Di Pilkada Serentak, Artis Masih Laris
loading...
A
A
A
JAKARTA - "Halo, assalamualaikum, saya Evi Masamba, putri Luwu Utara, cocok enggak ya kalau saya mencalonkan sebagai Bupati Luwu Utara, Masamba? Guys, saya tunggu comment kalian ya?"
Pernyataan itu diunggah oleh penyanyi dangdut Evi Masamba pada akun Instagramnya, Jumat (7/8). Juara pertama salah satu ajang pencarian bakat penyanyi dangdut di sebuah stasiun TV itu membuat penggemarnya kaget. Hanya dalam hitungan menit komentar penggemarnya pun mengalir. Sebagian besar menyatakan dukungannya dan menilai Evi layak mencoba masuk dunia politik.
Selain Evi, tidak ada yang tahu persis apakah pernyataan yang diunggahnya itu serius atau sekadar ingin memancing respons para fans. Masih perlu pembuktian apakah dia akan terdaftar sebagai salah satu kontestan pada saat pendaftaran calon dibuka oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) pada September nanti. (Baca: Maju Pilkada Pasuruan, Gus Ipul Terganjal Aturan KPU)
Namun artis atau selebritas yang mengadu peruntungan dengan menerima pinangan partai politik untuk maju di pilkada bukan cerita baru. Sudah puluhan artis yang berkontestasi di pesta politik lokal di daerahnya. Sebagian berhasil, sebagian lainnya tersisih. Beberapa nama yang berhasil antara lain vokalis band Ungu Pasha yang terpilih sebagai wakil wali kota Palu, Sulawesi Tengah, pada 2016. Ada juga Zumi Zola yang terpilih sebagai gubernur Jambi. Nama lain adalah Hengki Kurniawan yang terpilih sebagai wakil bupati Bandung Barat pada 2018.
Pada pilkada kali ini artis kembali meramaikan kontestasi. Sebagian sudah mengantongi rekomendasi partai politik, sebagian masih melakukan komunikasi. Selain Evi Masamba, ada Pasha yang memilih panggung lebih tinggi dengan menjadi bakal calon gubernur di Pilkada Sulawesi Tengah. Selain itu artis lain Dina Lorenza disiapkan maju di Pilkada Bandung. Model cantik dan presenter ini diumumkan oleh Partai Keadilan Sejahtera (PKS) sebagai calon wakil bupati Bandung, mendampingi Gun Gun Gunawan.
Artis lainnya adalah Iyeth Bustami. Palantun tembang legendaris Laksmana Raja di Laut ini sudah mengantongi rekomendasi dari PDI Perjuangan. Iyeth diusung sebagai calon wakil bupati Bengkalis, Riau, mendampingi kader DPD PDI Perjuangan Riau, Kaderismanto. (Baca juga: Perompak Somalia Bajak Kapal Berbendera Panama)
Aktor yang juga presenter kondang Ramzi tak ketinggalan. Pemilik nama Ramzi Geys Thebe ini akan
meramaikan Pilkada Kota Tangerang Selatan. Langkah Ramzi serius. Bersama pasangannya Kemal Pasya, mereka sudah menggelar deklarasi pada 6 Agustus 2020. Hanya belum jelas partai yang akan mengusung pasangan ini. Kemal Pasya-Ramzi bahkan bisa dikatakan terlambat start karena sejauh ini partai politik di Tangsel umumnya sudah menentukan calon yang akan diusung.
Pilkada 2020 juga menjadi ajang peruntungan Syahrul Gunawan. Meskipun dukungan belum final, Partai NasDem disebut-sebut akan mengusung pemeran Gunawan dalam sinetron Pernikahan Dini tersebut sebagai bakal calon wakil bupati Bandung. Nama lain yang juga disebut-sebut akan maju adalah David Chalik. Artis ini akan maju di Pilkada Kota Bukittinggi, Sumatera Barat. David akan diusung sebagai calon wakil wali kota. Partai NasDem dan PAN dikabarkan akan mengusungnya.
Salah satu nama yang belakangan juga santer disebut-sebut akan maju pilkada adalah Ahmad Dhani. Pentolan Dewa 19 ini bahkan sudah ditawari oleh Partai Gerindra untuk maju di Pilkada Kota Surabaya.
Pemilihan artis oleh partai politik untuk diusung di pilkada umumnya karena pertimbangan pragmatis. Artis memiliki popularitas sehingga relatif muda meraup dukungan pemilih. Namun status keartisan bukan jaminan akan terpilih. Beberapa pilkada sebelumnya membuktikan artis yang terpilih adalah mereka yang memiliki nama mentereng atau masuk jajaran papan atas selebritas.
Pengamat politik Hendri Satrio membenarkan hal itu. Menurut dia, terpilih atau tidak seorang artis tergantung kalibernya. (Baca juga: 9 Poin Penting RUU Ciptaker Masih Jadi Perdebatan Tim Buruh-DPR)
“Kalau dia artis masa lalu atau sebaliknya baru sekali dua kali tampil di panggung selebritas lalu jadi calon, pasti sulit. Beda halnya dengan Pasha Ungu dan Hengki Kurniawan sebagai contoh. Keduanya artis yang punya jam terbang panjang jadi bisa mendulang suara,” ujarnya kemarin.
Maju sebagai calon di pilkada hak konstitusional semua warga negara. Namun Hendri prihatin jika artis mencalonkan diri sekadar sebagai ajang coba-coba. Itu berbahaya jika si artis terpilih sebagai pemimpin. Dia berharap jika seorang artis berniat maju di pilkada, yang bersangkutan harus mengerti bahwa dia mesti total mengabdi untuk daerah dan masyarakat.
“Dia harus sudah selesai dengan dunia keartisan dan keselebritasannya. Dengan begitu dia bisa konsentrasi dengan daerah yang dia pimpin,” ujarnya.
Bahkan, bagi seorang artis yang total dan bersedia melupakan dunia keartisannya, dia tidak hanya potensial jadi pendulang suara, tetapi juga bisa jadi pemimpin yang baik saat terpilih.
“Makanya kita ingatkan, kalau mereka belum selesai dengan keartisan dan keselebritasannya, ya jangan masuk arena. Misalnya sudah terpilih tapi masih mau main sinetron, masih bikin album, kasihan rakyatnya,” ujarnya.
Hendri juga menantang artis untuk tidak sekadar dimanfaatkan partai politik sebagai pendulang suara. Artis harus bisa membuktikan bahwa dia memiliki kapasitas dan kompetensi sebagai calon pemimpin. Bukan aji mumpung.
“Mesti punya kehormatan dan harga diri dong, bahwa dia dipilih karena dia memang punya kapasitas dan kemampuan jadi pemimpin yang baik,” tandasnya. (Baca juga: Wamena Papua Kembali Mencekam, 10 Rumah Dibakar dan 4 Warga Terluka)
Partai politik tidak menampik bahwa magnet artis memang jadi andalan untuk mendulang suara di pilkada. Partai Amanat Nasional (PAN) termasuk partai yang identik dengan artis, terutama untuk diusung di pemilihan legislatif. Untuk pilkada mendatang, PAN juga membuka diri untuk selebritas. Mengenai figur Pasha yang akan diusung PAN, Sekretaris Jenderal DPP PAN Eddy Soeparno menjelaskan, partainya tidak lagi melihat sosok Wakil Wali Kota Palu itu sebagai artis, melainkan sudah bertransformasi sebagai politikus. Diakuinya popularitas Pasha memang tinggi karena profesi keartisannya. Label itu sudah telanjur kental dengan diri Pasha dan hal itu tidak bisa disalahkan.
“Memang popularitasnya sebagai artis cukup kuat. Dia magnet yang kuat bagi masyarakat Sulteng sehingga menjadi kandidat yang cukup mampu mendongkrak suara calon gubernurnya,” kata Eddy saat dihubungi kemarin.
Di Pilkada Sulteng Pasha akan berpasangan dengan calon gubernur Anwar Hafid. Mengenai Pasha yang beberapa kali mengundang kontroversi karena tampilannya yang masih bergaya artis, misalnya tampil di depan publik dengan mengikat rambut atau mengecat merah rambutnya, Eddy berharap publik tidak melihat seorang pemimpin hanya dari sisi unik atau kontroversinya. (Lihat videonya: jejak Tradisi Malam 1 Suro dan Suronan di Pesantren)
Menurut Eddy, yang paling penting adalah kepala daerah bersangkutan tidak melakukan pelanggaran terhadap sumpahnya, tidak melakukan penyelewengan, dan benar-benar bisa bekerja. Dia mengklaim Pasha tidak sekadar jual tampang artis. Sebaliknya Pasha disebutnya sebagai contoh artis yang berhasil bertransformasi menjadi kepala daerah yang bekerja untuk masyarakat.
“Pasha orang yang artikulatif dalam berkomunikasi. Dia bisa meyakinkan masyarakat tentang ide dan gagasannya, sudah biasa tampil depan umum, enggak canggung lagi,” ujarnya. (Kiswondari/Bakti)
Pernyataan itu diunggah oleh penyanyi dangdut Evi Masamba pada akun Instagramnya, Jumat (7/8). Juara pertama salah satu ajang pencarian bakat penyanyi dangdut di sebuah stasiun TV itu membuat penggemarnya kaget. Hanya dalam hitungan menit komentar penggemarnya pun mengalir. Sebagian besar menyatakan dukungannya dan menilai Evi layak mencoba masuk dunia politik.
Selain Evi, tidak ada yang tahu persis apakah pernyataan yang diunggahnya itu serius atau sekadar ingin memancing respons para fans. Masih perlu pembuktian apakah dia akan terdaftar sebagai salah satu kontestan pada saat pendaftaran calon dibuka oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) pada September nanti. (Baca: Maju Pilkada Pasuruan, Gus Ipul Terganjal Aturan KPU)
Namun artis atau selebritas yang mengadu peruntungan dengan menerima pinangan partai politik untuk maju di pilkada bukan cerita baru. Sudah puluhan artis yang berkontestasi di pesta politik lokal di daerahnya. Sebagian berhasil, sebagian lainnya tersisih. Beberapa nama yang berhasil antara lain vokalis band Ungu Pasha yang terpilih sebagai wakil wali kota Palu, Sulawesi Tengah, pada 2016. Ada juga Zumi Zola yang terpilih sebagai gubernur Jambi. Nama lain adalah Hengki Kurniawan yang terpilih sebagai wakil bupati Bandung Barat pada 2018.
Pada pilkada kali ini artis kembali meramaikan kontestasi. Sebagian sudah mengantongi rekomendasi partai politik, sebagian masih melakukan komunikasi. Selain Evi Masamba, ada Pasha yang memilih panggung lebih tinggi dengan menjadi bakal calon gubernur di Pilkada Sulawesi Tengah. Selain itu artis lain Dina Lorenza disiapkan maju di Pilkada Bandung. Model cantik dan presenter ini diumumkan oleh Partai Keadilan Sejahtera (PKS) sebagai calon wakil bupati Bandung, mendampingi Gun Gun Gunawan.
Artis lainnya adalah Iyeth Bustami. Palantun tembang legendaris Laksmana Raja di Laut ini sudah mengantongi rekomendasi dari PDI Perjuangan. Iyeth diusung sebagai calon wakil bupati Bengkalis, Riau, mendampingi kader DPD PDI Perjuangan Riau, Kaderismanto. (Baca juga: Perompak Somalia Bajak Kapal Berbendera Panama)
Aktor yang juga presenter kondang Ramzi tak ketinggalan. Pemilik nama Ramzi Geys Thebe ini akan
meramaikan Pilkada Kota Tangerang Selatan. Langkah Ramzi serius. Bersama pasangannya Kemal Pasya, mereka sudah menggelar deklarasi pada 6 Agustus 2020. Hanya belum jelas partai yang akan mengusung pasangan ini. Kemal Pasya-Ramzi bahkan bisa dikatakan terlambat start karena sejauh ini partai politik di Tangsel umumnya sudah menentukan calon yang akan diusung.
Pilkada 2020 juga menjadi ajang peruntungan Syahrul Gunawan. Meskipun dukungan belum final, Partai NasDem disebut-sebut akan mengusung pemeran Gunawan dalam sinetron Pernikahan Dini tersebut sebagai bakal calon wakil bupati Bandung. Nama lain yang juga disebut-sebut akan maju adalah David Chalik. Artis ini akan maju di Pilkada Kota Bukittinggi, Sumatera Barat. David akan diusung sebagai calon wakil wali kota. Partai NasDem dan PAN dikabarkan akan mengusungnya.
Salah satu nama yang belakangan juga santer disebut-sebut akan maju pilkada adalah Ahmad Dhani. Pentolan Dewa 19 ini bahkan sudah ditawari oleh Partai Gerindra untuk maju di Pilkada Kota Surabaya.
Pemilihan artis oleh partai politik untuk diusung di pilkada umumnya karena pertimbangan pragmatis. Artis memiliki popularitas sehingga relatif muda meraup dukungan pemilih. Namun status keartisan bukan jaminan akan terpilih. Beberapa pilkada sebelumnya membuktikan artis yang terpilih adalah mereka yang memiliki nama mentereng atau masuk jajaran papan atas selebritas.
Pengamat politik Hendri Satrio membenarkan hal itu. Menurut dia, terpilih atau tidak seorang artis tergantung kalibernya. (Baca juga: 9 Poin Penting RUU Ciptaker Masih Jadi Perdebatan Tim Buruh-DPR)
“Kalau dia artis masa lalu atau sebaliknya baru sekali dua kali tampil di panggung selebritas lalu jadi calon, pasti sulit. Beda halnya dengan Pasha Ungu dan Hengki Kurniawan sebagai contoh. Keduanya artis yang punya jam terbang panjang jadi bisa mendulang suara,” ujarnya kemarin.
Maju sebagai calon di pilkada hak konstitusional semua warga negara. Namun Hendri prihatin jika artis mencalonkan diri sekadar sebagai ajang coba-coba. Itu berbahaya jika si artis terpilih sebagai pemimpin. Dia berharap jika seorang artis berniat maju di pilkada, yang bersangkutan harus mengerti bahwa dia mesti total mengabdi untuk daerah dan masyarakat.
“Dia harus sudah selesai dengan dunia keartisan dan keselebritasannya. Dengan begitu dia bisa konsentrasi dengan daerah yang dia pimpin,” ujarnya.
Bahkan, bagi seorang artis yang total dan bersedia melupakan dunia keartisannya, dia tidak hanya potensial jadi pendulang suara, tetapi juga bisa jadi pemimpin yang baik saat terpilih.
“Makanya kita ingatkan, kalau mereka belum selesai dengan keartisan dan keselebritasannya, ya jangan masuk arena. Misalnya sudah terpilih tapi masih mau main sinetron, masih bikin album, kasihan rakyatnya,” ujarnya.
Hendri juga menantang artis untuk tidak sekadar dimanfaatkan partai politik sebagai pendulang suara. Artis harus bisa membuktikan bahwa dia memiliki kapasitas dan kompetensi sebagai calon pemimpin. Bukan aji mumpung.
“Mesti punya kehormatan dan harga diri dong, bahwa dia dipilih karena dia memang punya kapasitas dan kemampuan jadi pemimpin yang baik,” tandasnya. (Baca juga: Wamena Papua Kembali Mencekam, 10 Rumah Dibakar dan 4 Warga Terluka)
Partai politik tidak menampik bahwa magnet artis memang jadi andalan untuk mendulang suara di pilkada. Partai Amanat Nasional (PAN) termasuk partai yang identik dengan artis, terutama untuk diusung di pemilihan legislatif. Untuk pilkada mendatang, PAN juga membuka diri untuk selebritas. Mengenai figur Pasha yang akan diusung PAN, Sekretaris Jenderal DPP PAN Eddy Soeparno menjelaskan, partainya tidak lagi melihat sosok Wakil Wali Kota Palu itu sebagai artis, melainkan sudah bertransformasi sebagai politikus. Diakuinya popularitas Pasha memang tinggi karena profesi keartisannya. Label itu sudah telanjur kental dengan diri Pasha dan hal itu tidak bisa disalahkan.
“Memang popularitasnya sebagai artis cukup kuat. Dia magnet yang kuat bagi masyarakat Sulteng sehingga menjadi kandidat yang cukup mampu mendongkrak suara calon gubernurnya,” kata Eddy saat dihubungi kemarin.
Di Pilkada Sulteng Pasha akan berpasangan dengan calon gubernur Anwar Hafid. Mengenai Pasha yang beberapa kali mengundang kontroversi karena tampilannya yang masih bergaya artis, misalnya tampil di depan publik dengan mengikat rambut atau mengecat merah rambutnya, Eddy berharap publik tidak melihat seorang pemimpin hanya dari sisi unik atau kontroversinya. (Lihat videonya: jejak Tradisi Malam 1 Suro dan Suronan di Pesantren)
Menurut Eddy, yang paling penting adalah kepala daerah bersangkutan tidak melakukan pelanggaran terhadap sumpahnya, tidak melakukan penyelewengan, dan benar-benar bisa bekerja. Dia mengklaim Pasha tidak sekadar jual tampang artis. Sebaliknya Pasha disebutnya sebagai contoh artis yang berhasil bertransformasi menjadi kepala daerah yang bekerja untuk masyarakat.
“Pasha orang yang artikulatif dalam berkomunikasi. Dia bisa meyakinkan masyarakat tentang ide dan gagasannya, sudah biasa tampil depan umum, enggak canggung lagi,” ujarnya. (Kiswondari/Bakti)
(ysw)