Upaya Diplomasi Strategis Indonesia dalam Menghadapi Ancaman Kedaulatan di LCS

Jum'at, 31 Mei 2024 - 13:31 WIB
loading...
A A A
Selain upaya diplomasi, pemerintah Indonesia juga membangun kekuatan batalyon komposit yang dipusatkan di Natuna. Kemudian markas Kogabwilhan, markas gugus tempur laut juga dipindahkan dari Tanjung Pinang ke Natuna. Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) juga melewati Natuna dimana Indonesia memiliki 3 ALKI. Konsep ini penting untuk dipahami karena setelah Deklarasi Juanda, wilayah Indonesia menjadi negara kesatuan. Wilayah yang tadinya terpecah pulau-pulau dengan laut teritori itu menjadi satu kesatuan tetapi tetap harus menyediakan ALKI untuk kapal dagang dan militer internasional untuk bisa melintas secara bebas.

Pembangunan batalyon komposit di Natuna itu mencakup pembangunan kekuatan di Angkatan Darat, Laut dan Udara secara mandiri. Jadi berbeda model organisasi militer yang ada di Natuna dengan tempat lainnya. Misalkan kalau batalyon normal tidak dilengkapi dengan sistem pertahanan udara sedangkan batalyon komposit dilengkapi dengan sistem tersebut. Batalyon Komposit 1/Gardapati di Natuna dilengkapi dengan artileri medan, artileri pertahanan udara, pesawat beserta lintasannya, kemudian dilengkapi dengan sistem pengintaian dan skuadron yang bersifat strategis. Sehingga batalyon komposit tersebut diharapkan bisa mencakup ZEE sejauh 200 nm (Yoedhi Swastanto, 2023).

Sementara itu untuk angkatan laut yang diwakili oleh Mako Guspurla Koarmada I dan Mako Satgas Kompi Komposit Marinir Natuna dibangun fasilitas pelabuhan yang menampung minimal 3 kapal patroli fregate, karena kalau mengandalkan pelabuhan di Tanjung Pinang jaraknya terlalu jauh. Kemudian juga diperkuat dengan infrastruktur militer khusus seperti tiga KRI ukuran besar sekelas Fregat Bung Tomo Class, Korvet Diponegoro Class dan Korvet kelas Parchim TNI AL untuk melakukan patroli di perairan Natuna dan Laut China Selatan (Indomiliter, 2020).

Kemudian untuk angkatan udaranya di Natuna diwakili oleh Skuadron Udara 52, Satradar 212 dan Denhanud 477 Kopasgat. Selanjutnya ditempatkan satu skuadron pesawat temput untuk operasi patroli udara berkemampuan Maritime Strike. Jenis pesawat tempurnya merupakan kelas unggul seperti F-16 C/D Block 52ID dan Sukhoi Su-27/30 milik TNI AU. Mereka bertugas untuk mengamankan wilayah ZEE sejauh 200 nm di Natuna Utara dan Laut China Selatan. Juga disiagakan berbagai macam radar penjejak agar dapat mengetahui jika ada unsur asing yang masuk ke teritori Indonesia tanpa izin bahkan pesawat siluman pun akan terdeteksi jika mencoba melakukan pelanggaran (Kogabwilhan I, 2023).

Melalui pendekatan diplomasi yang aktif, Indonesia berusaha untuk memperkuat posisinya dalam isu Laut China Selatan, sementara kehadiran militer di Natuna menjadi pilar utama dalam menegaskan kedaulatan negara di tengah kompleksitas geopolitik kawasan. Dengan kehadiran batalyon komposit, Indonesia memberikan sinyal kuat kepada pihak-pihak eksternal yang mencoba mengklaim wilayah perairan tersebut. Selain itu, keberadaan batalyon ini juga menjadi simbol komitmen Indonesia dalam menjaga stabilitas dan keamanan di perairan Natuna, yang merupakan bagian integral tidak terpisahkan dari keutuhan dan kedaulatan NKRI.
(kri)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Birokrasi dan Paradoks...
Birokrasi dan Paradoks Belanja Negara
Perang Iran: Dari Bertahan...
Perang Iran: Dari Bertahan Hidup Menjadi Pengatur Kawasan?
Mengapa ‘Ekonomi Solid’,...
Mengapa ‘Ekonomi Solid’, Namun Sosial-Politik Mulai Gelisah?
Islam: Agama yang Paling...
Islam: Agama yang Paling Disalahpahami
Asta Cita dan Reposisi...
Asta Cita dan Reposisi Peran Negara versus Pasar
Kasus dr Tifa dan Roy...
Kasus dr Tifa dan Roy Suryo P-21, Akankah Polemik Ijazah Berakhir di Pengadilan?
Respons Aksi China,...
Respons Aksi China, Jepang Perkuat Pertahanan Sisi Barat Daya
Kapal Perang Belanda...
Kapal Perang Belanda dan China Terlibat Konfrontasi di Laut China Selatan
17.000 Prajurit AS dan...
17.000 Prajurit AS dan Filipina Gelar Latihan Perang Terbesar, China Marah Besar!
Rekomendasi
Piala Dunia 2026, Spanyol...
Piala Dunia 2026, Spanyol Ditahan Imbang Tim Gurem Cape Verde di Babak Pertama
Mau Traveling Keluarga...
Mau Traveling Keluarga Lebih Menyenangkan? Ikuti 5 Tips ala Tika Nurjanah
Begini Cara kerja AirTag...
Begini Cara kerja AirTag dan SmartTag, Pelacak Bluetooth Murah untuk Android dan iPhone
Berita Terkini
Akui Program Pemerintah...
Akui Program Pemerintah Banyak Kekurangan, Wapres Gibran: Kita Perbaiki Bersama
Megawati Tegaskan Prabowo...
Megawati Tegaskan Prabowo Bukan Musuh: Itu Teman Saya
BGN Evaluasi Insentif...
BGN Evaluasi Insentif SPPG Rp6 Juta per Hari
Istana Wapres Sebut...
Istana Wapres Sebut Tidak Ada Kesepakatan soal Tenggat Waktu Realisasikan Tuntutan Mahasiswa
Prabowo Terima Telepon...
Prabowo Terima Telepon Mahmoud Abbas, Tegaskan Indonesia Berdiri Bersama Palestina
BGN Pastikan Anggaran...
BGN Pastikan Anggaran MBG Dikurangi, Ini Alasannya
Infografis
10 Wonderkid Calon Bintang...
10 Wonderkid Calon Bintang di Piala Dunia 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved