ICW Sebut Dana Aktivitas Digital Pemerintah Meningkat Sejak 2017
Kamis, 20 Agustus 2020 - 13:23 WIB
loading...
ICW menemukan anggaran pemerintah pusat untuk aktivitas digital sebesar Rp1,29 triliun. FOTO/DOK.SINDOnews
A
A
A
JAKARTA - Penggunaan jasa influencer oleh pemerintah sedang marak dibahas oleh publik. Salah satu yang membuat heboh adalah para selebritis yang memposting dukungan untuk Rancangan Undang-Undang Cipta Kerja (RUU Ciptaker).
Indonesia Corruption Watch (ICW) melakukan penelusuran singkat mengenai anggaran pemerintah pusat untuk promosi di media sosial melalui layanan pengadaan secara elektronik (LPSE). Peneliti ICW Egi Primayogha menilai pemerintah Joko Widodo (Jokowi) sering menggunakan jasa influencer.
Dia mengungkapkan bahwa penggunaan influencer untuk mempromosikan sesuatu atau produk bukan lah hal baru. Dahulu praktik ini banyak dilakukan oleh perusahaan swasta. Kini bergeser, pemerintah pun kerap melakukannya.(Baca juga: Kritik dan Buzzer Politik )
"Satu sisi, tidak masalah. Di sisi lain, informasi yang disampaikan influencer tidak selalu valid, tidak jarang menimbulkan disinformasi," ujarnya dalam diskusi daring dengan tema "Rezim Humas: Berapa Miliar Anggaran Influencer?", Kamis (20/8/2020).
Egi memberikan contoh penggunaan influencer mengenai penanganan COVID-19. Sejumlah selebritis diundang ke Istana, kemudian mereka menyosialisasikan berbagai kebijakan, seperti penggunaan kalung anti COVID-19. Tentu saja, yang terakhir adalah artis-artis yang menyatakan dukungan terhadap Omnibus Law Ciptaker.
Indonesia Corruption Watch (ICW) melakukan penelusuran singkat mengenai anggaran pemerintah pusat untuk promosi di media sosial melalui layanan pengadaan secara elektronik (LPSE). Peneliti ICW Egi Primayogha menilai pemerintah Joko Widodo (Jokowi) sering menggunakan jasa influencer.
Dia mengungkapkan bahwa penggunaan influencer untuk mempromosikan sesuatu atau produk bukan lah hal baru. Dahulu praktik ini banyak dilakukan oleh perusahaan swasta. Kini bergeser, pemerintah pun kerap melakukannya.(Baca juga: Kritik dan Buzzer Politik )
"Satu sisi, tidak masalah. Di sisi lain, informasi yang disampaikan influencer tidak selalu valid, tidak jarang menimbulkan disinformasi," ujarnya dalam diskusi daring dengan tema "Rezim Humas: Berapa Miliar Anggaran Influencer?", Kamis (20/8/2020).
Egi memberikan contoh penggunaan influencer mengenai penanganan COVID-19. Sejumlah selebritis diundang ke Istana, kemudian mereka menyosialisasikan berbagai kebijakan, seperti penggunaan kalung anti COVID-19. Tentu saja, yang terakhir adalah artis-artis yang menyatakan dukungan terhadap Omnibus Law Ciptaker.
Lihat Juga :