWNU dan PCNU se-Bengkulu, Gus Salam: Soliditasnya Bisa Jadi Teladan PBNU
Ratusan Pelajar di Jaktim...
Ratusan Pelajar di Jaktim Ikuti Pelatihan Penguatan Karakter dan Kepemimpinan Inovatif
Teladani KH. Wahab Hasbullah,...
Teladani KH. Wahab Hasbullah, Menag Dorong Pesantren Cetak Generasi Unggul
Rekomendasi
Siap Uji Nyali? Ini...
Siap Uji Nyali? Ini Deretan Rekomendasi Microdrama Horor di V+Short
7 Kisah Para Nabi di...
7 Kisah Para Nabi di Bulan Muharram yang Diabadikan Al Quran
Operasi SAR Ledakan...
Operasi SAR Ledakan Bom Peninggalan Perang Dunia II di Biak Ditutup
Berita Terkini
Konstruksi Perkara Suap...
Konstruksi Perkara Suap Bupati Muara Enim, KPK: Ada Uang Rp500 Juta untuk Jaga Hubungan Baik
RDP di Komisi II, Dirjen...
RDP di Komisi II, Dirjen Bina Adwil Kemendagri Ungkap 5 Kunci Penataan Lahan Pasuruan
Polemik Voters Munas...
Polemik Voters Munas HIPMI Mengemuka: BPD DOB Pertanyakan Dasar Pengurangan Hak Suara
Geledah Kantor Wika,...
Geledah Kantor Wika, Kortas Tipikor Polri Sita Dokumen hingga Barbuk Elektronik
Ajukan JC di Kasus Korupsi...
Ajukan JC di Kasus Korupsi MBG, Eks Waka BGN Sony Sonjaya Sebut 26 Nama di BAP
Tiyo Eks Ketua BEM UGM...
Tiyo Eks Ketua BEM UGM Mengaku Ditawari Miliaran Rupiah dari Lembaga Berbintang, Ini Respons TNI
Infografis
Piala Dunia 2026: Panggung...
Piala Dunia 2026: Panggung Terakhir Messi-Ronaldo dan Lahirnya Era Baru
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved